Sabtu, 16 Juni 2018

INI BUKAN SOAL TEKNIS HUKUM. INI SOAL MAU APA GAK?

Kasus Chat Seks
Habib Rizieq

Seorang tersangka memang dapat di SP3. Kasusnya bisa dihentikan kalau kurang bukti. Itu kata kata aturan hukum. Sampai disini saya setuju saja, gak ada yang harus diperdebatkan.

Tapi ketika mendengar kasus chat mesum Rizieq di SP3, ada rasa muak yang saya rasakan. Bukan apa-apa. Firza orang yang jadi objek sudah ditetapkan sebagai tersangka juga. Dia melakukan chat mesum dan melepas bajunya untuk lawan chatnya.

Nah, kini lawan chatnya secara hukum gak terbukti. Lalu kita berkesimpulan Firza memang horny sendirian melepaskan bajunya dan foto-foto sendiri. Entah untuk siapa.

Alasan polisi gak bisa menemukan penyebar chat dan foto pprno itu sungguh gak masuk akal sama sekali. Banyak kasus yang menjelaskan kemampuan tim Cyber Polri punya kemampuan seperti itu kalau mereka mau. Persoalannya, mau gak?

Entah apa yang menjadi alasan Polisi sebenarnya.

Jadi sudahlah, Pak Polisi. Gak usah ngomong kasus ini bisa dibuka lagi kalau ada bukti baru. Wong menelisik yang lama saja ada kesan ogah kok, apalagi nanti mau membuka kasus ini lagi. Gak usah basa-basilah.

Akhirnya, dengan SP3 kasus ini, Polisi seperti mencoreng wajahnya sendiri. Ini bisa dianggap sebagai bukti tudingan bahwa memang ada kriminalisasi ulama.

Coba pikirkan. Rizieq sudah dinyatakan tersangka, berkali-kali statemen polisi menjelaskan bukti itu valid, lalu keluar juga daftar DPO. Eh, tetiba kasusnya di-SP3 karena kekurangan bukti. Lha, selama ini mereka mengeluarkan statemen meyakinkan tentang kasus itu buat apa?

Kalau GNPF menuding ada kriminalisasi rasanya wajar. Emang kesan yang ditangkap publik begitu. Mau gimana?

Jadi kita gak perlu memendam kekecewaan dengan berkata bahwa ini murni koridor hukum. Kalau murni koridor hukum, buat apa polisi kemarin mengeluarkan statemen meyakinkan kita bahwa kasus ini valid. Buktinya jelas. Lho, sekarang tetiba berbalik arah.

Publik sekali lagi disuguhi permainan gak menarik. Norak dan koplak.

Yang bisa diingat adalah, hukum di Indonesia terkesan takut dengan tekanan masa. Ini membuat kepercayaan orang pada hukum melorot. Jika kepercayaan masyarakat pada tertib hukum anjlok, gak akan banyak guna juga infrastruktur yang kita bangun.

Lalu apakah dengan kondisi SP3 ini, saya berubah haluan politik? Kayaknya rasionalitas saya masih berkata, saya harus tetap berdiri sebagai pendukung Jokowi. Sampai saat ini belum ada pilihan lain yang lebih baik untuk masa depan bangsa ini. Tapi bukan berarti saya harus melecehkan rasionalitas saya dengan memandang keluarnya SP3 itu semata persoalan teknis hukum.

Bagi saya nuansa keluarnya SP3 Rizieq adalah hasil pergumulan kepentingan yang terjadi di lorong-lorong gelap hukum. Ada banyak sisa pertanyaan yang menggantung.

Begini penilaian saya tentang pemerintahan ini. Pembangunan ekonomi, bagus. Soal pertahanan, ok. Soal politik luar negeri, great. Kebudayaan dan pengembangan SDM, perlu lebih serius.

Tapi soal penegakkan hukum? Hmmm..., gimana kalau dikasih nilai memble? Ini yang perlu terus kita desakkan. Sebab kekuasaan, bagaimanapun, tetap butuh kontrol yang sehat.

"Mbang, setelah dapat SP3, Rizieq bisa dicalonkan jadi Presiden?," tanya Abu Kumkum kepada Bambang Kusnadi.

"Kalau saya lebih mendukung Ariel Peterpan atau Aryo. Tapi mereka emang mau jadi Capres?," jawab Bambang kalem.
Read more

Jumat, 15 Juni 2018

Kekuasaan yang Akrab dan Pertanyaan Lucu Tentang Revolusi Mental

Idul Fitri
Open House di Istana Bogor

Berbaju kaos seadanya, celana pendek dan bersandal jepit. Ada juga yang membawa serta topi capingnya. Mereka berjajar memasuki istana Bogor.

Wajahnya sumringah. Mungkin ini adalah momentum seumur hidupnya. Mereka memang suka melalui istana yang megah itu sambil mengayuh becaknya. Mengantarkan penumpang. Mencari rezeki.

Diperbolehkan masuk ke dalam istana dengan pakaian seadanya, bisa jadi hanya mimpi. Tapi mimpi itu jadi kenyataan sekarang. Serombongan penarik becak, datang dengan pakaian seadanya. Diterima Presiden Jokowi. Mereka bersilaturahmi dengan pemimpinya di hari raya.

"Saya terharu. Ternyata tukang becak seperti saya bisa juga masuk ke istana Presiden," ujar Ending, tukang becak yang biasa mangkal di pasar sekitar Bogor.

Pagi tadi, mereka bersama sekitar 2000 orang lainnya bersalaman dengan Presiden Jokowi, mengucapkan selamat hari raya, menjejekan kaki di istana. "Kami dimanusiakan. Sama dengan tamu lainnya."

"Saya kesini hanya hendak mendoakan Pak Jokowi," ujar rekan lainnya.

Saban tahun Presiden Jokowi memang menggelar open haouse. Tahun lalu open house digelar di istana negara Jakarta. Serombongam pedagang kaki lima dan petugas kebersihan hadir juga dalam acara itu.

Basa-basi dan protokoler berbusana tidak berlaku. Rakyat bisa hadir dengan wajahnya yang asli. Diterima sebagai manusia, sebagaimana layaknya seorang tamu. Bersama ibu negara, Presiden Jokowi menyalami mereka satu per satu.

Ini bukan kali pertama. Ketika pernikahan Gibran di Solo, Presiden juga menerima para tukang becak di atas pelaminan. Mereka datang bercelama pendek dan handuk kecil masih melingkar di leher. Menyalami Presiden, ibu negara dan kedua mempelai.

