Senin, 13 Agustus 2018

Kisah Perjalanan ke Papua (1): Sebuah Distrik Bernama Puldama

Papua
Puldama Papua

Pesawat certeran jenis Caravan berkapasitas 9 penumpang yang saya tumpangi mendarat agak terguncang. Sejak tadi ketika menembus langit Papua, di dalam pesawat ini saya merasa mirip naik kora-kora. Melayang di antara gunung dan lembah. Dengan hutan lebat di bawahnya.
Sebelum mendarat, saya sudah melihat dari atas sebuah landasan berumput. Posisinya pas di tengah lembah, diapit oleh pegunungan dengan hutan tropis Papua yang masih perawan.

Puldama sendiri terletak di pegunungan tengah Papua. Di sebelah barat Puldama, ada pegunungan Oksibil yang berjajar dengan lekukan-lekukan ekstrim. Jika dilihat dari atas pesawat, jajaran pegunungan hanya menampakkan kesan hijau, senyap, misterius dam gelap. Susah kita membayangkan ada kehidupan di bawah sana.

Kemarin sebuah pesawat dengan jenis yang sama seperti yang saya tumpangi sempat terjerembab di pegunungan Oksibil, dengan hampir seluruh penumpangnya tewas. Informasi tentang itu sendiri kami dapatkan terlambat.
Maklum. Di tengah pegunungan ini, tidak ada akses komunikasi sama sekali. Hanya ada sebuah radio komunikasi milik gereja untuk menyambungkan informasi ke dunia luar. Dari sanalah kami mendapat sedikit informasi tentang kecelakaan Pesawat tersebut pas di hari yang sama kami terbang. Informasi itu sempat juga membuat ciut hati. Tapi mau gimana lagi, hanya pesawat kecil itulah yang menjadi satu-satunya alternatif transportasi.

Puldama termasuk dalam administrasi Kabupaten Yahukimo. Hanya saja untuk mencapai kota Kabupaten di Dekai, satu-satunya transportasi adalah pesawat kecil itu. Tidak ada jalan darat yang bisa dilalui kendaraan.
Sebagian penduduk, jika ada keperluan ke kota, biasa menghabiskan waktu 2 minggu sampai satu bulan berjalan kaki menembus hutan. Atau mereka bisa menunggu pesawat kecil yang membawa para penginjil, yang biasa mengunjungi desanya dua minggu sampai sebulan sekali. Satu orang harus membayar tiket Rp1,3 juta sekali jalan. Tidak termasuk barang bawaan.

Pesawat hanya bisa mendarat disini di bawah jam 12.00. Jika menjelang sore cuaca sering berubah tiba-tiba. Kabut tebal menyergap dan hujan tetiba turun. Kondisi cuaca dan medan pegunungan inilah yang sering menjadi penyebab kecelakaan pesawat.

Landasan pesawat itu sekaligus menjadi pusat distrik Puldama. Ada delapan desa yang berada dalam distrik ini yang setiap desanya berjarak 2 sampai 6 jam berjalan kaki melalui jalan setapak di tengah hutan. Bahkan ada satu desa di distrik Puldama yang hanya bisa diakses via pesawat, karena dipisahkan oleh medan yang sangat berat.
Ketika mendarat saya menyaksikan ratusan warga berkumpul di sekitar landasan. Mereka memperhatikan kedatangan kami dengan tatapan heran. Beberapa penduduk menyambut kami dengan mengalungkan tas noken yang terbuat dari akar kayu. Tampaknya yang menyambut kami adalah kepala distrik dan beberapa stafnya. Sementara masyarakat sekitar hanya menatap saja di sekeliling.

"Mereka sangat jarang bertemu orang asing. Jadi seperti ketakutan," ujar Yacobus, seorang staf distrik kepada saya. Benar saja. Saat saya mencoba mendekati, mereka langsung lari menjauh. Tapi ketika kami bergerak, mereka mengikuti dari belakang.

Kami bergerak menuju gereja kecil yang dijadikan tempat kami berkumpul. Gereja itu adalah satu dari beberapa bangunan yang menggunakan atap seng. Sementara sebagian besar penduduk tinggal di Honai, rumah berbentuk lingkaran beratap jerami.

Waktu menunjukan pukul 10 pagi, WIT saat kami mendarat. Tapi panas matahari terasa menyengat menimpa kulit dengan hembusan angin dingin yang menusuk tulang. Sebuah paduan cuaca yang luar biasa.

Setela seluruh barang diturunkan, kami istirahat sejenak. Menjelang tengah hari perut kami mulai terasa keroncongan, maklum di Jayapura tadi tidak sempat sarapan karena pagi-pagi buta harus bergerak ke bandara. Rupanya atas perintah kepala distrik sebagian penduduk telah menyiapkan dapur umum. Jadi ada sedikit hidangan makam siang.

Dari baskom-baskom sederhana itu ada potongan keladi dan ubi bakar. Di sebelahnya ada baskom berisi potongan ayam yang diolah dengan berbagai bumbu khas. Dengan itulah kami mengisi perut.

Untuk keladi dan ubi, tidak ada masalah. Tapi begitu mencicipi ayam, saya mencium aroma bumbu yang agak aneh. Seperti bau minyak gosok bercampur bau ruangan yang sudah lama tidak ditempati. Saya gak tahu jenis bumbu apa yang digunakan untuk mengolah masakan. Yang pasti aromanya tidak terlalu cocok dengan hidung saya. Jika dipaksakan perut saya mungkin akan berontak.

Tapi karena perut lapar, akhirnya saya paksakan juga untuk makan. Ayam yang telah dibumbui itu saya cuci dengan air mineral. Lumayan. Setidaknya saya masih bisa menelan dengan sedikit menahan nafas.
Ah, untung saja tim membawa bahan makanan yang cukup. Mie instan, kornet atau ikan sarden tampaknya akan menjadi menu malam nanti. Juga nasi. Untuk pertama ini saya menikmati saja keladi dan ubi bakar dengan ayam yang berbumbu dengan aroma menyengat itu.

