Minggu, 21 Oktober 2018

HARI SANTRI DAN PARA PENDOMPLENG


Hari Santri Nasional
Malam Hari Santri di Bandung
21-22 Oktober 1945 di Surabaya. Para kyai berkumpul membicarakan mengenai masa depan Indonesia. Saat itu negara ini baru saja mendeklarasikan kemerdekaannya tapi pasukan asing masih ingin berkuasa.

Rasa kebangsaan para kyai NU mencuat. Mereka tidak mau tinggal diam melihat NICA tetap bercokol di Indonesia. Pada pertemuan itulah dirumuskan sebuah resolusi jihad.

Intinya menyerukan kepada setiap muslim bahwa berjihad mempertahankan kemerdekaan bangsa adalah fardhu ain, kewajiban setiap individu. Resolusi tersebut menjadi bahan bakar semangat yang membakar jiwa setiap santri. Mereka bersiap menyingsing seruan Rais Am Kyai Hasyim Asy'ari.

Pada 10 November 1945, arek Surabaya terbakar seruan jihad Kyai Hasyim. Mereka turun ke jalan menghalau penjajah. Modalnya hanya semangat dan keyakinan bahwa perjuangannya adalah bagian dari iman. Mereka meyakini membela tanah air adalah kewajiban dirinya sebagai umat Islam. Membela bangsa sama maknanya dengan membela agama.

Bagi santri, seruan dari seorang kyai besar adalah semacam perintah yang wajib dilaksanakan. Tidak ada yang menanyakan kenapa begini, kenapa begitu. Mereka mendengar, mereka menjalankan dengan sepenuh hati.

Bukan hanya santri, para kyai juga membentuk laskar kyai. Tokoh-tokoh agama itu bukan hanya duduk terpaku di mihrabnya. Tetapi tampil ambil bagian pada perjuangan fisik. Mereka maju ke Medan laga. Mereka mengorbankan hidupnya untuk bangsanya.

Ketika terjadi gejolak ideologi antara PKI dan kelompok agama, para santri juga tampil ke muka. Mereka menghalangi ideologi komunis yang merangsek di desa-desa. Mereka membentengi Indonesia. Mereka menolak bangsa ini dijadikan seragam seperti negara komunis.

Para Santri selalu tampil ke muka ketika Indonesia menghadapi ancaman.

Presiden Jokowi menetapkan 22 Oktober sebagai hari santri. Sebuah pengakuan pada perjuangan komunitas santri dan pesantren dalam memperjuangkan Indonesia.

Kehadiran pesantren dan para santri jejaknya terbaca sejak dulu. Tetesan darahnya ikut menyuburkan tanah Indonesia. Air mata dan keringatnya ikut menjadi semen yang memperkokoh pondasi bangsa. Harta dan pengorbanannya menjadi lantai tempat kita sekarang bisa berpihak. Santri berjuang untuk Indonesia, untuk bangsa, bukan berjuang untuk berkuasa.

Tapi belakangan nilai perjuangan para santru  itu mau dirusak. Organisasi seperti FPI yang baru kemarin sore terbentuk merasa punya jasa pada Indonesia dan bertindak semau-maunya atas nama agama.

Anak-anak liqo yang baru dua puluh tahun lalu berkiprah dan berkumpul dalam PKS, sudah mengklaim bahwa mereka mewakili Islam dan menagih janji kekuasaan. Mencatut pengorbanan para santri yang ikhlas demi kekuasaan politik. Biasanya mereka teriak, umat Islam berjasa pada kemerdekaan.

Hello. Umat Islam yang mana? Ikhwanul Muslimin itu anak baru di Indonesia. Enak saja mau mengklaim pengorbanan santri demi kekuasaan dirinya sendiri.

Yang paling memuakkan adalah HTI. Datang paling buncit, eh tahu-tahu sudah mau mengubah-ubah ideologi negara. Felix Siauw malah bilang membela tanah air gak ada dalilnya. Kan, bangke tuh!

Felix, sang mualaf, seperti mencela resolusi jihad Kyai Hasyim Asy'ari. Dia berfikir Kyai Hasyim gak punya dalil ketika merumuskan seruan jihad pada 22 Oktober 1945 lalu. Itu tandanya Felix merasa lebih tahu soal dalil dibanding seorang kyai pendiri NU. Ini namanya mualaf gak punya adab.

Organisasi seperti HTI, FPI dan PKS adalah kaum pendompleng pengorbanan para santri yang ikhlas untuk bangsanya. Mereka mengklaim dirinya mewakili umat Islam, lalu seperti menagih bayaran kepada bangsa ini atas perjuangan para santri dahulu. Padahal santri-santri berjuang dengan ikhlas, semata karena kecintaan pada sesuatu yang bernama Indonesia.

Santri berjuang untuk Indonesia, agar tetap terjaga keIndonesiaannya. Indonesia yang plural. Yang terdiri dari aneka ragam suku dan budaya. Yang terdiri dari banyak keyakinan dan agama. Perjuangan santri untuk memastikan bahwa Indonesia akan tetap seperti itu. Tetap menjaga keragamannya dan bergandengan bersama untuk masa depan.

Berbeda dengan FPI yang ngotot mau menegakkan syariah dalam hukum negara. Atau HTI yang mau menghancurkan bangsa ini dengan khilafah. Atau PKS yang menggiring Indonesia ke ideologi Ikhwanul Muslimin dari Mesir. Mereka menagih bayaran atas sesuatu yang gak pernah dikerjakannya. Kan nyebelin.

"Mas, Sandiaga Uno kan sudah diangkat jadi Santri. Mestinya mereka bikin aja hari Sandi," ujar Abu Kumkum.

Kalau hari Sandi apa yang bakal dikenang?

"Banyak mas. Mereka nanti bisa mengheningkan cipta untuk membayangkan wig Pete dan goyang Bango," sambung Abu Kumkum lagi.

Read more

Rabu, 17 Oktober 2018

CAPRES PEMALAS, CAWAPRES CAPER, LOGISTIK CEKAK

Kampanye
Kampanye Politik

Andi Arief menyindir Prabowo sebagai Capres pemalas. Gak mau terjun ke masyarakat. Cuma duduk diam  di Hambalang.

Kelakuan politisi seperti ini, kata Andi Arief tidak akan menambah suara Prabowo. Padahal Pilpres tinggal beberapa bulan lagi.

Tapi harus diakui Prabowo bukan anak muda lagi. Usianya sudah senja. Wajahnya capek. Kantongnya juga bobol. Motivasi untuk menjadi Presiden dikalahkan oleh kondisi obyektif yang gak bisa dilawan. Jangan harapkan Prabowo pagi di Bogor, siang di Padang lalu malamnya sudah ada di Kalimantan seperti yang sering dilakukan Jokowi. Bawa badan sendiri saja sudah susah.

Sebetulnya kelesuan sudah tempak sejak awal penentuan Capres dan Cawapres. Masing-masing partai pendukung Prabowo saling kunci untuk mendapatkan jatah Cawapres. Akhirnya Prabowo berfikir simpel. Pilpres urusan belakangan yang paling penting adalah Pemilu Legislatif.