Jokowi menyambutnya dengan akrab. Sebab mereka adalah para tukang becak yang sering mangkal di sekitar rumah pribadinya di Solo. Mungkin saja diantara mereka adalah saksi hidup begaimana Gibran, Kahiyang dan Kaesang tumbuh.

Ketika mereka hadir sebagai tamu undangan diacara pernikahan anak seorang Presiden, berbaur dengan para elit undangan lainnya, tidak ada beda. Semua adalah tamu. Dan tuan rumah yang baik wajib memperlakukn tamu dengan baik.

Di jaman Jokowi, kekuasaan menjadi begitu akrab dan dekat. Presiden bukan lagi posisi setengah dewa. Dia hadir di tengah rakyat. Dia tampil dalam dengus kehidupan rakyat.

Sebelum lebaran, Jokowi sempat mengunjungi rumah kontrakan Gibran dan keluarganya di sekitar Sunter, Jakarta. Rumah itu biasa saja. Jalan di depannya hanya bisa dilalui satu mobil.

Gibran tampaknya ingin dikenal bukan sebagai anak seorang Presiden negeri besar ini. Dia hanya seorang pedagang martabak, yang mencari nafkah untuk keluarganya.

Jikapun untuk keluarganya juga demi usaha di Jakarta dia harus mengontrak rumah, terus masalahnya apa? Inilah yang baru bisa dicapai oleh seorang pedagang martabak. Ya, rumah kontrakan seorang pedagang martabak. Bukan istana mewah seorang anak Presiden.

Mungkin revolusi mental memang sedang dibangun Jokowi. Dimulai dari keluarganya. Di mulai dari anak-anaknya. Dan itu ditampilkan dengan jelas ke hadapan publik. Sebuah kisah anak seorang Presiden yang harus berjuang menghidupi kekuarganya sendiri.

Beberapa tahun lalu kita juga mendengar putri Jokowi, yang bercita-cita jadi pegawai negeri di Pemda Solo, ternyata tidak lolos seleksi. Meski anak seorang Presiden, ketika tesnya tidak mencapai hasil memuaskan, Kahiyang Ayu harus merelakan mengubur mimpinya jadi PNS.

Seperti juga Gibran, ketika tes CPNS, Kahiyang bertindak seperti layaknya ribuan pelamar lain. Dia tidak menempatkan diri sebagai putri seorang Presiden.

Bagi Jokowi, revolusi mental dimulai dari lingkaran paling dekat.

Tapi mungkin berbeda di mata seorang anak muda lain yang baru melek politik. Dia berpidato mempertanyakan revolusi mental. Dia mengkritik makna revolusi mental yang pernah dicanangkan Presiden Jokowi.

Padahal anak muda mantan Mayor itu, bisa berdiri disitu, karena bapaknya. Bukan karena prestasinya sendiri. Dia berpidato digagah-gagahkan --mungkin sambil melirik telepromter-- juga karena dia anak seorang ketua umum Parpol yang mantan Presiden.

Ketika dia bertanya soal revolusi mental, sejatinya dia sedang bercerita tentang posisi dirinya sendiri.

"Jokowi itu seperti saya, mas," ujar Abu Kumkum.

"Kok, bisa kang?"

"Iya, aku juga gak akan membantu kalau anakku jualan minyak telon oplosan seperti bapaknya. Itu KKN."

"Lha, emangnya kamu berharap anakmu nanti jadi apa?"

"Jadi Capres ajalah, mas. Meskipun saya tahu, jadi Cagub aja belum tentu kepilih."
Read more

Kamis, 14 Juni 2018

TUAN RUMAH TERKEJAM DIHARI LEBARAN

Idul Fitri
Kue

*)Kisah hikmah lebaran, pernah diceritakan oleh Bambang Kusnadi ketika bertamu ke rumah Abu Kumkum tahun lalu.

Saya tahu, teman saya adalah tuan rumah yang kejam. Tapi lebaran kali ini, saya tetap harus mendatanginya. Seberapa kejamkah dia, hingga saya tidak mau berlebaran?

Saya rasa sekejam apapun dia sebagai tuan rumah, saya tidak punya alasan untuk memutus silaturahmi.

Jadi pagi ini, di hari raya yang agak mendung, saya telah duduk di ruang tamunya. Setelah berbasa-basi, saya melirik kaleng Khong Guan di atas meja. Saya membayangkan sebentar lagi menggigit biskuit dengan kismis di dalamnya. Ini salah satu jenis yang paling saya suka.

Ternyata kekejaman tuan rumah belum berubah. Saat saya membuka kaleng biskuit, saya hanya menenukan rengginang warna merah jambu. Keras dan kasar. Ini jenis penipuan klasik saat lebaran. Mungkin nasi aking untuk membuat rengginang kurang lama dijemurnya, hingga alot digigit. Butuh setengah jam untuk menghabiskan sepotong rengginang.

Meskipun dia adalah tuan rumah yang kejam, tapi saya adalah tamu yang beradab. Tidak mungkin saya campakkan rengginang alot itu di depan mukanya. Itu sungguh tidak sopan.

Obrolan kami terus dilanjutkan. Mata saya tertumpu pada toples nastar. Bentuknya bulat terbuat dari plastik transparan. Isinya kelihatan masih penuh. Saya tertarik dengan irisan keju kecil di ujungnya.

Pelan-pelan tangan saya meraih toples kecil itu. Tanpaknya masih baru. Mungkin karena saya tamu pertama yang datang ke rumahnya pada lebaran ini. Tapi saya kesulitan membuka tutupnya. Sepanjang obrolan saya sibuk mencari ujung selotip yang merekatkan tutup toples itu. Sial. Saya menghabiskan 30 menit berbasa-basi dengan jari tangan terus memutari tutup toples, Hasil akhirnya nihil. Entah di mana ujung solatip itu berada.

Sudahlah. Nastar memang belum rezeki saya, pikirku. Bagaimana jika kacang atau kolang kaling? Hmmm, boleh juga. Tapi kacangnya juga berada di toples yang sama dengan nastar. Masih penuh isinya. Saya trauma dan tidak berani lagi mencari ujung solatipnya. Trauma itu telah meninggalkan bekas sangat dalam pada diri saya.

Mungkin hanya manisan kolang-kaling rezeki saya. Penutupnya pasti gampang dibuka, sebab ini adalah toples beling. Tidak mungkin ada solatip mengitari tutupnya.