Agak sore, saya berjalan ke arah belakang mendekati tenda dapur. Saya melihat beberapa ibu-ibu sedang sibuk. Tampaknya hendak mengolah bahan makanan yang kami serahkan untuk makan malam.

Di dekat dapur saya melihat seorang lelaki membawa dua ekor ayam. Tampaknya ayam-ayam inilah yang akan diolah untuk hidangan kami malam nanti. Di bawah pohon, lelaki itu memegang ayam. Tangan yang satu menggenggam bagian leher sedangkan nadan ayam dikempit dengan kedua kakinya.

Lalu, krek! Lelaki itu memuntir begitu saja kepala ayam sampai putus. Kepala ayam langsung dilempar ke api. Sementara badannya yang masih bergerak dikempit dengan kedua kaki sampai berhenti bergerak. Rupanya begitulah cara mereka menyembelih ayam. Tanpa pisau.

Ah, tampaknya daging ayam tadi siang akan menjadi ayam terakhir yang bisa masuk ke perut saya. Tapi biarlah informasi ini saya simpan sendiri. Saya tidak memberitahu teman lainnya.

Baiklah. Selain tragedi ayam, saya yakin masih banyak keindahan yang bisa saya dapatkan di wilayah terpencil ini.
Read more

Rabu, 08 Agustus 2018

PASANGAN ISLAMI: ALMUKAROM PRABOWO - ALUSTAD AHY

Politik
AHY

Jika saya jadi Prabowo, sekarang ini saya gak peduli dengan keributan yang dibuat PKS dan GNPF. Mereka boleh saja menekan dengan dengan mengumbar isu agama untuk memaksakan kehendaknya, tapi Prabowo sudah punya jagoan yang layak dipertimbangkian.

SBY sudah tepat menyodorkan AHY sebagai pendamping Prabowo. Hanya mungkin, GNPF selama ini terbuai matanya cuma melihat nilai keislaman seseorang dari tampilan luarnya saja.

PKS misalnya, memang punya jagoan Salim Segaf Aljufri, ketua Dewan Syuro PKS yang juga bekas Dubes Saudi Arabia. Yang mau dijual PKS tentu soal atribut keagamaan Salim Segaf.

Selain keturunan Arab, pernah jadi Dubes di Arab, Salim Segaf juga kini posisinya sebagai ketua Dewan Syuro PKS. Jadi kurang islami apalagi?

Tapi, saya rasa ilmu keislaman Salim Segaf masih gak sebanding dengan AHY. AHY memang tidak dididik dalam pendidikan agama secara khusus. Tetapi dari sisi keilmuan agama, kayaknya Salim Segaf perlu cium tangan jika menghadapi AHY. Salim boleh keturunan Arab, sedangkan AHY keturunan SBY. Jelas beda.

Tentu saja, AHY bukan orang yang suka penantang-petenteng menampilkan keshalehannya seperti rata-rata orang PKS. Orang PKS boleh pelihara jenggot dan jidat hitam, tapi AHY gak butuh simbol-simbol keagamaan seperti itu. Hanya orang yang baru berdekat-dekat dengan Tuhan saja yang membutuhkan simbol.

Bagi AHY, beragama tidak harus dengan berbaju koko atau berkopiah putih. Sebab beragama adalah soal kualitas, bukan soal penampilan semata. Lihatlah stelan bajunya yang modis. Atau ikat pinggangnya bermerk LV. Itu semua juga bisa jadi gambaran seorang muslim yang taat.

Bagaimana dengan Somad? Aduh, kok ngebandingin dengan Somad. Somad sih, baru sebatas cuap-cuap soal agama. Baru sebatas kata-kata. Kelasnya sama dengan Anies, cuma kata-kata saja.

Jika dibandingkan dengan AHY, belum ada seujung kukunya. Dari sisi keislaman, bagi saya AHY jauh di atas Somad. Bedanya karena memang profesi Somad sebagai penceramah, hingga dia keliatan orang lebih menonjol. Padahal sih, gak begitu.

Kekalahan AHY dibanding Somad hanya dari sisi bentuk wajah. Orang bisa menelaah potongan keduanya mulai dari belahan rambut, susunan gigi, bentuk bibir sampai potongan tubuh. Mungkin sampai meneropong bentuk tengkoraknya. Akan terlihat Somad lebih alami dilihat dibanding AHY. Singkatnya AHY terlalu mboys, jika mau jadi Cawapres. Sementara Somad terlihat natural.

Jadi kalau mau cari Cawapres yang agamis, salah besar kalau Prabowo memilih Salim Segaf atau Somad. Pilihan yang pas adalah AHY. Dia mewakili citra islam yang mboys. Dijamin ukhti-ukhti PKS akan melongo melihat tampilan ikhwan dari Demokrat ini.

Kalau saya jadi Prabowo, ngapain pusing-pusing mikirin PKS, dan PAN. Mereka cuma sebatas jualan agama sebagai simbol. Sebagai tampilan. Ujung-ujungnya cuma minta jabatan. Sementara AHY tidak menjual simbol dan tampilan agama. Dia cukup menjual bapaknya. Plus kecukupan modal untuk kampanye.

Apalagi Prabowo harus dipusingkan dengan ulah GNPF. Wong dia juga tahu, acara Ijtima Ulama itu kan cuma akal-akalan saja. Cuma sandiwara saja agar seolah-olah bisa mengelabui umat Islam. Sesungguhnya itu cuma langkah politik. Tidak lebih.

Buat apa dipikrin.

Jadi pasangan Almukarom Prabowo dan Alustad Agus Harimurti Yudhoyono saya rasa adalah pasangan yang mewakili nilai relegius yang cukup. Pasangan agamis yang bukan dilihat dari penampilan luarnya saja.