Jadi dia gak peduli dengan partai-partai koalisinya. "Emangnya gue pikirin?"

Gerindra main sendiri. Capresnya dari Gerindra. Cawapres Gerindra. Ketua Tim pemenangan Gerindra. Toh, ujung-ujungnya semua biaya nanti dilimpahkan pada Gerindra. Partai lain hanya dibutuhkan rekomendasinya buat mendukung Capres-Cawapres. Setelah itu nafsi-nafsi. Urus diri masing-masing.

Sekalipun di media masih terkesan ada saling dukung, itu cuma dipermukaan saja. Di dalam mereka jalan sendiri-sendiri.

Lha, iyalah. Siapa yang mau kerja gratisan. Bagi partai-partai koalisi Prabowo, suara Prabowo hanya akan menambah suara Gerindra. Tidak untuk PKS, PAN apalagi Demokrat. Jadi buat apa mereka kerja keras di Pilpres?

Lihat saja pasukan PKS kini lebih diarahkan untuk ngurusin Pileg. Demikian juga PAN. Demokrat malah membebaskan kadernya untuk mendukung Jokowi. Bagi oposisi, Pilpres 2019 ini cuma urusannya Gerindra doang.

Bukan hanya tidak menguntugkan secara politik  Kemalasan partai-partai  lain bekerja untuk Prabowo juga karena logistik cekak. Oli pergerakan mandeg. Sandi yang diharapkan bisa membawa bensin banyak untuk bahan bakar, nyatanya cuma bertindak jadi pengusaha. Modal sedikit mau dapat banyak. Kardus yang dijanjikan isinya juga cuma secuil.

Prabowo yang tahu gak mungkin bergerak kalau logistiknya cekak, akhirnya lebih memilih leyeh-leyeh. Malas bertemu masyarakat. Paling hanya sesekali saja keluar kandang, misalnya lonprensi pers soal Ratna  Lalu masuk lagi.

Beberapa pengusaha kaos, topi, atau alat peraga kampanye lain sudah mencium gelagat ini. Kabarnya kini setiap order dari pasangan Prabowo-Sandi mereka minta uang muka 80%. Kalau gak dipenuhi order gak akan dijalani.

"Pengusaha konveksi sudah paham situasinya. Gak akan ada yang mau kerjakan orderan dari pendukung Prabowo-Sandi kalau DP-nya hanya 50%," ujar seorang teman yang terbiasa mengerjakan pembuatan kaos kampanye.

"Gimana kalau order dari partai pendukung Jokow?," tanyaku.

"Sehabis mencoblosankan, Jokowi tetap Presiden. Sampai Oktober. Jadi jauh lebih aman. Kalaupun DP hanya 25%, saya pasti ambil."

Para pendukung Prabowo yang tidak berafiliasi dengan partai juga mulai teriak. Kemarau lanjang. Berbeda dengan 2014 lalu dimana logistik dan biaya operasional melimpah. "Kali ini seret banget," ujar mereka.

Wajar sih. Pada 2014 lalu Prabowo masih yakin menang. Mafia Minyak seperti Reza Chalid berdiri di belakang mereka. Pengusaha besar juga gak ragu-ragu menggelontorkan duitnya buat membantu Prabowo. Anggap saja menanam jasa. Tapi nyatanya toh, Prabowo keok sama Jokowi.

Nah, pada Pilpres kali ini, gak seperti dulu. Pengusaha yang mau bantu juga setengah hati. Buat apa membantu Capres yang sudah menyatakan kalah, meskipun tidak pernah diucapkan.

"Kok, kalah?"

Iya, coba lihat saja. Gerindra sama sekali tidak berbagi peran dengan partai lain. Semua mau digarap sendiri. Itu artinya tidak efektif untuk menambah suara Prabowo. Kedua, kemalasan Prabowo keluar kandang itu juga indikasi gang nyata.

"Mungkin mereka mengandalkan Sandi? Buktinya Sandi yang keliling menemui orang."

Sandi itu gak dikenal orang. Posisinya cuma Wagub DKI Jakarta. Sementara Indonesia itu luas. Dia harus menaikkan popularitasnya dulu. Balum bisa diandalkan untuk menggaet suara.

Makanya wajar saja kalau kelakuannya aneh. Segala pete dijadikan wig. Atau lompat-lompat. Tujuannya caper. Biar diomongin orang terus. Karena gak bisa memamerkan karyanya, akhirnya belagak gila. Atau ngomong ngaco.

Tujuannya omongannya agar direspon oleh orang lain lu namanya dibicarakan. Apakah Sandi tahu harga warteg di Jakarta lebih murah dibanding Singapura? Tahu.

Kenapa dia ngomong sebaliknya? Agar banyak orang yang merespon omongannya.

Apakah Sandi tahu, belanja Rp100 ribu sudah mendapat bahan makanan berlimpah? Tahu.

Dia bicara belanja Rp100 ribu cuma dapat cabe-bawang dengan tujuan agar direspon dan diprotes orang. Dengan begitu namanya akan dibicarakan.

Sandi ini memainkan strategi mirip Ratna Sarumpaet. Ngomong sebakul untuk jadi perhatian orang. Belagak gila agar ditertawakan. Sama kayak anak kecil caper, kelakuannya aneh-aneh.

Ok, dalam kondisi seperti itu, kenapa Prabowo jadi pemalas?, seperti yang disampaikan Andi Arief.

"Orang malas mana mungkin naik ke puncak Everest. Iya, kan mas?," ujar Abu Kumkum.

Dia melanjutkan. "Jadi wajar kalau Prabowo gampang dibobongi nenek-nenek. Seperti kata pepatah malas pangkal bodoh..."
Read more

Selasa, 16 Oktober 2018

STRATEGI KAMPANYE TRUMBOWO

Politik
Politik Prabowo dan Trump

"Umurmu berapa Kum?," aku iseng bertanya pada Abu Kumkum.

"Gak tahu, mas."

"Lho, kok gak tahu?"

"Ya, namannya umur mana ada yang tahu mas. Itu rahasia Allah," jawabnya santai.

Memang capek ngobrol sama bakul minyak telon oplosan ini.

Tapi benar juga sih, umur, jodoh, rezeki itu ada di tangan Tuhan. Manusia bisa menjaga kesehatan dan keselamatan, kalau sudah sampai umurnya, gak ada yang bisa halangi. Prabowo bisa saja ngotot mau jadi Presiden, kalau garis tangannya gak kesana, ya akan gagal terus.

Meskipun --saking ngototnya-- dia meniru Donald Trump dalam cara komunikasinya. Di hadapan peserta Munas LDII, beberapa waktu lalu Prabowo mendengungkan slogan 'Make Indonesia Great Again', meniru Trump yang mengucapkan 'Make America Great Again', dalam kampanyenya melawan Hilary Clinton.

Trump membangun slogan itu dengan terlebuh dahulu menyebarkan ketakutan di kalangan warga AS.