Seetttt, saya beraksi. Merengkuh toples kolang kaling dengan sekali gerakan. Alhamdulillah, benar saja. Buka menutupnya memang gampang.

Tapi, busyet dah. Rupanya tuan rumah yang kejam ini tidak menyiapkan piring kecil beserta sendoknya. Lalu bagaimana caranya saya makan manisan kolang kaling, yang licin dan lengket itu? Apakah saya harus mencomot sebiji lalu memasukannya langsung ke mulut? Ah, itu sangat tidak sopan.

Tapi apakah saya harus pulang dengan tangan hampa? Hanya para pecundang saja yang menyerah sebelum bertempur, pikirku. Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk. Saling bersahutan. Lalu berbagai rencana mulai disusun di kepala saya. Tapi untuk menjalankannya saya butuh situasi yang kondusif.

Untung saja ada tamu lain yang mampir ke rumahnya. Sepertinya tamu itu cuma sekadar mengucapkan selamat lebaran, berbasa-basi sebentar, lalu berharap dosanya dihapus seperti tulisan dibubuhi tip-ex.

Saya melihat teman saya, sebagai tuan rumah beranjak untuk menyambut tamunya yang baru. Juga penuh dengan basa-basi. Senyum yang kering sambil menampilkan keramahan palsu. "Yuk, mampir. Dicobain dulu ini kuenya," ujar teman saya. Suaranya dilembut-lembutkan. Tamunya, seperti biasa, tahu itu cuma tawaran basa-basi, juga membalas dengan basa-basi.

Tapi obrolan singkat yang basi itu adalah momentum bagi saya yang harus dimanfaatkan dengan baik.

Buru-buru tangan saya masuk ke toples manisan kolang-kaling. Saya mencomot satu buah. lengket dan licin, seperti mencomot lintah berlendir. Begitu saya angkat kolang-kaling yang licin itu malah melompat keluar. Melejit dari genggaman tangan, jatuh ke lantai. Menggeletak dekat kaki tuan rumah yang kejam itu.

Untung saja dia tidak memperhatikan kolang-kaling yang lompat seperti Lele. Saya rasa saat itu dia masih sibuk berbasa-basi dengan tamu barunya.

Kakinya bergerak sedikit. Saya mulai khawatir, ketika langkahnya mendekati biji kolang kaling di lantai meramik itu. Ah, benar saja. Dia menginjak kolang-kaling yang licin, lalu --gubrak! Saat tubuhnya oleng sebelah tanganya meraih taplak meja. Segelas kopi ikut tumpah menyiram baju koko barunya yang berwarna putih bersih.

Semua berteriak histeris. Saya memlilih lompat, ketimbang ikut tersiram kopi. Saya menikmati adegan gubrak itu. Hanya saja sebagai tamu yang baik saya menahan tawa saya untuk nanti. Ketika teman itu belepotan kopi, dan baju koko barunya penuh percak hitam, saya menyempatkan diri mengambil gambar dengan kamera ponsel. "Ini pemandangan paling indah di saat hari raya," pikir saya.

Dia lalu beranjak ke belakang, tampaknya ingin membersihkan diri dan berganti baju. Setelah dia keluar kembali, saya buru-buru pamit pulang. Sebetulnya dia menahan saya, tapi seperti biasa, saya beralasan harus ke rumah famili lain. Jadi dia tidak mungkin menahan saya terus di ruang tamunya.

Ketika berpamitan, dia memeluk saya sangat erat. Saya pikir dia merasa berat melepaskan sahabat lamanya ini. Kami memang jarang bertemu. Mungkin hanya setahun sekali saja. Itupun kalau saya tidak malas mengunjunginya.

Tapi rupanya bukan itu. Dalam pelukan eratnya dia berbisik. "Aku tahu kamu sengaja menjatuhkan kolang-kaling ke dekat kakiku," katanya. Pelukannya tambah erat.

"Kamu juga sengaja menambah solatip di toples nastarmu. Sampai berlapis-lapis," jawabku tidak mau kalah. Lalu dia melepaskan pelukannya. Memandang wajahku dalam-dalam.

"Kamu tidak berubah," katanya lagi. Kali ini wajahnya serius.

"Kamu juga tidak berubah. Lebaran tahun lalu, semurmu cuma berisi lengkuas. Aku makan ketupat hanya dengan kuah semur sambil menghisap-hisap lengkuas. Aku masih ingat itu," balasku.

"Tapi tahun lalu aku menyediakan permen karet untuk suguhan lebaran," dia seperti membanggakan diri.

"Iya. Kamu juga menyajikan tepung gula. Kalau permen karet sudah gak manis, kamu mempersilahkan tamumu mencocolnya dengan tepung gula, agar manis lagi. Lalu meminta mereka mengunyahnya kembali. Begitu terus berulang-ulang. Mulut kami terus mengunyah, gak sempat makan kue yang lain," balasku.

"Aku berusaha jadi tuan rumah yang baik meski harus mengorbankan baju baruku."

"Siapa bilang. Kamu adalah tuan rumah yang kejam."

Lantas kami saling berpandangan. Dalam sekali.

Lalu kami tertawa. Tertawa sangat keras di hari yang fitri itu. Karena hidup begitu menyedihkan, kami ingin tertawa-tawa saja sepuasnya.
Read more

MENJELANG LEBARAN DI RUMAH ABU KUMKUM


Mudik
Kampung Halaman
Dia ingat pernah membaca sebuah nasihat. "Kesalahan terbesarmu adalah kepada dirimu sendiri. Minta maaflah kepadanya. Semoga dia mau memaafkanmu."

Lalu dia menuliskan sebuah kartu pos.

"Aku lupa ini lebaran ke berapa yang kita lalui. Seingatku, sepanjang waktu itu aku tidak permah meminta maaf padamu. Padahal akulah yang sering mengajakmu berbuat kesalahan. Aku membetotmu dalam kegelapan. Kamu sering menasehatiku, tapi kerap kali aku abaikan. Maafkan aku. Maafkan lahirku, maafkan bathinku."

Lalu dia menuliskan nama dan alamatnya sendiri di kartu pos. Menempeli dengan prangko, mengantarkannya ke kantor pos.

Beberapa hari kemudian, dia dapati kartu pos itu tergeletak di ruang tamu. Ia membaca nama pengirimnya, dan tersenyum mendapati namanya sendiri di sana.