"Tapi kata Eggi Sudjana, Prabowo perlu belajar ngaji dulu, mas," tanya Bambang Kusnadi.

"Kalau cuma Alfatehah, sih, kayaknya hapal mbang," celetuk Abu Kumkum.
Read more

SOMAD DAN HAL-HAL YANG TIDAK SELESAI

Politik
Foto Prabowo dan UAS

Tetiba nama Somad memasuki bursa Cawapres Prabowo. Namanya muncul dari hasil Ijtima Politisi yang mengaku ulama. Hasil itu sendiri sepertinya hanya mempertimbangkan satu hal: Somad lagi naik daun. Popularitasnya sedang di pucuk... Pucuk... Pucuk...

Dalam demokrasi elektoral seperti ini, popularitas memang bisa jadi salah satu faktor penentu. Lihat saja artis-artis direkrut menjadi Caleg, untuk mendongkrak suara partai.

Dalam kasus Somad, popularitas dipadukan dengan politik sentimen keagamaan yang juga sedang marak. Partai seperti PKS sangat doyan isu seperti ini.

Pokoknya asal bisa jualan Islam, mereka happy. Pokoknya asal bisa menyeret Tuhan dalam kampanye mereka bisa orgasme. Makanya PKS adalah salah satu partai yang ngotot mendorong Somad. Walaupun sebetulnya mereka berharap Salim Segaf yang dipilih jadi Cawapres Prabowo.

Bahkan untuk mendesakkan kepentingannya Presiden PKS berani buka mulut Prabowo itu bukan muslim taat. Jadi, kalau mau dianggap muslim, pilihlah calon yang diajukan PKS atau calon dari hasil Ijtimak politisi yang mengaku ulama itu. Otomatis Prabowo akan dianggap muslim taat.

Sebetulnya tidak ada masalah siapa saja diajukan sebagai Cawapres. UU menjamin hak Somad untuk memilih, dipilih maupun dilepeh. Tidak ada yang melarang.

Prabowo juga bisa seumur hidup jadi Capres. UU hanya membatasi masa jabatan Presiden dan Wapres. Kalau cuma calon, seratus kali jadi calon juga gak apa-apa. Tidak ada batasan. Inilah negeri demokrasi.

Namun memilih Somad jadi calon pucuk pimpinan negara hanya karena pertimbangan popularitas dan profesinya sebagai penceramah agama, kayaknya memang kita sedang bermain-main dengan masa depan bangsa ini.

Penceramah agama adalah satu soal, sementara pemimpin negara adalah soal lain. Kita tidak tahu apakah Somad punya pengalaman memimpin? Apakah dia pernah jadi ketua kelompok Siaga atau Penggalang saat sekolah dulu? Apakah dia pernah jadi ketua kelas? Pernah jadi manajer bengkel atau ketua Karang Taruna. Pokoknya apakah Somad punya pengalaman membawahi orang dalam sebuah tim?

Sebab kemampuannya berceramah tidak korelatif dengan kemampuannya memimpin. Itu suatu hal yang berbeda jauh. Sama seperti orang yang jago mengaji belum tentu bisa jadi kapten kesebelasan. Atau orang yang rajin ke masjid, belum tentu bisa menang ikut kompetisi matematika.

Tapi mungkin inilah kita. Keganderungan pada agama kadang membuat akal sehat terkapar. Seolah jika segala sesuatu sudah distempel agama, semua akan lebih baik. Bahkan ada fenomena di masyarakat, seorang dokter spesialis yang sekolah puluhan tahun percaya pada bekam. Hanya karena diisukan itulah pengobatan cara Nabi.

Jikapun dulu ada pengobatan bekam, tapi itu adalah cara pengobatan ribuan tahun lalu dimana dunia kedokteran belum semaju sekarang. Untuk jadi dokter dibutuhkan sekolah serius puluhan tahun. Sedangkan untuk membekam, orang yang tidak lulus SD juga bisa melakukan. Asal jidatnya hitam dan celananya cingkrang.

Herannya bekam dianggap bisa mengobati penyakit jenis apapun. Dari pilek sampai jantung. Dari sakit kepala sampai epilepsi. Bekam, jadi sama kayak khilafah bagi HTI. Apapapun penyakitnya bekam solusinya. Apapun persoalan bangsa, khilafah jalan keluarnya.

Padahal tidak pernah ada contoh satu negara maju dengan menerapkan sistem khilafah. Yang ada negara-negara yang di dalamnya banyak orang ngotot dengan khilafah malah hancur lebur. Lihat Suriah. Lihat Irak.

Sama seperti tidak pernah ada bukti ilmiah bekam bisa menyembuhkan penyakit. Teman saya yang sakit perutnya, pernah dibekam. Esoknya perutnya makin sakit. Pas ke dokter, dia harus dioperasi karena usus buntu. Bekam tidak berfungsi apa-apa untuk mengobati penyakitnya.

Orang boleh mengajukan siapa saja sebagai pemimpin. Tapi sebetulnya yang harus diajukan itu bukan hanya sosoknya. Tetapi yang lebih penting itu prestasi dan pengalamannya. Juga kemampuan dan capaiannya. Jangan sampai rakyat Indonesia nanti memilih Somad dalam karung.

Terlepas dari apapun, saya masih ingat sebuah ceramah Somad yang saya saksikan videonya via Youtube. Untuk berkampanye tentang khilafah, dia pernah bilang bahwa Rasulullah telah gagal dalam menegakkan Islam rahmatan lil alamin. Oleh sebab itu, untuk menambal kegagalan Rasul diperlukan khilafah.

Bagi saya bahkan sebagai penceramah agama saja, Somad berani kurang ajar kepada Kanjeng Nabi. Apalagi nanti sebagai Cawapres. Dia mungkin akan kurang ajar juga hendak mengganti sistem pemerintahan kita.