Pertama mereka ditakutkan dengan Islam. Dalam kampanye Trump Islam dipandang sebagai energi perusak yang membahayakan.  Orang-orang Islam dianggap sebagai biang teroris yang barbar dan biadab. Oleh sebab itu, Trump menutup pintu terhadap semua imigran muslim karena dianggap akan menyebarkan terorisme di AS.

Padahal Trump bersahabat baik dengan Raja Saudi atau emir-emir yang menguasai Timur Tengah.

Bukan hanya kepada Islam. Trump juga membangun ketakutan pada imigran kulit berwarna. Imigran asal Meksiko dan Amerika Latin menjadi sasarannya.

Pada soal ekonomi, Trump membangun ketakutan pada China. Memang secara ekonomi China mulai menguasai dunia. Produknya masuk ke AS dengan murah. Trump melancarkan serangan dengan mengatakan Amerika telah dikuasai China dan jika dibiarkan negerinya akan tergadai.

Sayangnya bagi tim kampanye Hilary, ketakutan yang disebar Trump itu dianggap menggelikan dan recehan. Bagaimana mungkin seorang Capres menggebyah uyah pemahaman soal Islam. Teroris merupakan sempalan dari tafsir keagamaan ala Wahabi, bukan mewakili Islam secara keseluruhan. Lagipula AS masih mesra bersahabat dengan negara berpenduduk muslim.

Tapi penduduk AS yang memang paranoid termakan omongan Trump. Kebencian mereka pada Islam, ketidaksukaan pada imigran dan ketakutan pada dominasi China dijadikan senjata ampuh untuk menggaet suara. Dari penyebaran ketakutan itulah Trump memenangkan Pilpres di AS.

Sepertinya pola yang sama juga ingin dicontek Prabowo di Indonesia. Sebelum dia secara terang-terangan menjoplak slogan Trump, Prabowo dan timnya sudah lebih dahulu menyebarkan ketakutan kepada rakyat kita. Sama persis dengan apa yang dilakukan tim kampanye Trump di AS.

Lihatlah. Bagaimana mereka menyebar ketakutan terhadap PKI. Setiap tahun isu PKI digoreng sampai hangus, padahal barangnya sudah mati sejak lama. Mereka juga menyebar ketakutan pada LGBT lalu menyalahkan pemerintah. Padahal tidak ada satu kebijakan pun dari pemerintah yang permisif pada perilaku seks menyimpang ini.

Sama seperti Trump, mereka juga membangun ketakutan pada penguasaan asing dan China, dengan istilah aseng dan asing. Padahal di jaman Jokowi Freeport berhasil dikuasai Indonesia. Blok minyak Rokan dan Mahakam kembali ke Pertamina. Masih banyak lagi cerita pemerintah mengambil alih eksplorasi sumber daya alam dari tangan asing.

Jika Trump berhasil membangun ketakutan pada rakyat AS, tim Prabowo justru malah membangun ketakutan dengan cara melucu. Mereka menakut-nakuti rakyat terhadap dampak pembangunan jalan tol. "Buat apa dibangun jalan tol. Yang bisa menikmati hanya mereka yang punya mobil. Motor gak bisa lewat," ujar mereka.

"Iya, buat apa juga dibangun Bandara. Perahu gak bisa lewat sana," jawab rakyat serentak.

Trump mempelopori slogan itu dilatarbelakangi semangat rasialisme. Dia mendorong supremasi kulit putih seperti yang terjadi di jaman Klux Klux Klan. Waktu itu warga kulit putih AS menguasai budak kulit hitam dan kulit berwarna. Bahkan sebelum masa itu, kehadiran pendatang kulit putih di benua Amerika menyebabkan penderitaan pada suku Indian, sebagai suku asli benua Amerika.

Setelah berhasil merampas tanah-tanah orang kulit merah, penduduk kulit putih menguasai pertanian dan menjadi tuan tanah disana. Mereka mengimpor budak dari Afrika. Budak-budak kulit hitam hidup bagaikan setengah manusia, setengah hewan.

Kalau Anda disuguhkan film koboi, yang menceritakan bahwa suku Indian adalah penjahat, itu adalah cara bangsa kulit putih memutarbalikkan sejarah. Padahal merekalah yang merampas tanah-tanah warga Indian. Merekalah yang mengusir penduduk asli dari ladang perburuannya. Kisah-kisah dalam cerita Old Shatterhand karangan Karl May menggambarkan dengan jelas konflik peradaban itu.

Lalu Amerika berubah. Perbudakan dihapuskan. Mereka menerapkan kehidupan sosial yang terbuka. Orang kulit hitam dan kulit berwarna masuk berimigrasi mengejar sebuah impian di negeri terbuka itu.

Kehidupan ekonomi mulai terbagi. Warga kulit putih bukan lagi satu-satunya pemilik sumberdaya ekonomi. Masuknya imigran yang bersedia bekerja apa saja dengan bayaran murah menggeser para pekerja kulit putih.

Uniknya, terhadap Islam, justru malah kebalik. Kelompok ini malah mendeskriditkan sikap Islam yang ramah dan toleran. NU diserang. Islam Nusantara sebagai ciri keagamaan masyarakat lokal dikafir-kafirkan.

Malah mereka yang sering menampilkan wajah Islam yang beringas. Yang mentang-mentang dan mau menang sendiri. Kelompok-kelompok pendukung Prabowo, justru banyak diisi oleh tokoh-tokoh yang berwatak puritan dalam beragama.

Strategi membangun ketakutan ini tampaknya mau digoreng dengan kasus Ratna Sarumpaet. Bermodal hoax, mereka ingin menuding pemerintahan Jokowi suka menganiaya nenek-nenek. Eh, gak tahunya, yang hendak mereka jadikan simbol cuma nenek-nenek genit yang sibuk mengurus wajahnya. Kasus ini seperti menempeleng bagian belakang kepala Prabowo.

Dalam bahasa yang lebih akrab, Pranowo 'dikelepak' Ratna Sarumpaet. Atau ditoyor.

Tapi, seperti kata Abu Kumkum. Umur, jodoh dan nasib gak ada yang tahu. Kini usia Prabowo memasuki 67 tahun. Dia telah berkali-kali gagal maju sebagai Capres. Makanya Pilpres kali ini dia begitu ngotot mengalahkan Jokowi, sampai rela menjiplak strategi kampanye Trump mentah-mentah.

Ketika ekonomi kita dipuji dunia bahkan dijadikan salah satu contoh keberhasilan dalam suasana perang dagang yang tidak menentu, Prabowo malah teriak ekonomi kita hancur. Padahal dia sendiri dan Sandiaga Uno bertambah kekayaannya. Kalau ekonomi hancur, bagaimana bisa mereka semakin kaya.

Sandiaga juga sama. Dia ikut-ikutan menyebar ketakutan denga informasi hoax. Yang tempe setipis kartu ATM-lah. Atau harga makan di Indonesia lebih mahal dari Singapura. Jelas saja omongan Sandi ditujukan buat orang yang gak pernah dolanan ke Sinagapura. Jadinya gampang ditipu.