"Kamu egois. Kenapa hanya mengirim kartu lebaran untuk dirimu sendiri? Kenapa kamu gak kirimkan juga untukku?," tetiba dia mendengar suara protes dari istrinya.

"Iya, papa egois. Aku juga gak dikirimi kartu lebaran," ujar anaknya yang paling besar.

Ia tersenyum menghadapi protes itu. Dia tahu, kenapa ia enggan mengirimkan kartu lebaran buat istri dan anaknya. Ia juga enggan berbasa-basi mengirimkan permohonan maaf lahir bathin via WA, SMS atau membuat status di media sosial.

"Aku sebetulnya tidak mau jadi orang yang selalu berfikir suudzon," bisiknya pada diri sendiri. "Jika aku minta maaf kepada mereka, artinya aku mengira bahwa mereka gak akan memaafkanku sebelum diminta. Padahal aku yakin mereka semua sudah memaafkanku, tanpa harus aku memintanya."

Sikap seperti itu tidak bisa diterapkan kepada istrinya. Meskipun dia harus tetap bersangka baik bahwa perempuan itu sudah memaafkan meskipun dia tidak memintanya, seorang perempuan tetap membutuhkan basa-basi. Mereka selalu haus dengan kata-kata, walaupun mereka tahu pasti, di jaman medaos ini kata-kata sudah kehabisan energi untuk mensimbolkan kenyataan.

Dia memang harus menuliskan sesuatu untuk istrinya. Diambilnya secarik kertas, dan ia mulai menulis.

"Ketika tangan tidak bisa menjabat. Ketika kaki tidak bisa melangkah. Ketika mulut tidak mampu berucap. Ketika telinga tidak bisa mendengar. Ketika mata tidak bisa memejam. Aku sampaikan melalui surat ini, ucapan tulus dari lubuk hati yang paling dalam. Selamat merayakan Idul Fitri. Mohon maaf lahir bathin."

Lalu dilipatkan kertas itu. Dimasukkan ke dalam amplop warna putih.

"Ma....," teriaknya memanggil istrinya.

"Iya, kenapa? Aku lagi masak. Nanggung, nih," balas suara dari arah dapur.

Dia menghampiri asal suara jawaban itu. Mendekati perempuan yang sedang berhadapan dengan rendang di kuali. Lalu diserahkan amplop tersebut.

"Taruh di meja dulu. Tanganku kotor," kata istrinya. Dia meletakkannya di meja makan sesuai dengan insruksi.

Setelah itu dia duduk menghadap televisi. Siaran suasana mudik ramai diberitakan. Lalu linta ramai lancar. Para pemudik menyusuri jalan tol yang relatif lancar.

"Tahun ini papa gak mudik?," tanya anaknya.

"Kayaknya gak. Kamu mudik?," balasnya.

"Gak juga. Aku lebih suka lebaran di Sragen sini ketimbang mudik ke Jakarta," jawab anaknya lagi.

"Katanya kamu suka Pondok Indah Mall? Itu cuma ada di kampungmu, Jakarta. Di Sragen gak ada yang seperti ini."

"Gak apa-apa. Tahun ini gak usah ke PIM. Masa setiap mudik, acaranya ke PIM doang. Aku lebaran disini aja. Kalau papa mudiknya kemana?"

Ketika ditanya seperti itu, dia tercenung. Selama ini memang dia mudik. Bahkan hampir setiap tahun, tapi gak pernah kepikiran dia harus mudik kemana. Pertanyaan anaknya itu menohon ulu hatinya. Kemanakah dia mudik selama ini?

"Hmm, aku rasa ke Jakarta juga. Sama seperti kamu," jawab papanya.

"Kok bisa sama, sih, pa?"

"Mungkin karena ini keluarga. Makanya alamat mudikmya sama."

Lalu anaknya yang paling kecil, usia enam tahun, ikut bertanya. "Pa, Habib Rizieq lebaran tahun ini mudik ke Petamburan, gak?"

Papanya kaget. Anak usia enam tahun kok, bisa-bisanya bertanya seperti itu. "Kamu kok, nanyanya begitu. Kamu tahu dari mana soal itu," tanya papanya pemasaran.

"Aku followernya om Eko Kuntadhi, pa. Aku sering baca statusnya," jawab anaknya lagi. "Om Eko juga sering nulis nama papa di statusnya. Papa Abu Kumkum kan?"

Mendengar jawaban anaknya itu, dunia mendadak menjadi gelap. Dia pusing. Hatinya menjerit. "Ya, Allah, amak sekecil itu berkelahi dengan waktu...," jeritnya dalam hati. Dia tahu, jeritan itu gak ada hubungannya dengan situasinya sekarang. Dia cuma hendak nersenandung.

"Jadi selama ini kamu tahu nama asli papa? Abu Kumkum?"

Anaknya mengangguk. Matanya yang bulat menatapnya. Menatap lelaki yang sedang gelisah itu. Lalu dia menarik papanya, bermaksud mendekatkan bibirnya ke telinga papanya. "Jangan khawatir, pa. Aku gak akan bocorkan rahasia ini ke mama. Sampai sekarang, mama gak pernah aku kasih tahu, kok."

Alhamdulillah, bisik Abu Kumkum, lega. Lalu diapun mencomot sebji nastar dicaplokan ke mulutnya.

"Lho, papa gak puasa?"

Mendengar pertanyaan itu, Abu Kumkum tersedak. Nafasnya sesak. Sebuah nastar melintang di kerongkongannya. Untung saja anaknya sigap. Ditepuk-tepuk bahu papanya sampai nastar itu muncrat keluar.

"Maafkan aku, ya pa. Aku sudah bikin papa teesedak. Minal aidin wal faidzin, pa. Mohon maaf lahir dan bathin."

"Sama-sama, nak..."

Kemudian bapak dan anak itu saling berpelukan. Erat sekali.
Read more

SERUAN KASIH SAYANG DI TENGAH SENGKETA

Yahya Staquf
Gus Yahya Staquf

Siapakah contoh pemimpin yang dijadikan pujaan para kader PKS? Recep Tayeb Erdogan!

Bagaimana hubungan Erdogan dengan Israel? Boleh dibilang sangat mesra. Turki dan Israel sejak lama membangun hubungan diplomatik. Tentu banyak kerjasama diantara dua negara ini baik dari sisi perdagangan, politik dan kemiliteran.

Tapi bagi PKS, Erdogan tetaplah pemimpin pujaan mewakili umat Islam dunia. Peduli setan dengan kemesraan Erdogan dengan Israel.

