Senin, 15 Agustus 2016

DHANI CUMA MUALAF POLITIK

Di mata saya Ahmad Dhani cuma seorang mualaf di dunia politik. Dia geer ketika PKB Jakarta memilihnya jadi salah satu alternatif kandidat Calon Gubernur DKI.

Padahal PKB cuma iseng. Hanya untuk test reaksi publik. Juga untuk meningkatkan bargaining. Tapi Ahmad Dhani, seperti biasanya, malah over acting. Dia beranggapan dapat kunci mobil gratis dari PKB. Lalu merasa mobil itu bisa dipakai kemana saja.

Baru beberapa hari namanya mencuat, Dhani berkunjung ke Kalijodo. Maksudnya mau menunjukan simpati, malah jadi bahan bully.

Apa juga pengaruhnya seorang pentolan band datang ke Kalijodo? Cuma mau foto-foto sambil gendong bayi? Dhani benar-benar tidak update selera pasar di dunia politik. Kampanye model begini hanya cocok dilakukan di jaman The Beatles.

Yang membuat PKB makin gerah, ketika congor Dhani makin gak bisa direm. Dia mulai mengusik-usik isu rasial.

Sesumbar rasial itu langsung mematahkan kekaguman saya pada album Dewa 19, Republik Cinta. Album itu dan beberapa syair lagunya menyanjung universalitas cinta. Tapi rupanya syair itu hanya dibuat sebagai komoditas. Cuma bahan dagangan doang. Bukan refleksi ideologi si pencipta lagu.

Lalu apa ideologi Ahmad Dhani? Jualan! Agar laku dia sering memanfaatkan eforia massa. Album Republik Cinta, misalnya, dibuat Dhani saat jaman Gus Dur. Dia seperti naik ke pundak Gus Dur untuk mempromosikan barang dagangannya.

PKB mulai sadar dan ingin menjauhkan Ahmad Dhani. Mereka tidak kepingin pikiran rasialis Dhani diidentikan dengan PKB. Sebab PKB lebih suka didekatkan dengan Gus Dur yang pluralis ketimbang diindentikkan dengan seorang bocah pecicilan.

Akibatnya Ahmad Dhani kini cuma jadi gelandangan politik. Tidak lagi punya rumah. Tidak lagi punya tempat tinggal. Kehadirannya tidak direken.

Banyak tokoh seperti Ahmad Dhani. Kebisaannya hanya menulis lagu, tapi merasa hebat jadi pemimpin publik.

Biasanya, orang-orang seperti ini sering over acting. Juga baper.
Load disqus comments

0 komentar