Sebab orang tahu kedekatan Somad dengan HTI. Pandangannya soal khilafah sudah banyak beredar.

Jika harus memilih, saya lebih suka Mamah Dedeh yang ditunjuk menjadi Cawapres Prabowo dibanding Somad. Mamah Dedeh populer. Mamah Dedeh juga biasa menerima curhat, bukan type orang curhat yang penuh keprihatinan. Mamah Dedeh juga seorang penceramah agama. Apalagi kurangnya?

Yang paling penting, Mamah Dedeh tidak punya potensi untuk mengubah negara ini jadi khilafah.

"Iya, mas. Saya setuju Mamah Dedeh jadi Cawapres. Biar Prabowo juga ada pedamping perempuannya. Tidak gersang terus," ujar Abu Kumkum.

"Kurangnya satu, mas," ujar Kumkum lagi. "Apakah Mamah Dedeh termasuk wanita sholehah? Berat badannya itu lho..."
Read more

Senin, 06 Agustus 2018

NASIHAT JOKOWI TENTANG KEBERANIAN

Joko Widodo
Jokowi

Imam Ali mengajarkan sebuah doa, "Ya Allah. Jangan jadikan kesabaranku sebagai alasanku untuk menjadi seorang pengecut..."

Ingat kampanye Pilkada Jakarta kemarin?

Kita ingat, hari itu adalah jadwal kampanye Ahok. Pria itu lebih memilih blusukan meninjau fasilitas orang-orang miskin di Jakarta. Dia ingin bertemu dengan rakyat. Mendengar langsung keluhan mereka. Selama ini memang dia mendengar langsung keluhan rakyat di Balai Kota. Tapi ini adalah hari kampanye, dan Ahok ingin bertemu langsung dengan rakyat di tempat mereka tinggal.

UU melindungi seorang Cagub berkampanye di hari yang ditentukan. UU juga menyatakan siapa saja yang menghalangi kampanye adalah melanggar hukum.

Apa yang terjadi? Segerombolan orang menghadang kampanye tersebut. Mereka mengancam Ahok. Mereka menudingnya. Padahal mereka bukan warga dari lokasi tempat kampanye berlangsung. Mereka didatangkan dari jauh, sengaja melakukan penghadangan.

Ahok mengalah. Mengalah pada pelanggar hukum itu.

Bukan hanya itu. Beberapa relawan yang juga melakukan kampanye di berbagai daerah dipersekusi. Ibu-ibu relawan yang menggenakan seragam kotak-kotak diperlakukan dengan buruk.

UU juga melarang masjid dijadikan sarana kampanye. Tapi di mesjid-mesjid mereka menggunakan sebagai sarana agitasi. Beberapa masjid terang-terangan memasang spanduk menolak sholat jenazah para pendukung Ahok. Mereka bukan saja melanggar UU, tetapi juga menjadikan masjid untuk melanggar hukum agama yang memerintahkan menyolati jenazah.

Semua pelanggaran itu dilakukan dengan terang-terangan. Dilakukan dengan terbuka. Mereka menebar ketakutan.

Saat pencoblosan dibuat tamasya Al Maidah. Apa tujuannya? Untuk menakut-nakuti orang yang mau memberikan suaranya saat hari pencoblosan. Warga takut dengan preman berjubah agama yang merampas hak orang lain secara terang-terangan. Melanggar hukum secara terbuka. Menantang aparat dengan bertindak semena-mena.

Waktu itu terjadi demoralisasi terhjadap para pendukung Ahok. Mereka dipersekusi. Dihalangan saat kampanye. Ditudinjg dengan sapaan-sapaan buruk.

Orang-orang yang mengedepankan akal sehatnya, memilih diam. Mundur dan enggan berurusan dengan preman berjubah itu. Padahal para preman berjubah itu terang-teranganh melanggar hukum. Terang-terangan menjadikan masjid sebagai sarana kampanye.

Bayangkan, kita takut dengan para pelanggar hukum itu, hanya karena mereka lebih beringas?

Lalu apa hasilnya? Jakarta kini punya dua ondel-ondel yang memakaikan cadar pada kali item.

Tampaknya strategi premanisme, menebar ketakutan, dan persekusi bakal dimainkan lagi saat Pilpres nanti. Mereka yang hobi menyeret-nyeret agama dalam politik akan petantang-petenteng lagi untuk menggolkan agenda politiknya.

Mungkin juga mereka akan meneriakkan lagi soal isu PKI, yang sudah basi tapi sering diulang-ulang seperti kaset kusut. Mereka akan meneriakkan soal aseng, asing, padahal ketika Indonesia berhasil mengambil saham Freeport, kelompok merekalah yang ikut menghalangi.

Kita sudah belajar itu. Kita sudah belajar bagaimana mereka menggunakan strategi yang hasilnya malah merusak Jakarta. Bagaimana cara mereka menebar ketakutan dan persekusi untuk berkuasa. Bagaimana pada Pilkada Jakarta bendera dan seruan orang yang mau mengubah dasar negara kita bisa bebas diteriakkan.

Dengarlah apa yang disampaikan Jokowi di depan para relawan kemarin. "Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi, kalau diajak berantem juga berani."

Iya, benar. Jangan mau lagi ditakut-takuti dan dipersekusi oleh para penebar ketakutan itu. Jangan lagi berlindung di balik akal sehat untuk mendiamkan segala kelakuan mereka yang menyebalkan. Jangan biarkan mereka menggunakan jargon agama untuk mengancam. Hadapi.

Jokowi mengajarkan kita untuk berani. Berani memperjuangkan hak kita. Memperjuangkan aspirasi kita sendiri. Sama seperti dia mengajarkan Gibran dan Kaesang untuk berani berdiri di kakinya sendiri. Hidup dengan keringatnya sendiri.