Jikapun ekonomi kita stabil, inflasi di bawah 3%, harga-harga stabil. Gak mungkin mereka mau mengakui hasil tersebut. Sebab strategi mereka memang cuma menyebarkan ketakutan.

Yang mereka lupa, warga Indonesia ini gak mudah ditakut-takuti. Wong, film horor selalu menempati jumlah penonton paling banyak. Atau ketika terjadi teroris malah jadi bahan tontotan. Jadi, ketakutan yang disebar Prabowo selain gak masuk akal juga hanya layak jadi bahan tontotan.

"Kum, kenapa ya, mereka gak mau mengakui keberhasilan Pak Jokowi," tanyaku.

"Gak mungkin, mas. Itu sama saja mereka punya mantan yang mau nikah sama orang lain. Eh, dia yang disuruh menyebarkan surat undanganya.  Sakiiitttt..."
Read more

Senin, 15 Oktober 2018

JOKOWI SANG MASTER KOMUNIKASI

Politik
Sandiaga Uno Pakai Rambut Pete

Orang tidak menanyakan apa agama atlet bulutangkis kita. Tidak menanyakan dari suku mana atlet Pencak silat. Yang dibicarakan adalah Prestasinya," ujar Presiden Jokowi, dihadapan sidang Senat Terbuka Universitas Kristen Indonesia, Jakarta.

"Yang heran, kok yang dibicarakan malah saya naik motor. Yang terbang itu. Jelas saya pakai stuntman-lah. Masa Presiden terbang-terbangan begitu," selorohnya lagi. Seisi ruangan pecah tawanya.

"Gila brow...," ujar Jokowi. Hadirin tertawa lagi.

Diselingi humor segar, pidato Presiden di hadapan mahasiswa ini memang memikat. Dia mengerti kepada siapa dia bicara. Bahasa dan celetukannya khas milenial. Dia menampilkan banyak prestasi Indonesia dalam slide yang tampil di layar lebar.

Apa isi yang disampaikan di hadapan mahasiswa itu? Bahwa kita perlu bangga menjadi bangsa Indonesia. Prestasi kita tidak kalah dengan bangsa lain. Jika bangsa lain menghormati Indonesia, masa kita sendiri yang mengecilkan negaranya.

Tapi semua itu disampaikan dengan komunikatif dan santai. Bahkan sesekali terdengar celetukan mahasiswa di tengah pidato Presiden. Pernah kamu mendengar pidato seprang Presiden diselingi celetukan?

Justru karena naturalnya, ribuan mahasiswa di ruangan itu menikmati hadirnya seorang Jokowi di kampusnya. Seorang Presiden dengan gaya kominikasi kelas wahid.

Padahal baru saja kemarin, di acara pembukaan IMF-WB meeting 2018 di Bali, pidato Jokowi di hadapan para kepala negara dan petinggi seluruh dunia mendapat standing ovation.

Jokowi berhasil memukau seluruh peserta yang hadir. Meski disampaikan dengan membawa serombongan tokoh fiktif dalam kisah Games of Thrones, dia berhasil mengkomunikasikan kritik pedasnya kepada AS dan China yang sedang terlibat perang dingin.

"Dalam sebuah pertempuran, yang menang maupun yang kalah sama-sama menderita. Sama-sama hancur," ujarnya. Lalu Jokowi mengajak seluruh kekuatan dunia untuk bergandengan tangan. Bekerjasama. Membangun kesejahteraan bersama.

Sebelumnya di acara pertemuan pemimpin Asean, pidato Jokowi juga mendapat aplus meriah. Saat itu dia membawa Thanos sebagai tokoh antagonis dalam membangun argumentasi. Sebuah cara elegan untuk menyentil.

Dulu banyak orang beranggapan kemampuan komunikasi verbal Jokowi dianggap kurang. Mungkin karena dalam setiap omongannya dia tidak menggunakan logika yang ndakik-ndakik. Pembicaraanya simpel, menghujam ke sasaran dan karena itu efektif. Jokowi adalah seorang komunikator yang efektif.

Orang bisa saja jago ngomong. Jago orasi. Tapi dia tidak bisa dikatakan hebat jika belum bisa bicara di depan anak-anak dan pendengarnya tetap terpukau. Banyak orang bisa orasi hebat, tapi begitu menghadapi audience bocah, langsung babak belur.

Berbeda dengan Jokowi. Di belakang istana Bogor, dia harus berbicara di depan anak-anak usia SD. Apa yang dikisahkan?

Dia membuka kisah tentang rusa di halaman istana yang digigit biawak. Itu adalah kisah nyata. Ketika membuka dengan cerita itu, lihatlah puluhan pasang mata bulat yang mungil itu. Terus melotot mendengar kisah yang membuat mereka betah duduk berlama-lama di atas rumput istana.  Dari kisah sederhana itu Jokowi menyelipkan nasihat dan pelajaran.

Tapi bagi anak-anak, yang hadir di depannya bukan hanya seorang tetapi juga seorang pendongeng yang menarik. Seorang juru cerita yang menyenangkan.

Atau coba nonton sambutan Presiden di depan masyarakat. Atau di pesantren. Bahasa yang digunakan sederhana. Banyak interaksi. Banyak melibatkan publik. Artinya dia bukan hanya mau di dengarkan, dia menyiapkan diri untuk mendengarkan. Bahkan mendengarkan celetukan hadirin.

Jarang ada pemimpin yang memikiki kemampuan komunikasi sekelas Jokowi. Di depan pimpinan dunia, pidatonya mendapat standing ovation. Di depan mahasiswa bahasanya segar dan gurih. Di depan anak SD, dia berubah jadi pendongeng yang efektif.

Kenapa cara komunikasi Presieen Jokowi begitu menarik? Mengapa setiap pidatonya sangat berkesan dan mampu meninggalkan kesan mendalam pada audiencenya?

Sebab Jokowi bicara dengan bahasa cinta. Dia bukan hanya bicara dengan lidahnya. Dia juga sedang bicara dengan hatinya. Dia hadir di depan forum bukan hanya sebagai seorang Presiden. Dia hadir sebagai seorang manusia biasa. Yang bersahabat. Yang dekat. Yang mengayomi.

Jujur saja. Di mata saya, Jokowi adalah seorang master dalam komunikasi. Dia menguasai panggungnya dengan sempurna. Penampilannya tidak berjarak, akrab tanpa kehilangan wibawanya.

Ketika bicara di depan anak-anak, dia hadir sebagai pendongeng yang mengasyikan. Ketika bicara di depan mahasiswa, dia hadir sebagai teman yang menyenangkan. Ketika bicara di depan pemimpin dunia, dia hadir sebagai seorang Presiden dari sebuah negara besar bernama Indonesia.

