Senin, 15 Agustus 2016

AYO PAKDE, JANGAN KUATIR MENGOREKSI KEBIJAKAN

Pak Jokowi jangan takut untuk mengkoreksi kebijakan yang salah. Anda manusia, bisa saja salah. Meski kesalahan elementer ini sebenarnya tidak perlu terjadi. Jika menteri Arcandra Tahar memang sempat punya kewarganegaraan AS, itu bisa menjadi masalah yang akan bikin ribet dikemudian hari.

Katakanlah dia orang pintar dan memahami dunia perminyakan. Wong sekolah dan karirnya saja bergulat di dunia itu. Dia juga CEO perusahaan energi Multinasional. Oke, itu pilihan yang pas, jika dinilai dari sisi kemampuan. Tapi, pak, ini masalahnya berkenaan dengan UU. Dan bagi kehidupan berbangsa, UU adalah kitab suci.

Begini Pakde. Menteri ESDM mengendalikan sebuah kementerian yang begitu syarat kepentingan. Kekayaan dan potensi energi Indonesia itu masih luar biasa. Semua baron migas di seluruh dunia ngiler mendengar nama Indonesia. Apalagi kian ke sini, energi menjadi persoalan penting bagi kehidupan manusia.

Dengan kekayaan itu banyak kontrak kerja maupun kontrak karya dengan berbagai perusahaan asing, yang akan ditandatangani seorang menteri ESDM. Jika secara hukum orang yang menandatangi berpotensi masalah, itu sama saja menanam bom waktu bagi Indonesia.

Bagaimana dengan kekuatan kontrak itu? Bagaimana dengan kebijakan yang akan diambilnya? Bagaimana dengan keabsahan semua produk hukum yang akan dikeluarkan Menteri ESDM? Ke depan, ini bisa menghabiskan energi yang tidak sedikit. Memang pak, kalau orang terlalu lelet, itu bisa menghambat pekerjaan. Apalagi yang lebay. Tapi terlalu terburu-buru juga bisa kepleset, lho pak.

Jadi Pak Jokowi, dengan segala hormat, gak apa-apa mengkoreksi kebijakan jika memang dibutuhkan. Jika dibutktikan Archandra memang punya paspor ganda, ya jangan ragu-ragu melaklukan reshuffle. Tapi jika secara hukum diyakini posisi kewarganegaraanya tidak bermasalah, ya Alhamdulillah.

Kita tidak sedang meragukan komitmen nasionalisme Archandra Tahar. Dengan dia mau jadi menteri bergaji sekian ratus juta, lalu melepaskan kedudukan sebelumnya dengan pendapatan jauh lebih besar, itu sudah menunjukan soal pilihan nasionalisnya. Cuma, sekali lagi, soal hukum ini bisa menjadi blunder yang tidak perlu. Syukur-syukur jika memang sebetulnya tidak ada masalah.

Intinya, jika memang ada kesalahan teknis, tapi secara hukum berdampak subtansial. jangan ragu mengkoreksinya, pak. Bapak tidak perlu kuatir disorakin Jonru. Dia itu mirip cheerleader. Kerjanya memang cuma sebagai pemandu sorak.

Lihat saja lejingnya. Seksi, kan?
Load disqus comments

0 komentar