Sementara ada orang yang kebakabaran celana dalam mendengar pidato Jokowi tentang keberanian itu. Mereka adalah para pengusung Capres bekas menantu Soeharto. Capres yang karirnya di waktu muda diraih dengan bantuan posisinya sebagai keluarga Cendana.

Mereka juga pendukung Cawapres yang sampai sekarang hidup di ketiak bapaknya. Cawapres yang ketakutan karirnya di dunia militer tidak lagi cemerlang, sebab kekuasaan bapaknya sudah berakhir. Cawapres rasa Karedok, karena bau kencur.

Mereka mencela nasihat keberanian dari Jokowi. Sebeb mereka memang mengusung pemimpin, yang bahkan dari mudanya menampilkan diri sebagai pengecut. Tidak berani berdiri di kakinya sendiri. Pemimpin yang besar dari kekuasaan mertua dan kursi empuk bapaknya.

Atau pemimpin yang saking tidak punya prestasinya, selalu menyeret-nyeret nama Tuhan dalam kampanye..
Read more

Kamis, 02 Agustus 2018

PKS Menuding Prabowo Bukan Muslim yang Taat, Saya Gak Peduli

Prabow
Prabowo dan SBY

Saya lebih suka pasangan Prabowo-AHY, ketimbang Prabowo dipasangkan dengan orang PKS. Apalagi jika Prabowo-AHY terwujud PKS akan abstain. Bagi Indonesia itu lebih baik.

Setidaknya kita akan bertemu Pilpres yang gak ribut bawa-bawa surga neraka. Gak ribut pasangan mana yang paling agamis. Sebab kita memilih Presiden untuk bekerja dan mensejahterakan rakyat, bukan untuk mengubah bangsa ini jadi negara agama.

Saya memang selalu berharap PKS anstain. Abstain dari Pilpres, alhamdulillah. Kalau bisa abstain dari Pileg, wasyukrulillah. Semoga nanti bisa abstain dari Indonesia. Itulah berkah Allah buat bangsa ini.

Ancaman PKS untuk abstain ini karena kadernya kemungkinan tidak mendapat tempat di posisi Cawapres. Bagi partai ini kekuasaan memang segalanya. Apapun bisa dilakukan untuk mencapai kekuasaan.

Bahkan untuk mewujudkan ancamannya, Sohibul Iman sudah menerangkan bahwa Prabowo bukan penganut Islam yang taat. Artinya mereka sudah mulai menyerang Prabowo dari sisi agamanya.

Bandingkan dengan Lutfi Hasan Ishak, yang taat beragama. Sayangnya LHI sekarang mendekam di penjara 18 tahun karena korup. Tapi tetap saja bagi PKS, LHI lebih beragama ketimbang Prabowo.

Kenapa Prabowo dianggap bukan muslim yang taat oleh PKS? Karena barangkali PKS mengukurnya dari kemampuan Prabowo baca Quran. Atau dari sholat apa-gak. Atau dari puasa apa-gak. Atau dari latar belakang agama keluarga Prabowo yang pelangi.

Kita gak tahu juga apa dasarnya Presiden PKS menuding seperti itu. Tapi biarlah, itu urusan mereka. Urusan PKS dan Prabowo. Kita gak usah ikut-ikutan menuding soal nilai beragama Prabowo.

Sebab yang kita pentingkan untuk mencari figur Presiden adalah kemampuanya bekerja. Prestasinya dalam pemimpin. Kecintaanya pada NKRI. Dan track recordnya.

Soal Prabowo tidak bisa baca Quran atau sholat apa gak, biarlah itu jadi urusan PKS dan Tuhan. Soal AHY islami atau gak, biarlah partai anak rohis itu yang sibuk mempersoalkan.

Toh, saya sudah punya Jokowi sebagai kandidat Capres yang pantas diusung. Saya menilai kemampuannya, rekam jejaknya, keberhasilannya selama ini dan komitmennya membangun Indonesia. Saya menilai hasil kerjanya.

Saat mengetahui sholatnya Pak Jokowi sangat tertib, bahkan di sela-sela kunjungan kerja di daerah terpencil Jokowi terbiasa mencari mushola kecil untuk melaksanakan sholat, hal itu hanya menambah keyakinan saya untuk mendukungnya.

Soal kebiasaa Jokowi puasa Senen-Kamis sebagai bagian pembersihan ruhani, hal itu menambah bobot penghormatan saya padanya. Soal penghormatan Jokowi pada para kyai dan ulama, perhatiannya pada pesantren, sikapnya yang sederhana dan ketat menjaga keluarganya untuk tidak aji mumpung menikmati kekuasaan, hal itu membuat saya semakin yakin dengan pilihan politik saya.

Tapi bagi saya satu hal, kemampuan dan visi besarnya untuk Indonesia merupakan pertimbangan utama dalam memilih seorang pemimpin.

Makanya walaupun PKS teriak-teriak Prabowo bukan sebagai muslim yang taat, penilaian saya pada Prabowo gak berubah.

Bagi saya Prabowo hanyalah seorang tentara yang gagal dan dicopot dari jabatannya. Proses pencopotannya juga karena salah satunya ada peran SBY.

Prabowo adalah orang pesimis yang bicara Indonesia bubar pada 2030. Prabowo belum punya bukti cukup untuk memajukan Indonesia. Singkatnya, bagi saya Prabowo sangat tidak pas memimpin Indonesia masa depan. Sebab dia adalah bagian dari masalah Indoensia di masa lalu.

PKS boleh saja penilai Prabowo sebagai bukan muslim yang taat. Saya gak peduli. Bagi saya Prabowo hanyalah calon Presiden yang gagal dan gak punya prestasi. Titik.
Read more

Rabu, 01 Agustus 2018

KITA BUKAN BANGSA MINDER

Pemerintah
Blok Rokan

Bagi Amien Rais, melawan dan bersaing dengan kepentingan kepentingan asing itu berat. Amien masih bermental inlander yang pasrah bongkokan pada kompeni.

