Jumat, 12 Agustus 2016

6500 TAHUN

6.500 TAHUN!

Dua-Tiga hari ini saya sering melihat status teman-teman yang gigih membela Lutfi Hasan Ishaaq. Mantan Presiden PKS itu dihukum 16 tahun penjara karena terbukti korupsi Rp 1,3 milyar. Para pembela LHI merasa hukuman itu tidak adil.

Logika mereka begini. Nazzarudin korupsi Rp34 milyar, dihukum 4 tahun. Gayus korupsi puluhan milyar, dihukum 8 tahun. Anggelina Sondakh korupsi Rp 27 miliar, dihukum 12 tahun. Masa LHI yang bukti korupsinya dalam persidangan Rp1,3 milyar dihukum sampai 16 tahun?

Ada seorang petinggi PKS berkomentar sinis menanggapi hukuman LHI ini. "Kalau mau korupsi, korupsilah yang banyak. Agar hukumannya lebih ringan."

Tapi di mata saya, logika matematika dalam kasus hukum seperti ini yang membandingkan lamanya hukuman dan banyaknya jumlah uang yang didapat secara tidak syah sungguh aneh dan lucu. Saya yang bukan orang hukum saja merasa aneh sendiri dengan logika seprti itu.

Mengikuti logika ini, saya mencoba membandingkan. Ada seorang maling ayam yang dijatuhi hukuman 6 bulan penjara. Harga ayam mungkin hanya Rp100.000. Nah, kalau dibandingkan dengan kasus ini, kita bisa hitung apakah hukuman LHI lebih ringan atau lebih berat?

Jika Rp 100.000 setara dengan 6 bulan penjara, maka korupsi Rp1,3 milyar itu harusnya dihukum 6.500 tahun!

Atau kita balik analoginya. Jika Rp1,3 milyar itu setara dengan 16 tahun, maka orang yang mencuri Rp100.000 harusnya cuma dihukum 9 jam! Dengan begini, seorang pencuri yang 'taat hukum' dan kosisten akan punya penghasilan jauh lebih besar dari UMR Jakarta dalam sebulan.

Mengikuti logika pembela LHI ini, sama saja artinya dengan seruan ayo rame-rame kita jadi pencuri!

Ada satu lagi. Rp 1,3M itu adalah besaran bukti Korupsi LHI. Tapi dia juga disangkakan pencucian uang. Berapa nilanya? Kita bisa liat aset LHI yang disita negara :

Barang bukti Nomor 42, aset-aset yang terdiri atas:
1. 1 unit Toyota FJ Cruiser 4.0 A/T warna hitam.
2. 1 unit VW Caravelle warna deep black.
3. 1 unit Mazda CX 9.
4. 1 unit Mitsubishi Grandis.
5. 1 unit Mitsubishi Pajero Sport.
6. 1 unit Nissan Frontier Navara.
7. 1 unit Toyota Alphard.
8. 1 unit rumah di Jalan Batu Ampar IV RT 9 RW 03, atas nama Tanu Margono selanjutnya digunakan Ahmad Zaky.
9. 1 unit rumah di Jalan Batu Ampar IV RT 09 RW 03 atas nama Tanu Margono selanjutnya digunakan Ahmad Zaky yang diatasnamakan Jazuli Juwaini.
10. 1 unit rumah di Batu Ampar atas nama Tanu Margono dan Budiyanto.
11. 1 unit rumah di Jalan H Samali nomor 27 Pasar Minggu digunakan Ahmad Zaky.
12. 1 unit rumah di Jalan Batu Ampar IV atas nama Tanu Margono. Akta jual beli antara Tanu Margono dengan Luthfi Hasan.
13. 1 unit rumah yang terletak di Jalan Batu Ampar atas nama Tanu Margono. Akta jual beli antara Tanu Margono dengan Luthfi Hasan.
14. Rumah di Perumahan Bagus Residence Kavling B1 Jalan Kebagusan Dalam Lenteng Agung, Jaksel.
15. Tanah dan bangunan di Jalan Loji Barat nomor 24 RT 17 RW 02 Desa Cipanas Kecamatan Pacet, Cianjur. Luas bangunan 260 m2 atas nama Hilmi Aminuddin.
16. 1 bidang tanah di Rengasdengklok, Kecamatan Leuwiliang, Bogor, atas nama Luthfi Hasan.
17. 1 tanah di Desa Leuwimekar, Kecamatan Leuwilang, Bogor, atas nama Luthfi Hasan.
18. 1 bidang tanah di Desa Barengkok, Bogor, atas nama Luthfi Hasan.
19. 1 bidang tanah di Desa Barengkok, Bogor, atas nama Luthfi Hasan.
20. 1 bidang tanah di Leuwimekar, Bogor, luas 3180 m2, atas nama Luthfi Hasan.

Barang bukti Nomor 43, uang tunai:
Uang tunai Rp100 juta terdiri atas pecahan Rp100 ribu sebanyak 700 lembar yang setara dengan Rp70 juta, serta pecahan Rp50 ribu sebanyak 600 lembar setara dengan Rp30 juta.

***
Jadi, sudahlah. Jika ingin membangun bangsa ini dengan bersih dan peduli, awalilah juga dengan tindakan yang bersih. Janganlah menjadi pembela koruptor, meskipun itu dilakukan oleh ustad kita sendiri. Dengan logika yang lucu dan bohongi rakyat, lagi. Sebab pembelaan seperti itu semakin menunjukan, bahwa sebetulnya partai itu tidak benar-benar ingin bersih dan tidak terlalu peduli..
Load disqus comments

0 komentar