Sambil memuja Erdogan, mereka kini mencaci maki kunjungan Kyai Yahya Tsaquf ke Israel. Padahal tujuan kehadiran Gus Yahya memberikan ceramah tentang perdamaian. Semua setuju, pembicaraan tentang perdamaian memang cocok disampaikan ke tengah-tengah bangsa yang sibuk berperang. Gus Yahya menyerukan itu, atas nama Islam yang rahmatan lil alamin.

Tapi ceramah tentang perdamaian di Israel tampaknya lebih nista dibanding bekerjasama secara erat dengan negara tersebut. Jadilah Gus Yahya diserang karena memberikan kuliah di Israel, dan Erdogan tetap dipuja karena bekerjasama dengan Israel.

Itulah cara berfikir paling menakjubkan. "Yang mikir seperti itu, pasti orang PKS, kan mas?," ujar Abu Kumkum.

Ada lagi yang membingungkan. Wakil ketua DPR Fadli Zon, merongsong tentang kedatangan seorang Gus Yahya ke Israel. Fadli menuduh Gus Yahya tidak etis datang ke Israel. Bahkan ada cuitan Fadli yang akhirnya membuat warga NU marah. Sebab kesannya memang merendahkan Gus Yahya.

Cuitan ini direspon oleh Nuruzaman, kader Ansor yang selama ini aktif di Gerindra mengundurkan diri dan menyatakan bersiap melawan Gerindra.

Afiliasi ideologis Nuruzaman memang beda dengan Fadli. Sebagai kader NU, Nuruzaman menempatkan kyai sebagai panutan yang harus dihormati. Itulah sikap santri. Makanya ketika kyai-nya direndahkan oleh Fadli, Nuruzaman ngamuk. Dia lebih baik kehilangan posisi di Gerindra ketimbang harus bergabung dengan orang yang menghina guru-nya.

Fadli menyerang seorang kyai yang sangat dihormati di kalangan Nahdiyin. Serangan Fadli bukan hanya menyentil Kyai Yahya Tsaquf dan Nurzaman, tetapi juga menyentil seluruh kader NU. Fadli mengusik sebuah organisasi besar.

Padahal sebagai pejabat negara, Fadli pernah petantang petenteng menghadiri kampanye Trump di AS. Berfoto-foto layaknya cheerleader. Kalau mau bicara etika, tindakan itu justru lebih tidak beretika. Seorang pejabat publik memberi dukungan politik pada salah satu capres di luar negeri.

Sedangkan kehadiran Kyai Yahya Staquf ke Isreal sebagai pembawa pesan damai. Pembawa imbauan kesejukan. Dia hadir sebagai seorang Kyai, tokoh agama, dari sebuah negara muslim terbesar di dunia.

Kyai Yahya Tsaquf memainkan perannya sebagai seorang ulama, sebagai guru, hadir sebagai seruan moral. Orang yang kemana-mana menyerukan perdaiaman. Di hadapan publik Israel dia menawarkan sebuah makna tentang Rahmatan lil alamin. Di hadapan bangsa yang sedang menindas bangsa lain dia menyuarakan tentang makna kemanusiaan.

Dia tahu, kedatangannya akan dijadikan sasaran serangan. Dia mengerti, ada sebagian orang yang mengartikan bantuan untuk Palestina hanya bisa dilakukan dengan jalan perang. Jalan kekerasan. Jalan permusuhan. Jalan berdarah-darah. Maka orang yang menawarkan jalan damai akan diartikan sebagai musuh.

Bisakah di tengah jalan keras dan terjal itu, ada suara yang menyerukan tentang kelembutan dan damai? Ada suara yang menyerukan saling pengertian dan berhenti membenci. Ada suara soal rahmah? Harusnya bisa. Dan amat bisa.

Kyai Yahya Staquf sedang menyuarakan itu. Atas nama pribadinya. Sebagai warga NU. Sebagai warga Indonesia. Sebagai warga dunia yang capek dengan jerit tangis dan peluru di Palestina.

"Saya disini berdiri untuk Palestina," ujarnya mantap.

Sebab Palestina tidak hanya butuh orang-orang sok jago yang hanya pandai berteriak perang. Konflik Palestina dan Israel juga membutuhkan kotbah kemanusiaan dan kasih sayang baik untuk dirinya maupun untuk musuhnya.

Perang hanya satu cara. Ada banyak cara lain untuk menyelesaikan masalah. Bagi seorang kyai seperti Yahya Tsaquf, perjuangan bisa dilakukan dengan cara yang lebih adem. Cara yang menghargai peebedaan dan mendahukukan kasih sayang.

Jika semua orang hanya sibuk menyerukan perang, bagaimana nasib Palestina yang gak punya apa-apa berhadapan dengan Israel yang memiliki segalanya? Keuntungan apa yang didapatkan rakyat Palestina?

Tapi sudahlah. Di Indonesia isu Palestina memang seksi diperdagangkan. Makanya dijadikan senjata menyerang lawan politik. Bahkan berceramah tentang kasih sayang di Israel saja dianggap jadi musuh.

Isu Palestina dan Israel juga seksi, untuk mereka yang sok heroik bahwa memperjuangkan hak rakyat Palestina hanya pantas dilakukan dengan senjata dan kekerasan. Seolah cuma itu jalan satu-satunya.

Bagi orang sejenis ini, seruan moral kyai Yahya Tsaquf di Israel akan dianggap sejenis penghianatan. Dan tanpa bermoral mereka mencaci maki orang yang sedang bergerak membawa misi perdamaian dan kemanusiaan tersebut.

Padahal perjuangan sebuah bangsa tidak cukup hanya dengan satu jalan. Indonesia dulu punya Dipenegoro dan Jenderal Sudirman. Mereka berjuang angkat senjata. Tetapi juga punya Sutan Syahrir dan Hatta, pejuang di meja diplomasi.

Keduanya saling melengkapi.
Read more

Selasa, 12 Juni 2018

Pelajaran Akhlak dari Amien Rais

Politik
Amien Rais

Di mata Amien Rais, Jokowi itu gak ada bagus-bagusnya sedikitpun. Ketika pemerintah membagikan jutaan sertifikat tanah secara gratis kepada rakyat, Amien menuding itu adalah pengibulan. Entah apa maksudnya. Padahal jutaan rakyat memang mendapatkan sertifikat tanah secara gratis.