Makanya dia pernah sesumbar, menantang Jokowi untuk mengambil alih Blok Rokan dari tangan Chevron.

Kenapa Amien yang dikenal memusuhi Jokowi itu berani menantang pemerintah untuk mengambil blok Rokan? Karena baginya gak mungkin Jokowi berani melakukan langkah itu. Setelah Jokowi gak berani mengambil Blok Rokan sebagaimana prediksi Amien, dia akan nyinyirin pemerintah habis-habisan.

Kesalahan Amien yang utama adalah mengukur mental orang sama dengan mental dirinya. Dia menggambarkan seluruh kepentingan AS itu luar biasa, gak bisa diotak-atik. Sebagai inlander, mana bisa Indonesia melawan perusahaan raksasa AS. Begitu yang ada dipikiran Amien.

Sama seperti orang udik masuk ke gedung mewah dan hendak naik lift. Dia melepas sendalnya di pintu lift. Di kepalanya gak mungkin kita bisa mengalahkan AS. Wong naik lift aja lepas sendal.

Pas sampai di lantai atas, keluar dari pintu lift dia bingung. Kok sendalnya hilang?

Tapi mental Jokowi beda dengan Amien. Amien boleh sekolah di AS. Mengenyam pendidikan dan kehidupan disana. Hanya saja mentalnya gak beranjak dari sekadar inlander.

Jokowi hanya sekolah di Indonesia. Tapi baginya kita harus berdiri sejajar dengan seluruh bangsa di dunia. Tidak perlu minder berhadapan dengan asing. Hadapi saja dengan baik. Bagi Jokowi, soal naik lift itu biasa saja. Gak perlu lepas sendal.

Apalagi ini soal pengelolaan sumber daya alam yang ada di Indonesia. Pemerintah harus percaya diri. Bukan jadi pengecut di tanahnya sendiri.

Makanya baru dua hari Amien menunjukan mental inlander, dengan sok menantang pemerintah mengambil blok Rokan, eh bener, kementrian ESDM mengumumkan nanti pada 2021 pengelolaannya diserahkan ke Pertamina.

Sebetulnya bukan sesuatu hal yang luar biasa untuk memindahkan pengelolaan Blok Rokan dan Chevron yang berpusat di AS, ke Pertamina yang berpusat di Jakarta. Gak ada yang istimewa seperti yang diperkirakan Amien Rais.

Lagi pula, diambil alihnya Blok Rokan gak ada hubungannya dengan sesumbar Amien Rais. Proses tender sudah lama berjalan di Kementerian ESDM. Ketika pemerintah menunjuk Pertamina sebagai pemenang tender, ya normal. Biasa banget.

Sama seperti saat Jokowi bernegosiasi untuk mengambil 51% saham PT Freeport Indonesia. Semua dilakukan dengan cermat dan sebagai langkah normal dalam proses bisnis. Bukan main power-poweran.

Ketika pada akhirnya Indonesia berhasil mendapatkan saham mayoritas Freeport, itu langkah bisnis yang bagus. Bukan hal yang luar biasa. Bukan seperti yang digambarkan Amien Rais sebagai sesuatu yang gak mungkin.

Mereka yang teriak anti asing, aseng, asu itu sebetulnya memang pada dirinya ada rasa gak pede. Perasaan minder itu juga yang membuat dia jadi over acting.

Sekali lagi, mentalnya kayak orang udik masuk ke toilet mewah. Dia mau cuci muka. Dia bingung, kok toilet ini sama sekali gak ada airnya. Yang ada air cuma di closet. Lalu dengan air itulah dia cuci muka. Padahal masalahnya hanya karena dia gak ngerti cara buka kran.

"Sikat giginya pakai air closet juga, mas?," tanya Abu Kumkum

Mbuh...

Read more

Selasa, 31 Juli 2018

KALAU DITERTAWAKAN YA, DIBONGKAR LAGI

Marka Jalan
Marka Jalan

Putuskan dulu, kalau nanti ditertawakan orang, baru diubah lagi. Toh, anggaran banyak. Duitnya ada. Kira-kira begitulah filosofi kerja Pemda DKI sekarang.

Mulanya mereka membangun trotoar disertai dengan gelaran rumput. Kesannya memang Jakarta lebih asri. Tapi rupanya, mereka gak sadar bahwa di pinggir jalan banyak halte tempat orang menunggu bus. Jika di depan halte terbentang rumput, lalu bagaimana penumpang mau naik bus? Pemda lupa, warga DKI tidak ada yang bisa terbang.

Dasar netizen, mereka menertawakan ketololan ini cekakak-cekikik. Media sosial jadi rame dan lucu. Humor berhamburan membuat hari-hari kita menjadi begitu riang.

Karyawan yang habis dimarahi bosnya, bisa ikut tersenyum. Mahasiswa yang terancam DO, berubah gembira. Cewek yang baru diputusin pacarnya karena ketahuan punya hobi ngupil dimanapun berada, juga ikut tertawa. Semua senang, Semua gembira. Alhamdulillah.

Tapi rupanya Gubernur bukan mau melawak. Dia tidak suka ditertawakan orang. Emangnya gue, Jojon?

Maka gelaran rumput itu dibongkar lagi, diberi jalan untuk penumpang di halte menaiki bus. Dananya ada. Tinggal keluarkan. Horeee... masalah selesai.

Eiitt, tunggu dulu. Coba lihat pembatas jalan. Di cat mirip warna rainbow cake. Yummi. Netizen tertawa lagi sambil meleleh air liurnya. Mereka ngakak berjamaah menikmati lawakan Pemda DKI.

Tapi, ini Gubernur, mblo. Apa kamu gak lihat muralnya yang digambarkan sedikit gembrot? Kurang kharismatik apalagi? Janganlah sesekali kamu jadikan bahan tertawaan. Selain tandanya kamu tidak bertetika, juga tandanya kamu bukan murid budiman.