Orang boleh saja pandai bicara. Tapi seorang pembicara yang baik, mestinya dia juga pendengar yang baik. Dan untuk mendengar, butuh kerendahan hati. Butuh sikap yang tidak mentang-mentang. Butuh sikap natural yang keluar dari hati. Dengan itulah dia bisa berkominikasi dengan bahasa sesuai tingkatan pendengarnya.

"Mas, Sandi juga akan menarik kalau tampil di depan anak-anak," ujar Abu Kumkum.

"Pidato juga?"

"Gak perlu, mas. Dia nari-nari aja dengan memakai wig dari pete. Pasti anak-anak senang. Makasih, mama. Badut acara ulang tahunnya lucu..."
Read more

Sabtu, 13 Oktober 2018

ZOMBIE DI SEKOLAH KITA

Novel Bamukmin
Novel Bamukmin

Pilpres 2019 ini sudah mulai memasuki babak keterlaluan. Di SMU Negeri 87 kemarin, ada guru agama Islam yang main gila. Guru  ini menampilkan adegan bencana Palu, Donggala, dan Lombok dalam sebuah video pendek. Lalu murid-murid diminta menutup matanya.

Nah, ketika itu dia menceritakan bahwa gempa tersebut akibat kita memilih Jokowi sebagai Presiden. Bayangkan. Guru agama. Mengaitkan bencana alam dengan pilihan politik. Sebuah kengawuran level budeg.

Berita yang sama juga terjadi di Bogor. Di salah satu sekolah, ada guru agama dan PKN yang melarang muridnya masuk kelas kalau mereka ketahuan bersimpati pada Jokowi. Dengan tidak diperbolehkan masuk kelas, artinya murid diancam dengan nilai.

Kemarin ada yang lebih gila lagi. Pada acara di Posko Prabowo-Sandi, di HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta, seorang Novel Bamukmin berkata di hadapan jemaah.

"Ibu-ibu mau masuk surga? Minta sama Allah. Minta sama Rasulullah. Minta sama Prabowo dan Sandi," ujarnya tanpa malu-malu.

Guru-guru dan tokoh agama ini memang menyebalkan. Bagaimana mereka bisa merusak rasionalitas beragama dengan kebencian politiknya.

Sudah lama memang diindikasikan sekolah-sekolah kita menjadi ajang penyebaran paham garis keras. Liqo-liqo yang seolah mengajarkan agama tetapi sesungguhnya menggiring ke arah pilihan politik bermunculan. HTI merajalela. Mereka berkedok pengajian tetapi sesungguhnya mengajarkan anak-anak kita kebencian pada bangsanya sendiri.

Biang keroknya adalah para alumni sekolah yang keracunan pikiran ala Ikhwanul Muslimin di kampus-kampus  mereka dan juga guru-guru. Guru yang picik menjejali pikiran anak didik dengan logika yang melintir.

Bagaimana mungkin seorang guru agama mengaitkan terjadinya gempa di Palu, Lombok atau Situbondo dengan sebuah pilihan politik. Bagaimana mungkin mereka menyalahkan Presiden atas terjadinya bencana alam. Bencana alam, lebih disebabkan karena perilaku alam. Bukan karena perilaku politik manusianya.

Toh, negara-negara yang penduduknya kebanyakan penganut atheis biasa saja. Gak terjadi gempa dahsyat juga. Karena mereka hidup di wilayah yang memang tanahnya stabil. Sementara Indonesia, semua tahu, hidup di atas tanah cincin api. Kalau sesekali alam mencari titik keseimbangan baru, ya itulah alam.

Lagipula, kalau guru-guru itu mengaitkan gempa di Palu, Lombok dan Donggala dengan pilihan presiden, betapa culunnya dia. Coba lihat saja pada Pilpres 2014, di Palu dan Lombok justru dimenangkan oleh pasangan Prabowo. Bukan Jokowi.

Tapi sekali lagi. Gempa adalah bencana alam. Gak ada kaitannya dengan pilihan politik. Titik.

Nah, Novel Bamukmin lebih maju lagi dalam membodohi umat. Masa mau masuk surga mintanya kepada Prabowo dan Sandi. Agama dengan murah ditukar sama recehan.

Tampaknya Mendikbud harus mulai jeli mengawasi guru-guru pekok yang mengajarkan logika amburadul. Sebetulnya silakan saja kalau mereka mau memberikan pendidikan politik. Asal logika yang dibangunnya benar. Logika yang sehat. Bukan cara mikir gothak-gathuk seperti itu.

Kalau guru-guru kita dibiarkan terus mengembangkan logika semrawut, gabungan antara kebencian politik dan mistis, bisa dibayangkan bagaimana kualitas anak didiknya nanti.

Menurut saya, justru bencana terbesar bangsa ini bukan disebabkan karena gempa. Bukan karena tsunami. Tetapi guru-guru pekok itulah yang bisa menjadi bencana paling tragis pada sebuah bangsa. Sebab di tangan merekalah masa depan bangsa dititipkan.

Untung saja ada orangtua murid yang kritis. Mereka menolak anaknya jadi zombie bloon yang termakan omongan nir-nalar dari gurunya. Orangtua murid yang mau menyuarakan kegundahan hatinya karena anaknya dicekoki doktrin beragama yang payah. Mereka menolak anaknya jadi korban hasutan politik berbalut khotbah agama.

Sekolah-sekolah kita memang mengkhawatirkan. Guru-guru kita memang harus dibersihkan dari cara berfikir yang memuakkan. Pengajian-pengajian kita harus disterilkan dari slogan politik. Jika tidak, maka agama ini akan jadi barang mainan para pengasongnya saja.

Karena itu awasilah anak-anakmu. Jangan biarkan zombie-zombie di sekolah menggigit mereka menularkan virus kegoblokan. Jika kamu menemukan indikasi seperti itu disekolah anakmu, viralkan. Adukan. Kita ringkus zombie-zombie itu meracuni pikiran anak didik kita. Kita berantas virus yang ingin mereka sebarkan.

Bukan hanya karena guru-guru itu mendukung Prabowo. Jika ada guru dengan logika pekok yang mengajak anak-anak didik mendukung Jokowi juga perlu kita sadarkan. Pilihan politik adalah satu soal. Tata cara beragama adalah soal lain. Jangan dicampur aduk.

Silakan guru mengajarkan rasionalitas politik. Silakan membantu anak didik membuat pilihan-pilihan sehat. Tetapi jangan sebarkan kekacauan berfikir kepada anak didik. Ini jauh lebih berbahaya ketimbang bencana alam.

Pepatah mengatakan, guru kencing manis. Murid kencing batu. Jika dibiarkan lama-lama semuanya bermasalah dengan prostat.

Tapi katanya Novel Bamukmin sudah meralat ucapannya. Bukan 'minta', tapi cinta. Jadi kalau mau masuk surga, harus cinta sama Prabowo.

"Kasihan mbak Titiek. Dia bakalan masuk neraka, mas," ujar Abu Kumkum. "Udah gak cinta lagi..."
Read more

Jumat, 12 Oktober 2018

HELLO MISTER, ITU PRESIDEN GUE!