Saat pemerintah berusaha menarik investor asing untuk membuka usahanya di Indonesia, Amien menuduh Jokowi menjual negara ke tangan aseng dan asing. Padahal sejak jaman rekiplik, semua Presiden juga berlomba menarik investor untuk berinvestasi. Negeri yang tanpa investasi asing, gak akan bangkit ekonominya.

Tapi Amien, pasti bukan orang bodoh yang tidak memahami arti investasi asing untuk pembangunan ekonomi. Hanya saja, dia merasa penting untuk menuding Jokowi secara jorok. Kebenciannya seperti sudah melampauai batas.

Ketika Jokowi pada setiap kesempatan menjalin hubungan mesra dengan kyai, ulama dan kalangan pesantren di seluruh Indonesia. Amien Rais dengan nyinyir menuding Jokowi anti Islam.

Ada lagi yang lebih kejam. Amien menuding di jaman Jokowi justru ada kebangkitan PKI. Entah dari mana datanya, pokoknya gara-gara Jokowi, PKI bangkit di Indonesia. Tentu, Amien tidak pernah tahu dimana para anggota PKI yang dituduhkan itu. Tujuannya hanya untuk menstigma Jokowi dekat dengan PKI.

Ini jelas sebuah tuduhan yang sangat keji.

Jokowi sendiri pernah membantah secara berseloroh. "PKI itu bubar tahun 1965. Saya lahir pada 1961. jadi waktu PKI bubar, saya masih Balita. Masa ada anggota PKI yang Balita?," candanya.

Terakhir, Amien bahkan membawa-bawa Tuhan untuk melawan Jokowi. Katanya jika Jokowi tidak lengser pada 2019 nanti, Tuhan akan malu sebab tidak mengabulkan doa untuk ganti Presiden.

Di mata Amien Rais, Jokowi yang sekarang Presiden Indonesia dengan segala prestasinya, hanya tampak buruk, rendah, jahat dan gak bisa apa-apa. Bahkan Amien yakin Tuhan berpihak kepada dirinya untuk menjatuhkan Jokowi.

Kita hampir tidak pernah dengar kata-kata positif yang keluar dari mulut Amien mengenai Jokowi. Semuanya negatif, kasar dan banal. Kebenciannya pada Jokowi sudah menembus level 9.

Bahkan dengan kesombongannya, dia meminta Jokowi sowan ke rumahnya. Jokowi yang seorang Presiden, diminta sowan ke rumah Amien Rais.

Kini Amien Rais mendeklarasikan dirinya mau maju menjadi Calon Presiden. Mungkin saja sekadar manuver. Atau juga sebuah langkah serius. Kita gak tahu.

Apa tanggapan Jokowi? Oh, Presiden Jokowi rupanya tidak terlatih bersikap sinis seperti Amien Rais. Jiwa dan akhlaknya jauh lebih membanggakan ketimbang kekerdilan omongan Amien.

"Saya kira itu sangat bagus. Kita tahu beliau seorang tokoh politik yang tidak diragukan lagi pengalamannya, senioritas beliau dalam kancah politik nasional juga tidak diragukan lagi," ujar Jokowi memuji Amien Rais.

"Kapabilitas serta leadership beliau juga saya kira enggak ada yang meragukannya. Rakyat gak meragukan itu. Ini akan memberikan banyak alternatif pilihan untuk rakyat."

Apa yang bisa kita tangkap dari fenomena ini? Pelajaran ahlak seperti apa yang bisa kita petik dari kedua tokoh bangsa ini?

Kekejian dan tudingan buruk Amien kepada Jokowi, justru dibalas dengan pujian. Kata-kata buruk dan memuakkan dari Amien kepada Jokowi, ditanggapi dengan kata-kata sanjungan yang manis.

Jokowi seperti ingin menunjukan, kebencian orang kepadanya, tidak cukup menjadi alasan untuk dia berbuat buruk kepada orang tersebut.

Bicara soal niat Amien maju sebagai Capres, saya jadi ingat Abu Kumkum yang dulu sangat nge-fans sama Amien Rais.

"Mas, dalam hidupku ada yang membuat saya menyesal, ada juga yang bikin saya bersyukur," katanya suatu ketika.

"Yang bikin akang menyesal apaan?"

"Saya menyesal pernah mencoblos Amien Rais sebagai Capres," jawab Abu Kumkum.

"Terus, yang kang Kumkum paling syukuri, apaan?"

"Saya bersyukur dia gak kepilih..."
Read more

Senin, 11 Juni 2018

IBU DARI PKS, YA?

Lebaran
Pasar

Ini kisah seorang teman yang hidupnya berbeda dengan orang lainnya. Menjelang lebaran ini, istri teman saya ke pasar bermaksud berbelanja bahan makanan. Dia masuk ke los tukang daging.

"Daging sekilo berapa, pak?"

"Ibu simpatisan PKS, ya?"

"Iya..."

"Ohhh, sekilonya Rp 200 ribu, bu."

"Mahal sekali!," katanya sambil memaki. Ibu itu tidak tahu, tukang daging menjual kepada pelanggan lain hanya Rp 100 atau paling mahal Rp 110 ribu sekilo. Itu juga karena mau lebaran. Biasanya malah hanya Rp 90 ribuan sekilo.

Ketika tahu harga daging di luar jangkauannya, dia akhirnya memilih membeli telur.

"Telur sekilo berapa, pak?"

"Lagi naik, nih, bu. Sekarang Rp 35 ribu."

"Kok, mahal sih pak?"

"Iya, ibu dari PKS, kan?," tanya tukang telur.

Entah kenapa, barusan tukang telur itu menjual dengan harga Rp 22 ribu sekilo. Harganya justru sedang turun. Seminggu lalu harga telur masih Rp 25 ribu sekilo.

Dia heran, ketika membeli bawang, cabai, beras, para pedagang di pasar itu selalu bertanya. "Ibu dari PKS, ya?"

Ohh, rupanya ada semacam kesepakatan para pedagang di pasar, jika yang belanja orang PKS memang harganya dibuat lebih mahal dari pembeli lainnya. Bukan apa-apa. Jikapun diberi harga aslinya, nanti di media sosial, mereka tetap saja akan ngomong bahwa harga-harga naik gila-gilaan. Padahal realnya biasa-biasa aja.

