Selasa, 09 Agustus 2016

SAYA MAHLUK ABNORMAL

Sekitar pertengahan 1990-an, Saya pernah bersama teman-teman wartawan datang ke tempat pengurusan SIM. Saya masih kuliah sambil nyambi cari makan sendiri jadi kuli informasi. Karena sering liputan di lingkungan Polda Metro Jaya, kami mendapat layanan pembuatan SIM kolektif. Biayanya lebih murah dibanding menggunakan jasa calo.

Prosesnya cepat. Ujian tulisnya gampang, karena dalam lembaran soal sudah ada contrengan jawaban yang benar. Jadi, anak kecil juga bisa. Dipastikan kami lulus ujian tulis dengan nilai hebat. Kemudian kami  menuju ruang foto. Tidak lama kemudian, jadilah SIM kami.

 Nah, sambil menunggu proses itu, kami melihat beberapa orang yang sedang mengikuti ujian keterampilan mengendarai motor. Ada instruktur Polisi yang mengawasi dengan ketat. Mereka susah payah meliuk-liuk di tengah hari yang terik.  Keringat bercucuran. Sesekali dibentak petugas karena gagal melewati rintangan. Ketika iseng-iseng saya tanya, ada yang sudah tiga kali bolak-balik ujian pembuatan SIM tapi tidak kunjung lulus.

”Ujian tulis saya gagal, mas. Lalu balik lagi, ujian lagi. Kemudian, ketika ujian praktek saya juga pernah gagal. Jadi ini kali ke tiga saya mencoba mendapatkan SIM,” kisah salah seorang diantara mereka. Kok mereka mau-maunya ya, seperti itu. padahal tinggal menambah uang sedikit, urusan jadi lebih simpel dan beres.

Dari seluruh proses pembuatan SIM waktu itu, saya kira, hanya sedikit saja orang yang mengikuti dengan benar. Sebagian besar, ya, orang-orang seperti saya ini --lewat jalur cepat. Entah dengan membayar lebih kepada calo atau dengan menggunakan kedudukan. Saya dan teman-teman termasuk orang yang memanfaatkan profesi wartawan untuk mendapat jalur cepat itu. Dan, sret!, SIM tinggal diambil. Saya membuat dua buah SIM, untuk motor dan mobil. Padahal pada saat itu, saya belum lancar benar menyetir mobil...

Artinya saya termasuk golongan orang-orang yang seharusnya tergolong abnormal. Tapi dihari itu, dari penglihatan sekilas, saya yakin orang-orang abnormal seperti saya ini jumlahnya jauh lebih banyak dibanding mereka yang mengikuti prosedur seharusnya.

Saya jadi teringat syair Ronggowarsito dalam serat Kalatidha. ”Menyaksikan zaman gila, serba susah dalam bertindak. Ikut gila tidak akan tahan,tapi kalau tidak mengikuti (gila), tidak akan mendapat bagian.”

Singkatnya ketika sebagian besar orang abnormal, justru mereka yang normalah yang jadi kelihatan abnormal. Contohnya, ya, saya ini yang merasa normal dan menganggap abnormal mereka yang mengikuti jalur lurus dalam proses pembuatan SIM.

Ada kisah lain tentang ujian negara yang pernah menjadi alat penting kelulusan siswa. Ini dialami Siami, ibu seorang murid SD Gadel 2, Surabaya. Saat ujian nasional, anak Siami yang tergolong cerdas dipaksa oleh guru-gurunya untuk memberi contekan kepada teman-temannya yang lain. Tujuannya agar mereka semua dapat lulus Ujian Nasional. Mungkin bagi sebagian guru disana, memberi contekan itu adalah jalan luhur untuk membantu teman. Menjaga kebersamaan. Tidak egois dan mau lulus sendiri. Tapi mungkin tidak begitu menurut Siami. Ibu yang sederhana ini berfikir lain. ”Jika sejak kecil anak-anakku sudah diajarkan berbohong, akan jadi apa mereka kelak.”

Lalu Siami melaporkan kelakuan guru dan sekolah tersebut ke Dinas Pendidikan. Lalu guru-guru itu di mutasi. Lalu ada usul untuk mengulang Ujian Nasional bagi murid SD Gadel 2. Dan yang paling mengagetkan, Siami harus menanggung kemarahan para orangtua murid lain. Dianggap sok, dan dimusuhi warga. Lalu Siami diusir dari kampung tempat tinggalnya. Perempuan penjahit gorden itu akhirnya mengungsikan keluarganya ke Gresik.

Di dunia film, entah siapa yang normal, siapa yang abnormal. Aa Gatot Brajamusti, seorang lelaki berprofesi sebagai paranormal justru terpilih sebagai ketua umum Parfi (Persatuan Artis Film Indonesia). Mungkin alasannya cuma karena dia banyak berteman dengan artis. Atau karena sering diliput infotainmen.

Selain ketua Parfi dia juga dikenal sebagai penasihat spritual para pesohor. Posisinya mirip kyai, dengan pakaian gamis dan penampilan luar sangat Islami. Infotainmen juga menggolongkannya sebagai penceramah agama. Tapi, belakangan kita tahu, Aa Gatot ditangkap mengkonsumsi narkoba.

Saya jadi teringat Kurt Cobain, pentolan Nirvana yang mati di usia muda karena tersedak muntahan sendiri saat mabuk. Dia memang urakan, penuh protes dan tidak peduli dengan kehidupan. Orang melihatnya sebagai mahluk abnormal. Tapi setidaknya dia jujur.

"Kalian menertawakanku karena aku berbeda. Aku justru menertawakan kalian, karena kalian semua serupa," begitu katanya. Dan sampai saat ini saya masih mendengarkan Nirvana. Saya juga tertarik membaca biografi Kurt Cobain. Tapi, sungguh, saya sama sekali tidak tertarik mengetahui siapa sebenarnya Aa Gatot.


Load disqus comments

2 komentar