Masalah ini ditangani cepat sebelum tertawa orang bersambung dari Sabang sampai Kemayoran. Dari Cakung sampai Gunung Sahari. Pembatas jalan rainbow cake itu dicat ulang. Warnanya balik jadi hitam putih lagi sesuai aturan lalu-lintas.

Lihatlah, Gubernur kita selalu cepat tanggap jika ditertawakan orang hasil kerjanya.

Cukup? Belum. Ada kali item di Kemayoran, baunya minta ampun. Lalu dengan cerdas Pemda memakaikan jaring di atas sungai, katanya agar baunya tidak meruap. Orang-orang tambah ngakak. Emangnya kalau pakai celana dalam warna hitam, terus kalau kentut gak kecium baunya?

Lalu pemerintah pusat turun tangan ikut membersihkan kali tersebut. Beberapa anggota masyarakat juga ikut menebarkan zat kimia yang berfungsi sebagai deodorant. Bau air kali menghilang. Rakyat pinter...

Sudah? Ternyata belum. Kemarin ada 10 orang pegawai Pemda dicopot dari jabatannya. Ada yang ditutunkan jadi staf, ada juga yang dipensiunkan dini. Pemberitahuan pencopotan jabatan itu, ada yang dilakukan hanya via WA.

Padahal soal copot mencopot jabatan ada aturannya. Kita punya Komite Aparatur Sipil Negara (KASN) yang mengawasi hal-hal seperti ini. KASN berkirim surat kepada Pemda, kabarnya sampai 3 kali. Tidak ditanggapi.

Lalu KASN membeberkan persoalan kepada pers. Meminta laporan dari Pemda mengenai proses pencopotan yang aneh itu. Bahkan, jika pegawai dipensiunkan sebelum jatuh usianya, hanya bisa dilakukan kalau ada pelanggaran berat. Itupun harus dilakukan dengan prosedur pemeriksaan, sanggahan dari yang bersangkutan, dan sebagainya.

Nah, KASN meminta berita acara pemeriksanaan karyawan bersangkutan yang ditandatangani karyawan dan pejabat berwenang. Eh, yang dikirim ke KASN malah kliping-kliping koran. Emangnya, ini tugas sekolah anak kelas empat SD?

Tadinya Gubernur menuduh KASN berpolitik dengan menggelar konferensi pers menjelaskan tegurannya. Tapi toh, sebelum diberitahukan kepada pers, KASN sudah tiga kali dikirim surat, tidak pernah direspon. Ini negara, mas Boy. Bukan warung kopi. Meskipun Gubernur dipilih dengan embel-embel fatwa GNPF-MUI, tetap wajib mengikuti aturan. Gak bisa semaunya sendiri.

Apa kita harus tertawa lagi?

Jakarta kini memang menyedihkan, maka kita terpaksa tertawa-tawa terus sepuasnya.
Read more

Minggu, 29 Juli 2018

REKOMENDASI IJTIMA POLITISI

GNPF Ulama
Ijtima' Ulama

Ada acara Ijtima Ulama yang digelar GNPF. Hasil dari pertemuan itu merekomendasikan Prabowo sebagai Capres. Ada dua yang diajukan sebagai Cawapres : Salim Segaf Aljufri dan Abdul Somad.

Prabowo hadir diacara itu dan memberikan sambutan.

Pertanyaanya apakah Prabowo akan mendengarkan kesimpulan para 'ulama' disana, dengan menjadikannya Salim Segaf dan Somad sebagai Cawapres?

Kemungkinan besar, gak.

Setelah Prabowo menghadiri pertemuan tersebut, esoknya dia terus menjalin komunikasi dengan SBY. Kita tahu SBY menyorongkan anaknya AHY sebagai Cawapres. Kayaknya pembicaraan mereka juga makin intensif.

Tampaknya ocehan ulama di acara Ijtima itu bagi Prabowo bisa ditanggapi sekadarnya saja. Prabowo datang ke acara itu lebih bermaksud untuk mendengarkan dukungan bagi dirinya ketimbang mendengarkan usulan 'ulama'.

Mungkin juga ulama disana paham, omongannya gak akan didengarkan Prabowo. Mereka juga sadar, berkumpulnya mereka untuk seorang politisi dengan maksud menyediakan diri untuk ditunggangi. Bukan untuk diikuti nasihatnya.

Artinya semua orang yang hadir di acara itu, dengan baju koko dan peci putih atau jubah dan ubel-ubel, dengan mengusung nama ulama, dengan menempelkan simbol-simbol agama, pada akhirnya cuma usaha simbolis untuk menstempel Prabowo dengan cap islami.

Padahal kata ketua PKS Sohibul Iman, Prabowo bukan termasuk penganut Islam yang taat. Sohibul Iman juga bicara jujur sebagai cara menekan Prabowo agar mau meluluskan kader PKS sebagai Cawapresnya.

Baik bagi Sahibul maupun ulama yang berkumpul kemarin, istilah-istilah agama memang cuma dijadikan aksesoris politik. Prabowo itu jadi muslim taat bila mau berpasangan dengan kader PKS. Prabowo bukan muslim taat kalau menolak kader PKS sebagai Cawapres.

Ukuran ketaatan diukur dari seberapa jauh Prabowo mau bekerja sama dengan PKS. Soal bagaimana ibadahnya, penghayatannya pada agama, perilaku dan akhlak keagamaan, bagi PKS itu bukan ukuran seseorang sebagai muslim taat atau tidak.

Dengan kata lain ketaatan gak ada hubungannya dengan agama. Ukuran ketaatan berhubungan erat dengan PKS.

Tapi Prabowo juga tahu. Dia gak terlalu penting mau dibilang muslim taat atau gak. Baginya sekarang lebih penting jadi Capres. Makanya rekomendasi ulama dan tekanan PKS hanya dihitung dalam pertimbangan politik. Bukan pertimbangan keagamaan, misalnya sebagai santri yang nunut nasihat ulamanya.