Coba lihat inflasi atau kenaikan harga rata-rata di pasaran menjelang lebaran kali ini. Angkanya hanya 0,21%. Ini adalah angka terendah dibanding inflasi pada periode tahun lalu. Cabai merah, bawang putih dan cabai rawit yang biasanya melonjak karena ibu-ibu membeli lebih banyak untuk membuat sayur ketupat dan sambel goreng ati di rumahnya, justru kini malah stagnan.

Begitu juga dengan beras. Waktu impor yang pas dan galaknya Kabulog Budi Waseso menghantam mafia yang berani menimbun beras, membuat harganya anteng seperti bayi dalam pelukan Lucinta Luna.

Proses pengendalian inflasi memang dilakukan dengan sangat serius. Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, BUMN bahkan kepolisian dikerahkan untuk menjaga gejolak harga.

Ibu itu pulang dari pasar dengan menyimpan gondok. Dia menstarter motornya, melaju di jalanan. Masuk ke SPBU hendak mengisi bensin.

"Isi Premium, pak?"

"Ibu dari PKS, ya?"

"Iya."

Mendengar jawaban itu, orang yang antri si belakang ibu hendak mengisi Premium tetiba pada melipir. Mereka pura-pura bubar dari antrian. Lantas, petugas SPBU ini menjawab. "Wah, Premium habis bu. Itu tadi terakhir kami menjual Premium sebelum ibu. Kalau mau isi Pertamax aja, bu."

Setelah si ibu berlalu. Mereka yang antri membeli Premium berbaris lagi seperti semula. "Iya, percuma kita bilang stok Premium di Jawa, Bali, Madura dan berbagai pulau utama masih memadai. Soalnya nanti juga di media sosial dia akan teriak, Premium gak ada. Langka. Padahal banyak, tuh," ujar petugas SPBU.

"Maklum, pak. Namanya juga orang PKS," celetuk salah satu pelanggan. Mereka tertawa bersama.

Sesampai di rumah, seperti biasa dia langsung update status. "Ini pemerintahan gila. Harga meroket mencekik leher. Premium langka. Lebih baik dulu, meskipun ada korupsi daging sapi, tapi harganya hanya Rp 195 ribu sekilo. Gak sampai Rp 200 ribu."

Waktunya pulang kampung. Ibu dan keluarganya memilih angkutan bus. Ketika melewati jalan tol yang baru diresmikan, ibu itu bertanya kepada orang di sebelahnya. "Jalan ini bagus. Ini yang memprakarsai pembuatannya siapa, ya pak?"

"Ibu dari PKS, ya?," tanya orang itu.

Setelah si ibu menganguk, orang itu menjawab, "Ohh, jalan ini yang membangun rakyat bu. Gak tahu dari mana mereka iseng-iseng bergotong royong membangun jalan ini. Mereka membangun begitu saja, pakai uang mereka sendiri. Hebat kan, bu?"

Makanya dia langsung marah-marah ketika di gerbal tol, petugas meminta pembayaran. "Hei, ngapain kamu minta bayaran. Ini jalanan rakyat. Dibaangun oleh rakyat, kenapa harus bayar?!," hardiknya melalui jendela.

Rupanya si supir tahu ibu itu dari PKS. Dia mencoba menenangkan. "Gak bayar kok, bu. Kita cuma diminta menempelkan kartu ini," ujar supirnya kalem, sambil menunjukan kartu e-Tol kepada si ibu.

"Ohh, saya kira harus bayar, pak. Kalau dipaksa bayar, kasih tahu saya pak. Biar saya maki-maki mereka. Pemerintahan apaan ini, masa lewat jalan tol harus bayar?"

Membaca kisah ini, saya jadi tahu kenapa ada sebagian orang yang status di media sosialnya berbeda dengan kenyataan.

Di kampung, ibu itu bertemu Abu Kumkum yang kebetulan sekampung dengannya. "Maaf, mas. Mas ini Abu Kumkum, ya?"

"Ibu sekarang jadi simpatisan PKS, ya?," Abu Kumkum balik bertanya.

"Iya..."

"Ohh, maaf, bu. Ibu salah orang.
Saya bukan Abu Kumkum. Saya Reza Haradian, kebetulan lagi shooting disini..."


Read more

THE GREAT MIGRATIONS

Lebaran
Mudik

Menyaksikan tayangan National Geographic, saya selalu takjub dengan liputan The Great Migrations. Acara ini mengisahkan sebuah perpindahan besar-besaran sekawanan hewan dalam jarak tempuh yang jauh. Jutaan Rusa Afrika (Wildebeest), misalnya, bermigrasi dari wilayah padang rumput Tanzania menuju Kenya, setiap tahun di bulan Maret.

Di belantara Afrika, ketika rusa-rusa itu berjalan beriringan, ratusan predator siap menunggu. Di darat, mereka bertemu sekawanan singa, heyna atau srigala. Ketika menyeberang sungai, buaya siap menanti santapan. Ribuan peserta migrasi akhirnya mati memenuhi logika ekosistem demi menjalani ritual kehidupan yang dasyat itu.

Kisah migrasi yang tidak kalah seru adalah ikan salmon. Ratusan ribu salmon berenang melawan arus untuk bertelur di air tawar. Dalam tayangan, kita saksikan, ikan-ikan itu seperti mampu memanjat air. Jarak tempuh perjalanannya bisa mencapai ratusan kilometer.

Saat melewati sungai yang dangkal, sekawanan beruang biasanya menunggu daging lezat ini. Juga burung elang. Termasuk para nelayan. Migrasi salmon membawa rezeki buat alam. Dari ratusan ribu salmon yang berikhtiar memperpanjang tali kehidupan, tidak sedikit yang akhirnya terkubur di perut Beruang, Elang, atau berakhir di meja makan jadi sashimi.

Dengan kata lain, untuk sebuah ritual kehidupan, taruhannya adalah nyawa. Tapi, hukum alam telah mengatur. Mungkin dari sanalah sebuah lingkar kecil ekosistem tercipta. Tuhan memang maha adil.

Di stasiun TV nasional, saya juga menyaksikan kisah migrasi yang lain. Setiap menjelang lebaran, jutaan manusia Indonesia serempak melakukan perjalanan bersama (mudik). Jika Rusa dan Salmon melakukan migrasi untuk alasan-alasan yang sifatnya biologis -- mencari padang rumput baru atau air tawar untuk bertelur-- alasan migrasi ala manusia ini mungkin lebih bersifat spiritual.