IMF-World Bank
Jim Yong Kim

Saya sudah 15 kali menghadiri pertemuan seperti ini. Baru kali ini opening speech mendapat standing ovation yang begitu lama," tulis ekonom Miranda Gultom, dalam akun media sosialnya.

Miranda sedang membicarakan pidato Jokowi dalam pembukaan formal IMF-WB Meeting 2018 di Bali. Ada 12 kepala negara yang hadir, ratusan direktur Bank sentral dan menteri keuangan dunia, serta pengusaha papan atas.

Kali ini para hadirin terpukau oleh pidato seorang Jokowi. Sebuah pidato yang singkat, padat tapi sangat mengena dan mewakili kepentingan negara-negara di dunia.

"Winter ia coming," ujar Presiden Jokowi menggambarkan kondisi ekonomi dunia saat ini.

Semua tahu saat ini dunia sedang panas-dingin akibat ulah AS dan China yang saling balas membalas dalam perang dagang. Beberapa hari lalu bursa saham di seluruh dunia sempat rontok, akibat kebijakan China yang menghalangi impor yang tidak tercatat.

Warga China yang baru saja bepergian ke seluruh dunia tidak diperkenankan membawa oleh-oleh barang mewah masuk ke China. Jika bisa, pajaknya diterapkan sangat tinggi.

Langsung saja saham perusahaan barang mewah anjlok. Perusahaan-perusahaan yang memproduksi Hermes atau LV atau merk mewah lainnya pusing tujuh keliling. Selama ini wisatawan China memang menjadi pelanggan mereka.

Kondisi ini menggambarkan, dalam dunia yang saling terkait ini, sebuah kebijakan kecil bisa berdampak luar biasa. Apalagi yang mengambil kebijakan adalah China dan AS. Keduanya adalah negara raksasa yang ekonominya terbesar di dunia. Jadi apapun ulah mereka akan membuat yang lain merinding.

Dalam suasana dunia seperti itulah pertemuan IMF-WB 2018 ini dilaksanakan. Di tengah kondisi itu pulalah Presiden Jokowi memberikan pidato yang mendapat banyak pujian.

Dalam pidatonya, Jokowi membawa kisah dalam film Games of Thrones. Dalam kisah film itu, masing-masing house atau klan saling bertempur untuk mendapatkan kekuasaan The Iron of Thrones. Semua pihak saling menghancurkan untuk mendapatkan dirinya paling berkuasa.

Tapi tahukah, di ujung sana ada seorang Evil Winter yang berniat menyelimuti seluruh kehidupan dengan salju. Dia hendak menyeret dunia ke dalam jaman es yang membekukan. "Akhirnya mereka sadar, tidak penting lagi siapa yang menduduki The Iron Thrones. Tapi mereka harus bekerjasama untuk menghadapi Evil Winter," ujar Jokowi.

Pidato itu seperti sebuah seruan pada AS dan China untuk menghentikan perang dagangnya, lalu memikirkan untuk saling bekerjasama untuk kesejahteraan dunia. Sudah terbukti, akibat ulah keduanya banyak negara kecil yang limbung.

Sebagian besar peserta disuarakan kepentingannya oleh seorang Jokowi. Indonesia tampil ke muka, bukan hanya menyampaikan seruan moral tetapi juga memberikan sebuah guide bagaimana seharusnya dunia ini dijalankan.

Saya sendiri merasa takjub, Presiden Jokowi dengan asyiknya membawa kisah film dalam pidatonya. Padahal jika dicermati suaranya cukup keras menggugat para raksasa yang sedang bertarung. Tapi ketika disampaikan dengan alegori yang pas, jadinya lebih enak diterima kuping.

Sehabis pidato pembukaan keren itu, entah kenapa rasa bangga saya sebagai orang Indonesia memuncak. Apalagi, ketika di ruang media yang disesaki ratusan wartawan dari luar dan dalam negeri, saya sempat nguling beberapa orang wartawan asing sedang ngobrol memuji pidato Jokowi yang keren itu.

"Itu Presiden gue, bro," kata saya dalam hati. Bangga.

"Mas, Jokowi pernah naik puncak Everest gak," sebuah WA Abu Kumkum nyelenong.

"Gak pernah, Kum. Emangnya kenapa?"

"Sama dong. Prabowo juga belum pernah."
Read more

Selasa, 09 Oktober 2018

MEREKA MENCELA SELURUH ORANG JAWA

Jokowi memakai baju adat
Jokowi memakai baju adat

Apakah Tuhan gak mengerti bahasa Jawa?

Tuhan Maha mengerti semua bahasa. Dari yang terucapkan sampai yang terpendam dalam hatimu. Bahkan bahasa yang disampaikan para semut ketika mereka berbaris beriringan di tembok rumahmu. Jangankan membaca Alquran dengan logat Jawa medok, kambing yang mengembik juga Allah paham bahwa mereka sedang berzikir.

Allah SWT menurunkan Alquran memang dengan bahasa Arab. Sebab kanjeng Nabi SAW sebagai insan terpilih untuk menyampaikan wahyu-Nya menggunakan bahasa Arab untuk berkomunikasi. Allah SWT sampaikan pada kekasihNya ayat-ayat penuh hikmah, agar bisa disampaikan lagi kepada semesta alam raya.

Tapi manusia itu terdiri dari bersuku-suku dan bangsa-bangsa. Juga beragam bahasa dan dialek. Sungguh sial orang China atau Jepang, yang pasti kerepotan mengeja bahasa Arab. Sebab ritual ibadah dalam Islam menggunakan bahasa Arab sebagai rukunnya. Sungguh sial orang sunda, yang menyebut Tuhannya dengan sebutan Alloh. Jika Allah SWT tidak memahami aneka dialek itu, bagaimana Dia bisa jadi Tuhan semesta alam.

Muhammad dilafalkan muhamaik, Allah dilafalkan Alloh, Alamain dilafalkan ngalamin, atau Alfatehah dilafalkan Alfatekha. Itu adalah cara pengungkaplan. Apakah Muhamaik bagi orang Sumbar berbeda dengan Kanjeng Nabi? Apalah Alloh bagi orang Sunda, beda maknanya dengan Allah bagi orang Arab? Apa Alfatekha bagi Jokowi berbeda dengan Alfatehah bagi Rizieq Shihab?

Hanya orang dungu dan sok ngarab aja yang mempermasalahkan pelafalan seperti iti. Sebab baginya Islam sama dengan Arab. Jika jauh dari Arab, mereka meragukan keislamannya.

Mereka memperkosa agama universal ini jadi cuma agama Timur Tengah. Padahal orang Arab sendiri juga gak gitu-gitu amat. Orang Indonesia yang kelolodan Arab saja yang lebih Arab dari orang Arab asli.

Jika bahasa begitu penting bagimu, bagaimana mereka yang bisu tuli? Apakah mereka tidak dihitung sebagai hamba Allah hanya karena mereka gak mungkin melafalkan bahasa Arab. Apakah Allah SWT tidak memahami bahasa isyarat mereka?

