Jumat, 12 Agustus 2016

BULU AYAM

Bulu-bulu ayam itu disisipkan ke dalam lembar-lembar buku sekolahnya. Kata temanku bila dirawat dengan baik bulu-bulu itu bisa tumbuh. "Coba saja kamu simpan," katanya menganjurkan. Karena tidak enak untuk menolak saya menyimpannya juga. Sehelai bulu ayam dalam buku bahasa Indonesia.

Setelah lulus SD, kami berpisah sekolah. Tapi kebiasaannya menyimpan bulu ayam masih terus dilakukan. Saya sendiri mulai menyadari itu adalah pekerjaan sia-sia. Sampai suatu saat ketika saya kelas 2 SMP dia mampir ke rumah. Masih menggenakan seragam sekolah.

"Lihat," katanya, saraya membuka tas sekolahnya. Di dalamnya ada dua ekor anak ayam. "Jika kita yakin apapun bisa terjadi. Ayam-ayam ini lahir dari bulu yang aku simpan di sela-sela buku."

"Kok bisa?," saya tidak percaya. Di bangku SMP saya sudah mendapat pelajaran biologi yang menjelaskan mahluk hidup berasal dari mahluk hidup sebelumnya.

"Itulah masalah kamu. Tidak pernah punya keyakinan yang kuat. Kamu terlalu percaya pada buku-buku. Kamu tidak pernah tahu, ada kegunaan lain dari buku selain dibaca."

"Kegunaan lain?"

"Iya, buat nyimpen bulu ayam," katanya santai. "Otak kamu selalu penuh pertanyaan.. Orang seperti kamu tidak mungkin mendapatkan keajaiban!"

Puluhan tahun berlalu. Teman saya itu sekarang hidup berlimpah. Peternakan ayamnya maju pesat. Modalnya cuma satu : keyakinan. Sesuatu yang, menurutnya, tidak saya miliki.

Sampai suatu saat saya menemukan profil FB-nya. Dengan penasaran saya menelusurinya. Rupanya dia adalah penggemar berat Jonru. Banyak status abang itu yang dia bagikan di wall-nya.

Dan saya tersentak ketika membaca status terakhirnya. "Akhirnya dapat juga empat helai rambut penulis idolaku," begitu tulisnya.

Otakku berputar. Membayangkan empat helai rambut penulis kondang itu, yang kini ada di tangan temanku? Ini gila! Jika dia menyelipkannya di sela-sela bukunya, bagaimana masa depan Indonesia nanti?

Ahhh, kegilaan temanku itu harus dihentikan!
Load disqus comments

0 komentar