Dengan mudik, manusia melakukan perjalanan sejarah. Mereka mencoba menyatukan kembali hidupnya dengan masa lalu. Tentu saja kompleksitas mudik, tidak sesederhana migrasi kawanan Rusa Afrika atau Salmon.

Mudik adalah perjalanan jutaan anak manusia, menempuh ratusan kilometer, untuk berkumpul dengan sanak famili. Merindui tanah kelahiran. Mempertautkan kembali silaturahmi. Atau apapun alasan non-material lainnya.

Tapi berita tentang prosesi mudik juga membawa duka buat saya. Jika melihat data 2010 terjadi 2.382 kali kecelakaan yang memakan korban jiwa 632 orang. Sedangkan pada 2011 jumlah orang yang meninggal saat mudik mencapai 587 orang.

Untung saja jumlah korban ini terus menyusut. Pada 2015 jumlah korban jiwa akibat kecelakan saat mudik menjadi 328 dan 244 korban pada tahun 2016. Dengan kondisi jalan yang lebih baik, semoga jumlah korban jiwa terus menurun.

Menyaksikan angka-angka itu, saya tentu sedih. Saya membayangkan prosesi mudik yang penuh resiko, seperti juga proses migrasi rusa Afrika atau ikan Salmon. Tapi mudik adalah salah satu ritual kehidupan manusia Indonesia.

Mudik seperti panggilan alam, yang dapat men-charge kembali bathin kita dari kesumpekan. Yang mempertautkan hidup dengan sejarah. Yang mengajak kita kembali ke akar promordial. Semua sadar resikonya, tapi panggilan alam memang sukar dilawan.

Kita berharap semakin hari kita menjadi semakin cerdas. Mudik adalah ritual yang sudah puluhan tahun terjadi. Tentu pemerintah, kepolisian, dan para pemudik bisa terus belajar dari tahun ke tahun. Sebab, kali ini yang melakukan migrasi besar-ebsaran adalah manusia. Mahluk yang terus belajar dari masa lalu.

Sudah pasti, bisa diciptakan sebuah manajemen perjalanan yang lebih baik. Para pemudikpun, bisa belajar menghargai kehidupan. Bisa belajar mentaati sistem demi keselatamannya. Belajar untuk tidak mengambil resiko tragis.

Tapi kini mudik bukan hanya soal perjalanan menuju kampung halaman. Kini mudik juga dihiasai dengan pertanyaan : jika lewat tol bayar apa gak?

Orang normal pasti menyiapkan pembayaran begitu memasuki gerbang pintu tol. Dimana-mana juga begitu. Sementara pemudik abnormal berharap tol gratis. "Ini jalanan rakyat. Kenapa harus bayar?," kata seorang tukang cendol.

"Cendol juga milik Allah, tapi lu tetap saja minta duit sama pembeli," jawab penjaga pintu tol.

Ya Allah, jagalah saudara-saudara kami, para pemudik dalam perjalanannya. Jauhkanlah mereka dari mara bahaya. Sehatkan badannya dan cerahkanlah bathinnya. Limpahkanlah kebaikan kepada mereka semua.

Jika ada spanduk politik yang mengganggu konsentrasi perjalanan, cuekin saja. Gak usah membunyikan klakson tiga kali : neno, neno, neno!

Percayalah, kini sudah gak musim lagi pepatah lama --alon-alon asal klakson! Sebab jalan-jalan sudah mulus. Ngengggg...
Read more

MALING SELENDANG

Cerita
Ilustrasi Bidadari

Menjelang lebaran begini setiap kali istriku menanak nasi, dia selalu mengingatkan saya untuk tidak membuka tutup rice cooker. Awalnya hal itu saya tanggapi biasa saja. Tetapi ketika hal itu terus menerus diucapkan setiap kali memasak timbul rasa penasaran juga.

Rahasia apa sih, yang disembunyikan di dalam rice cooker?

Saya jadi ingat kisah Jaka Tarub yang beristrikan bidadari. Mulanya Jaka Tarub mencuri selendang bidadari yang sedang mandi di sungai. Tanpa selendang sakti, sang bidadari tidak bisa pulang ke khayangan. Akhirnya bidadari nyasar itu disunting Jaka Tarub sebagai istrinya. Anaknya sudah empat.

Nah, setiap kali istri Jaka Tarub menanak nasi dia melarang suaminya membuka tutup panci. Tapi, dasar lelaki maling selendang, Jaka Tarub rupanya ngeyel. Diam-diam, dia membuka tutup panci saat sang istri sedang menanak nasi.

Betapa kagetnya dia ketika didapati hanya sebutir beras yang ditanak. Padahal selama ini, dia makan dengan cukup. Badannya tambah gempal. Anak-anak juga gak kurang gizi, tumbuh subur dan lucu.

“Pantas saja beras di pendaringannya tidak pernah menyusut,” pikirnya. "Ah, namanya juga bidadari nyasar," bathinyya lagi.

Namun sejak kejadian itu kesaktian seperti sirna. Istrinya tidak bisa lagi menanak sebutir beras untuk makan mereka sekeluarga. Jumlah beras yang dimasak kini sama seperti orang lain.

Lama-lama persediaan beras mereka menyusut. Diakhir kisah, sang istri menemukan selendang yang dulu disembunyikan Jaka Tarub di bawah tumpukan padi. Dengan selendang itu istrinya meninggalkan lelaki tambeng itu sendirian. Kembali ke alamnya sebagai bidadari.

Tentu saya bukan Jaka Tarub yang hobi ngintip bidadari mandi. Tapi larangan istriku itu membuat rasa penasaran saya sama seperti yang dirasakan Jaka.

Dengan perasaan deg-degan, saya membuka tutup rice cooker. Sreet... Wow, saya terperangah. Ternyata selama ini istriku hanya menanak sebutir beras untuk makan kami sekeluarga. Pantas saja dia gak pernah meminta uang untuk membeli beras.

Tapi saya tidak pernah menyembunyikan selendang di dasar tempat beras. Saya juga tidak berkenalan dengan istriku di pinggir sungai sehabis dia mandi. Hanya saja setelah kejadian itu ada rasa gelisah yang terus menerus datang. Namun saya menahan diri dan tidak membicarakannya.

Sore hari saya lihat istriku seperti sibuk mencari-cari sesuatu di almari. "Kamu lihat selendangku yang warna pink, nggak? Aku cari kemana-mana, kok nggak ada. Besok mau aku pakai buat sholat ied, tuh..."

Lalu kepalaku seperti berputar. Keliyengan...
Read more