Jika ujung-ujungnya adalah pertimbangan politik, yang menghitung faktor menang dan kalah atau untung dan rugi, bukan manfaat dan mudharat, lalu buat apa bawa-bawa nama agama dan ulama?

Jika para ulama atau orang yang mengaku ulama itu tahu, bahwa rekomendasi dan nasihatnya hanya akan didengar sambil lalu, buat apa juga cawe-cawe ngurusin soal copras-capres.

Ohh, begini. Para penggagas Itimak Ulama itu sebenarnya adalah para politisi yang memakai jubah ulama, jadi bukan sedang memainkan peran keulamaan. Nama ulama ditempelkan saja agar bisa mengklaim mewakili umat Islam.

Apakah Prabowo akan mengikuti rekomendasi dan nasihat hasil Ijtima Ulama?

Ujungnya adalah pertimbangan politis yang menentukan. Sebab Prabowo dan semua orang tahu, sesungguhnya acara tersebut adalah Ijtima Politisi. Bukan Ijtima Ulama.

"Mbang, kalau Ijtima tukang bubur rekomendasinya apa?," tanya Abu Kumkum.

"Makannya jangan diaduk, kang," jawab Bambang Kusnadi.
Read more

BELAJAR DARI UMAT ISLAM DI BATAM

Batam
Baliho tolak Neno

Neno Warisman ditolak kehadiranya di Batam. Masyarakat Batam menolak Neno yang hendak menghadiri acara Tabligh Akbar sambil meneriakkan pesan politik yang kental. Mereka tidak mau kotanya dicemari dengan usaha pecah belah.

Tentu saja Neno bisa berkilah bahwa ini semacam usaha intimidasi terhadap dirinya. Biasanya ditambah dengan embel-embel memberangus aspirasi politik umat Islam.

Ujung-ujungnya memelintir isu ini sebagai penghadangan acara Tabligh Akbar. Membenturkan sesama umat Islam.

Padahal yang menolak Neno juga umat Islam Batam. MUI Batam sendiri juga menolak kegiatan kegamaan yang ditempeli kepentingan politik seperti acara yang akan dihadiri Neno.

Kenapa masyarakat Batam menolak?

Simpel. Orang Batam bukannya sekumpulan mahluk tolol yang gampang dimanipulasi. Tujuan Neno datang ke Batam jelas politis. Agana cuma dijadikan kedok. Neno berusaha menunggangi acara Tabligh Akbar untuk mengkampanyekan seruan politis.

Padahal acara Tabligh Akbar semestinya bertujuan dakwah. Memberi nasihat yang baik dan mecegah kemungkaran. Bukan menjegal atau memenangkan seseorang dari pertarungan politik. Panggung Tabligh Akbar yang disulap menjadi panggung politik sama saja dengan melecehkan makna dakwah.

Sebetulnya masyarajat sudah muak dengan gaya Neno dan gerombolan PKS yang sering memanipulasi dakwah untuk tujuan politik. Mereka menggunakan agama cuma sebagai tameng untuk menyerang siapa saja yang tidak disukainya.

PKS sendiri mengakui terus terang bahwa mereka memang terbiasa menggunakan isu agama untuk memojokkan lawan politiknya. Padahal lawan politiknya sama-sama muslim.

Presiden PKS Sohibul Iman bahkan mengancam Prabowo, jika tidak mau nurut dengan kemauan PKS maka isu agama juga akan menimpa penguasa Hambalang itu. Artinya Prabowo selama ini selamat tidak diutak-atik masalah agamanya karena berdekatan dengan PKS. Kalau kepentingan PKS tidak diakomodir Prabowo, jangan salahkan jika seruan Prabowo tidak islami akan menggema.

Jadi, bagi PKS orang disematkan islami bila mau mengikuti keinginanya. Dan jadi 'kafir' bila menolak kemauannya. Agama cuma dijadikan senjata untuk menikam orang. Bukan sebagai jalan kehidupan.

Soal agama yang bakal dijadikan dagangan politik juga kita rasakan di acara Ijtimak Ulama kemarin. Acaranya membahas Capres dan Cawapres. Semua tokoh politik oposisi tumplek bersama orang-orang berbaju koko putih.

Banyak ulama dan ustad yang hadir. Diantaranya KH Sugik Nur, Almukarom Ustad Tommy Soeharto, Ustad, atau Habib Fuad Bawazier. Mereka berkumpul bersama Prabowo Subianto, Anies Baswedan, dan politisi lainnya.

Prabowo sendiri memberikan sambutannya pada acara Ijtimak Ulama tersebut. Mungkin karena PKS, seperti kata Sohibul Iman, masih merasa teman. Jika bukan teman PKS, mana bisa seseorang yang nilai keislamannya diragukan bicara di depan forum ulama.

Artinya pada Pilpres ini, umat Islam harus mengalami lagi agamanya dijadikan permainan para politisi. Mereka akan dibetot-betot, dijedat-jedot, untuk menggapai kekuasaan. Jangan kaget jika nanti juga keluar fatwa-fatwa agama untuk memilih si A, menolak si B.

Kenapa orang-orang ini selalu membawa-bawa agama dalam berpolitik? Karena tidak punya prestasi apa-apa yang bisa dijual. Jadi mereka menyeret-nyeret Tuhan dalam kampanye.

Nama ulama dan Tabligh Akbar sudah menjadi semacam idiom politik. Masjid dan mimbar dakwah telah dikotori kesuciannya. Umat Islam cuma dianggap sapi bodoh yang dicucuk hidungnya.

Untung umat Islam Batam sadar, mereka tidak mau agamanya dimanipulasi para politisi. Makanya mereka menolak Neno Warisman menunggapi panggung Tabligh Akbar di sana.

Tapi apakah umat Islam di Indonesia secerdas saudaranya di Batam?

Mbuh...
Read more