Senin, 15 Agustus 2016

CEPLAKAN TANGAN RIZA

Salah satu yang terserang radang gusi saat mendengar rekaman full pembicaraan 'papa minta saham' adalah Pak Prabowo.

Dalam rekaman tersebut, dengan enteng Riza Chalid ngomong telah menyawer Rp 500 miliar kepada pasangan Prabowo-Hatta saat Pilpres.

Sumbangan jumbo itu tentu melangar UU, yang membatasi jumlah sumbangan perseorangan maupun badan pada peserta Pemilu. Baik yang menyumbang maupun penerima, sama-sama bisa dikenakan sanksi.

Sejak gagal di Pilpres kemaren, Prabowo tentu masih penasaran. Secara usia dia masih memungkinkan bertarung lagi di Pilpres depan. Para pecintanya juga masih banyak. Ini bisa jadi modal awal untuk pertarungan ulang 2019.

Tapi cocotnya Riza Chalid bisa membuyarkan rencana tersebut. Rakyat jelas terbelalak dengan informasi itu. Meskipun saat Pilpres kemaren bau-bau pengusaha yang sering dikaitkan dengan mafia migas itu sudah tercium. Kehadiran Riza di Rumah Polonia, misalnya, bisa dijadikan indikasi.

Katakanlah omongan Riza benar, dia nyumbang duit sebanyak itu, tapi kan gak perlu koar-koar juga. Kicauan itu malah membuka mata rakyat, yang malam ini tiba-tiba merasa perlu sujud syukur : untung presiden kita bukan yang itu.

Coba banyangkan jika jagoannya Riza Chalid yang menang. Wong jagoannya kalah aja dia merasa bisa mengatur negara. Apalagi menang.

Cocotnya Riza Chalid bukan hanya merugikan masa depan politik Pak Prabowo. Juga merugikan Gerindra. Informasi Riza seperti menampar pipi Prabowo dan ceplakan tangannya akan terus memerah di pipi sang jenderal.

Tidak ada jalan lain bagi Prabowo dan Gerindra, selain membersihkan diri dari informasi tersebut. Caranya ya, mereka harus ramai-ramai menyeret Riza ke ranah hukum. Lalu membuktikan bahwa omongan Riza gak bener. Dengan begitu Pak Prabowo tetap punya peluang melakukan tanding ulang di Pilpres yang akan datang.

Jika tidak dilakukan klarifikasi serius, dengan membuktikan secara hukum bahwa informasi itu tidak benar, jangan salahkan rakyat jika menganggap informasi itu memang benar.

Apalagi para petinggi Gerindra seperti Fadli Zon dan Sufni Dasco sudah bertarung sampai titik malu penghabisan untuk mengeliminir kasus ini.

Saya yakin Pak Prabowo tidak mau tamparan Riza Chalid membekas terlalu lama. Pak Prabowo akan sedih jika rakyat terus memperhatikan tanda merah di pipinya yang gembil itu sampai Pilpres yang akan datang...
Load disqus comments

0 komentar