Sudahlah. Ketika engkau mempermasalahkan sebuah dialek masyarakat. Engkau tidak hanya sedang mencemooh seseorang. Sesungguhnya engkau sedang mencemooh semua warga masyatakat itu.

Ketika kamu mencemooh Jokowi yang mengucapkan Alfatehah dengan dialek Jawa, hanya karena dia memang wong Solo asli, kamu bukan hanya mencela seorang Presiden. Sesungguhnya kamu sedang mencela seluruh masyarakat Jawa yang berdialek sama dengan Jokowi.

Lalu dengan cara itu kamu mau menarik perhatian orang? Agar orang memandang Jokowi kurang islami, hanya karena dia mengucapkan Alfatehah dengan dialek Jawa?

Kurang islami dibanding siapa? Dibanding Prabowo?

Common, guys. Ente gak salah?

Sungguh, maksud hatimu mencela Jokowi. Tapi yang kamu sakiti seluruh masyarakat yang dialeknya sama dengan Jokowi.

Lalu kamu berharap ketika mencela seluruh orang Jawa, mereka mau menyumbangkan suaranya kepada Capresmu?

Nehi!

"Mas, kalau ada lomba mirip gaya orang Arab, kayaknya mereka bakal keluar juara satu deh," ujar Abu Kumkum.

"Hebat dong, kum."

"Iya, orang Arabnya sendiri sendiri juara dua..."

Read more

INDONESIA UNTUNG BESAR

World Bank
Anggaran acara IMF dari Tahun ke Tahun

"Mas, sebetulnya anggaran buat acara pertemuan IMF-World Bank 2018 di Bali itu berapa sih? Ada yang bilang Rp 855 milyar ada yang bilang sampai Rp 5,7 triliun. Kok, besar amat sih?".

"Anda kan, lagi di Bali. Ikut cawe-cawe di acara itu. Makanya saya tanyain?"

Seorang teman mengirim pesan WA. Saya tahu dia agak bingung. Bukan apa-apa. Soal pertemuan IMF-WB ini sekarang nasibnya kayak tahu bulat. Digoreng dadakan oleh gerombolan omong kosong, disajikan panas-panas. Targetnya untuk menutup malu kasus hoax Ratna Sarumpaet.

Saya yang lagi ngadem di pojok Kuta, terpaksa memantengin layar HP. Menulis jawaban untuk teman tadi.

Begini, kata saya. Anggaran pelaksanaannya sekitar Rp 855 miliar. Sebagian besar dari Depkeu, sebagian dikeluarkan BI. Anggaran itu untuk penyiapan venue acara, transportasi para tamu VVIP, persiapan teknis, sampai keamanan.

Nah, berkenaan dengan acara tersebut Bali perlu berbenah. Misalnya apron bandara Ngurah Rai perlu ditambah. Ada juga pembangunan infrastruktur lainnya. Jumlahnya mencapai Rp 5 triliunan.

Tapi kan, yang namanya infrastruktur gak akan habis. Setelah acara malah menguntungkan rakyat. Karena fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan langsung. Sama kayak kamu mau adakan arisan di rumah. Karena ngundang tamu, gak enak kalau tembok rumah banyak coretan. Lalu rumah kamu cat. Jadi kinclong. Setelah arisan, temboknya tetap bagus, kan?

"Jadi yang dipakai buat acara Rp 810 miliar itu? Besar juga, ya?"

Sebenarnya gak besar-besar amat. Malah Indonesia termasuk hemat. Tahun 2016 Singapura jadi tuan rumah perhelatan serupa menghabiskan Rp 2,29 triliun, Turki (2009) habiskan Rp 1,2 triliun, lalu Jepang (2012) habiskan Rp 1,1 triliun dan Peru (2015) menghabiskan Rp 994 miliar. Nah, Indonesia meski dianggarkan Rp 855 miliar, toh yang baru terpakai hanya sekitar Rp 600 miliar doang.

Dibanding negara lain, kita paling hemat. Padahal dari sisi peserta jumlah yang hadir disini paling banyak. Ada 20 kepala negara bakal hadir. Ada 400 menteri dan Gubernur bank sentral seluruh dunia juga hadir. Total peserta mencapai 34 ribu orang.

"Ya, katakan yang kepakai Rp 600 milyar. Tapi kan besar juga. Sementara negara kita sedang banyak musibah," teman itu ngotot.

Begini, ya mblo. Ok, kita keluarkan duit buat menggelar event itu. Tapi dari 34 ribu peserta yang hadir, mereka juga masing-masing keluarkan duit. Emangnya mereka datang kesini dengan tangan kosong? Wong, semuanya adalah sekelas VVIP. Duit  mereka ya, buat belanja. Sewa hotel. Kendaraan. Wisata. Diperkirakan selama acara mereka semua mengeluarkan duit sampai Rp1,5 triliun.

Siapa yang menikmati duit itu? Ya, masyarakat Bali. Plus masyarakat di daerah lain juga. Lombok ikut kecipratan, karena setelah acara banyak peserta yang mau sekalian wisata. Ada yang tetap di Bali, ada yang ke Lombok, Banyuwangi, Raja Ampat. Ada juga yang ke Danau Toba.

Kalau modal Rp 600 milyar terus dapat pendapatan Rp 1,5 triliun. Itu artinya untung apa rugi?

"Maksudnya, untung gimana?," kata teman tadi penasaran.

Baru saja mau menjawab, tiga orang turis lewat di depan saya. Semuanya pakai bikini, berjalan sambil tertawa-tawa lepas. Saya asyik memandangi tatoo bergambar bunga mawar dililit kelabang di punggung salah seorang dari mereka. Kayaknya mereka turis asal Jepang. Tatoo itu terlihat kontras didasar kulit putih seperti lobak. Shit! Konsentrasi saya jadi buyar.

"Mas, jawab dong," teman tadi mendesak. Punya teman resek begini, emang ngeselin. Keluhku dalam hati. "Buat Indonesia untungnya dimana? Kan kita keluarkan duit Rp 600 milyar," dia mendesak lagi.

Begini. Anggap pemerintah itu punya kafe. Rencananya ada orang yang menggelar acara mengundang banyak orang ke kafe kita. Sebagai pemilik kafe kamu beberes. Membetulkan kursi yang rusak. Menata interior. Keluar duit juga? Iya, keluar. Katakan keluar biaya Rp 600 ribu.

Nah, ketika acara berlangsung, semua yang datang membeli makanan di kafe kamu. Pemasukan sampai Rp 1,6 juta. Kamu untung apa rugi?

"Untung, dong."

Pemerintah juga gitu. Modalnya Rp 600 miliar. Tapi seluruh peserta menghabiskan dana langsung sampai Rp 1,5 triliun. Kita untung Rp 900 miliar kan? Cuma dengan menggelar event seminggu?

"Untungnya cuma itu doang?"

Wow, banyak lagi. Dari berbagai kerjasama yang disepakati pada event itu saja BUMN kita berhasil menarik investor asing untuk ditanamkan langsung sampai Rp 200 triliun. Bayangkan, Rp 200 triliun! Uang segitu akan berputar dalam perekonomian kita. Keren, kan?

