Senin, 15 Agustus 2016

BIHUN BIKINI


Sepasukan polisi datang mengerebek sebuah rumah tempat memproduksi Bihun Bikini. Nama produk itu sendiri singakatan dari Bihun Kekinian. Makanan kecil bihun goreng, dengan gambar bikini pada kemasannya. Plus bacaan, "remaslah aku".

Kasus ini heboh karena gambar bikini dan kata 'remaslah aku' itu. Setelah itu baru dikait-kaitkan dengan ijin BPOM dan sertifikasi halal. Kalau alasannya soal ijin BPOM, coba saja ke pasar. Lihat produk jajanan anak-anak murahan. Kita akan temukan ratusan jenis yang boro-boro ada ijin BPOM.

Atau coba ke restoran padang, lihat kripik singkong pedes atau kerupuk kulit di sana. Ada gak, ijin BPOM di kemasannya. Ada gak informasi kadaluarsanya? Gak ada! Bermasalah? Gak tuh.

Lalu kenapa Bihun Bikini jadi heboh?

Pangkal utamanya dari pikiran yang isinya soal seks melulu. Ini makanan diberi nama oleh pembuatnya Bihun Bikini (singkatan bihun kekinian --sebuah idiom khas anak muda). Jadi kalau logonya gambar bikini ya, wajarlah. Sesuai dengan namanya. Kalau gambarnya Gorila, namanya jadi Bihun Cap Kingkong.

Sebagai sebuah trik marketing, saya pikir ini perlu diapresiasi. Terbukti dari keberhasilannya menjual 11.000 bungkus. Jualnya via online, artinya pasar yang dituju memang bukan anak-anak. Dan asyiknya, produsennya seorang mahasiswi, 19 tahun.

Inti persoalanya karena gambar di kemasan, bukan soal ijin BPOM. Lha, 13 tahun vaksin palsu beredar, BPOM kemana aja? Ada ratusan makanan ringan di pasar, toh semua santai-santai aja. Atau apakah seluruh pegawai BPOM belum pernah makan di resrotan padang dan mencicipi keripik singkong atau kerupuk kulitnya?

Jadi masalahnya karena gambar bikini dan kata-kata 'remaslah aku', kan? Menyantap bihun kering itu memang perlu diremas dulu, biar bihunnya hancur. Agar gampang dicomot. Jangan mikir aneh-aneh dulu.

Kita tahu Pratiwi berrmaksud melempar humor dengan kemasan bihunnya. Dan publik yang tidak punya selera humor kebakaran jenggot, sebab otaknya seperti sedang berhayal membaca stensilan saat melihat kemasan snack itu. Ditambah aparat yang sering over acting. Lengkaplah penderitaan Pratiwi.

Kemarin ada seorang lulusan SD membuat TV dari perkakas bekas juga digelandang seperti maling. Sekarang ada mahasiswi kreatif digrebek seperti bandar narkoba. Alih-alih menegakan hukum, justru membunuh semangat inovasi dan kreatifitas rakyat.

Sudah waktunya aparat dan pihak berwenang lebih arif menangani kasus-kasus seperti ini. Saya membayangkan, pada kasus-kasus sejenis Dinas Perindustrian atau Dinas yang mengurusi UKM turun terlebih dulu memberi pengarahan. Itu akan jauh lebih baik, sambil membina semangat wirausaha rakyat. Ketimbang main gerebek seperti menghadapi bandar narkoba.

Saat nonton Spongebob, kita tidak bisa lagi melihat Shandy (sang tupai) secara utuh. Tampilannya diblur, karena memakai bikini. Sekarang publik heboh soal bihun bikini.

Saya jadi bertanya, kita ini sebenarnya mahluk apa sih? Masa sama Tupai dan Bihun aja bisa terangsang!
Load disqus comments

0 komentar