Jumat, 12 Agustus 2016

CELANA DALAM ISTRI



"Tepat hari ini, sudah ada 35 celana dalam," ujar seorang lelaki. Usianya memasuki masa pensiun. Sebetulnya sudah lewat, tapi karen kinerjanya pensiunnya ditunda. "Angka 35 itu sesuai dengan usia perkawainan kami."

"Bapak simpan di mana celana-celana itu?," tanyaku penasaran. Rupanya dia saya punya koper khusus, tempat menyimpan celana-celana dalam itu dengan rapi. Koper itu letakan di bawah meja kerjanya. Ketika pindah kantor, barang yang tidak lupa dibawa adalah koleksi celana dalamnya itu.

"Kata orang, celana dalam istri bisa menghalau santet. Makanya sejak pertama kali aku berkarir, sampai sekarang aku tidak pernah kena santet. Kamu tahukan, persaingan mencari jabatan disini. Saling sikut. Apalagi kalau menyangkut proyek. Bisa-bisa saling bunuh. Meski dilakukan dengan pelan-pelan, tentu saja."

Karirnya memang cemerlang. Sejak menikah kehidupannya terus menanjak. Itu saya dengar dari cerita banyak orang. Rahasianya : setiap tahun, dia 'mencuri' celana dalam istrinya. Lalu dikumpulkan dalam satu koper. Diletakan di ruang kerjanya. Dan jadi jimat.

Pencurian itu dilaksanakan saat dia merayakan hari jadi perkawinannya. "Harus yang habis pakai. Yang belum dicuci," jelasnya. "Kalau yang sudah dicuci, khasiatnya luntur. Percuma." Entah dia mendapat ajaran dari mana. Tapi yang pasti, tindakan itu konsisten dia lakukan. Dan karirnya memang cemerlang.

Nah, 35 tahun perkawinan, dia sudah punya koleksi 35 celana dalam istrinya. Bentuk dan warnanya tentu macam-macam. Tergantung apa yang dikenakan sang istri saat hari jadi perkawinan mereka. Menurutnya, si istri tidak boleh tahu kebiasaan selama 35 tahun ini. "Harus dilakukan diam-diam."

"Kamu tentu bertanya, kenapa saya melakukan ini. Iya, toh?" Saya memang menunjukan wajah penasaran. "Celana dalam adalah benda paling privasi dari seseorang. Apalagi wanita. Nah, dalam perkawinan, ruang privasi sudah luntur. Sudah hilang batasnya," jelasnya. "Jadi yang pertama, koleksi-koleksi ini sebagai tanda bahwa 35 tahun lalu kami telah meleburkan ruang privasi. Semuanya menjadi ruang bersama. Itu makna perkawinan. Menurut saya, itu sesuatu yang sakral?"

"Lantas," katanya melanjutkan, "Celana dalam ini sangat ampuh melawan santet dan bikin-bikinan orang jahat. Kita tidak tahu, kan, siapa yang bermaksud jahat. Biasalah, hidup. Apalagi kalau sudah menyangkut bisnis, uang atau politik. Apapun bisa dilakukan orang untuk mencelakakan lawannya. Nah, celana dalam istri saya itu mampu menangkal semua niat jahat orang."

"Jadi tidak perlu lagi Eyang Subur, ya Pak," canda saya. Tawanya lepas.

"Iya, iya. Mungkin fungsinya sama. Eyang subur dan celana dalam," timpalnya. Kami tertawa. Saya mungkin sedang membayangkan wajah Eyang Subur.

"Apa yang menarik dari 35 celana dalam itu?," tanyanya. Tentu saya tidak berani menjawab. Mengkomentari urusan celana dalam istri seorang pejabat. meski diminta oleh suaminya sendiri, tentu bukan perkara gampang. Salah-salah komentar, bisa kacau suasana.

"Ukurannya ituloh," jawabnya, tanpa menggungu respon saya

"Maksudnya?"

"Begini. Lima atau enam celana dalam di awal perkawinan, ukurannya masih enak dilihat. Kira-kira ukuran S lah. Mungil dan seksi. Kesini-sini, lama-lama ukurannya melar. Sekarang, saya rasa setiap tahun saya mencuri celana dalam ukuran XXL..."

"Kesaktiannya tambah besar juga dong. Sesuai ukuran." Saya kaget dengan komentar saya sendiri.

Dia hanya tersenyum. "Saya rasa, iya," gumamnya hampir tidak terdengar.
Load disqus comments

0 komentar