Bukan hanya keuntungan langsung. Keuntungan tidak langsung juga kita dapati. Misalnya ketimbang kita menghabiskan dana untuk promosi pariwisata kita, lebih baik maksimalkan saja acara ini untuk memperkenalkan destinasi wisata di seluruh Indonesia.

Sekarang mereka bisa menikmati alam Indonesia. Setelah itu mereka akan bercerita soal keindahan Indonesia pada keluarganya. Pada koleganya. Pada sahabatnya. Nanti-nanti orang-orang yang dapat kisah indah itu akan datang kesini. Bawa duit. Bawa rezeki buat Indonesia. Rakyat diuntungkan lagi.

Keuntungan lainnya. Karena kita adalah tuan rumah, kita punya peluang untuk mendesakkan agenda pembicaraan pada acara itu. Menkeu Sri Mulyani, misalnya, mendorong dunia untuk memikirkan semacam asuransi bencana alam. Atau yang sejenisnya.

Kan, Indonesia terletak di wilayah cincin api yang rawan bencana. Jika usul itu disetujui dan menjadi perhatian dunia. Ini akan sangat bermanfaat bagi kita.

"Jadi acara itu bukan buat nambah utang, ya mas?"

Oh, gak dong. IMF mengutangi negara kalau negara itu krisis. Kalau ekonominya kacau. Lha, kata Direktur IMF Christina Lagarde, Indonesia itu gak butuh bantuan IMF. Karena ekonominya sudah dijalankan dengan baik. Pertumbuhan ekonomi juga stabil.

Malah sepertinya Indonesia dijadikan contoh negara-negara lain bagaimana mengelola ekonomi di tengah ketidakpastian dunia seperti sekarang. Bangga gak tuh, kita?

Saya bersemangat membalasnya. Tiga orang turis Jepang, entah sudah jalan kemana. Tapi tiba-tiba ada WA lain nyelenong. Dari Abu Kumkum.

"Mas, lagi di Bali, ya. Mata dijaga mas. Jangan sembarangan melotot."

 Semangat saya langsung drop. Untung saja ada pemandangan lain.

Di depan ada bule cantik, berjalan ke arah saya sambil senyum-senyum. Hidungnya bangir dengan rambut tergerai hitam. Menggenakan tank top hitam, dengan celana super pendek.. Eh, dia pakai melambaikan tangan, segala. Bikin orang grogi aja, nih bule. Saya deg-degan ketika dia makin mendekat.

Kampret! Rupanya dia menyapa cowok dekil anak pantai yang berdiri di belakang saya. Ketika mendekat, cowok itu langsung merangkul si bule. Membiarkan saya yang bengong sendirian.

Saya terdiam. Apa gue kurang dekil, ya?
Read more

Senin, 08 Oktober 2018

AIR SUSU DIBALAS AIR COMBERAN

Palu
Jokowi dan Korban Gempa Palu

Malas ah, ngomongin Capres raja hoax. Semua isu yang disampaikan tim suksesnya bertujuan hanya satu: agar Indonesia rusak.

Ingat ketika tsunami Aceh. GAM yang merupakan gerakan separatisme sepakat menghentikan perang. Mereka disadarkan, Aceh harus dibangun bersama. Tidak boleh ada konflik lagi yang memecah belah rakyat tanah rencong itu. Aceh pulih dengan perdamaian.

Tapi, apa yang dilakukan tim kampanye BOSAN ketika Gempa menimpa Palu dan Donggala? Mereka malah terus menerus menikam pemerintah Jokowi dengan berbagai fitnah. Padahal sudah Presiden dua kali datang ke lokasi, pemimpin sendiri proses penanganan bencana.

Sementara Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola dari partai Gerindra. Walikota Palu asal Partai Demokrat dan Wakilnya dari PAN. Nah, pihak yang paling bertanggungjawab atas penanganan gempa adalah pemerintah daerah. Pemerintah pusat membantu semaksimal mungkin.

Lihat saja kiprah Gubernur Sulawesi Tengah ketika gempa terjadi. Bandingkan dengan Tuan Guru Bajang di NTB, ketika wilayahnya tertimpa bencana. Jauh bangetkan? TGB aktif menangani rakyatnya yang kesusahan.

Nah, kalau orang-orang Gerindra nyinyir soal penanganan bencana yang kata mereka gak maksimal. Itu sama saja mereka menyeka wajahnya sendiri dengan kain pel. Wong, kepala daerahnya dari Gerindra juga.

Yang memuakkan di tengah-tengah tangis warga Sulteng, mereka memainkan hoax murahan di Jakarta. Nenek-nenek yang baru kelar operasi plastik, dibilang korban penganiayaan.

Apa tujuannya? Untuk menarik perhatian publik. Agar mata kita teralih dari kesedihan rakyat Palu dan Donggala, lalu menoleh ke sosok Prabowo sang pembela Ratna Sarumpaet. Niatnya mau jadi pahlawan, cuma bermodal pembelaan kepada seorang perempuan uzur yang tetap mau terlihat kencang.

Tapi Tuhan gak tidur siang. Dia bekerja dengan caranya sendiri. Hoax terbongkar, dan pasukan omong kosong itu kini kalang kabut.

Saya tidak paham logika apa yang mau dibangun. Mereka ingin menunjukan empatinya pada seorang Ratna Sarumpaet, lalu berharap rakyat jatuh hati. Prabowo turun langsung menunjukan pembelaannya pada satu orang. Padahal ribuan warga Palu dan Donggala yang kesusahan sampai sekarang tidak pernah ditolehnya.

Entahlah. Apakah empati pada Ratna Sarumpaet, menurut logika mereka jauh lebih penting dibanding pada ribuan warga Palu dan Donggala?

Waktu Pilkada kemarin, warga Sulteng memberikan suaranya buat calon Gubernur dari Gerindra. Akhirnya menang. Sekarang para petinggi Gerindra malah hendak mengalihkan perhatian rakyat Indonesia yang sedang bersimpati pada korban bencana dengan menyebar hoax. Bagi rakyat Sulteng kelakuan itu seperti air susu dibalas dengan air comberan.

Untung saja Jokowi gak terlalu peduli dengan ulah kampungan seperti itu. Jokowi terus berkonsentrasi memulihkan warganya yang terkena bencana. Apapun pilihan politiknya.

Setelah sandiwaranya terbongkar oleh pengakuan Ratna Sarumpaet, kini nenek 70 tahun itu dilaporkan ke polisi oleh tim Prabowo-Sandi.

"Kalau Bu Ratna masuk penjara, percuma dong dioperasi plastik. Pas keluar nanti, sudah kendor lagi," ujar Bambang Kusnadi. Tukang bubur yang satu ini sudah lama gak terdengar.

"Yang kendor kan luarnya, mas," timpal Abu Kumkum.

"Emang dalamnya gak kendor, Kum?"

"Meleleh, mas..."

Read more