Senin, 15 Agustus 2016

INI GERAH, NGAPAIN CERAMAH?


 Katanya bakal ada penceramah agama di bus Damri di Bandung. Itu serius?

Ok. Coba bayangin. Bus penuh sesak. Orang berdesakan sambil bertukar bau keringat. Ada yang pulang kantor. Pulang kuliah atau sekolah. Ada yang habis dimaki-maki atasannya, karena teledor. Ada anak sekolah yang baru saja daoat milai jeblok waktu ujian.

Ada juga yang baru naik gaji. Sepasang muda-mudi duduk di pojok, tangannya saling berpegangan. Semua berkutat dengan kepalanya masing-masing.

Singkatnya, tubuh mereka bisa disatukan dalam mobil angkutan. Tapi pikiran dan bathinnya pasti jalan sendiri-sendiri. Menatap pepohonan dan gedung dari jendela bus kota.

Lalu tiba-tiba ada orang berceramah. Mengingatkan surga dan neraka. Seperti sedang kotbah Jumat atau kuliah subuh. Dia nyerocos dengan nasihat agama : jangan begini, jangan begitu. Mesti begini, mesti begitu. Ini dosa. Ini pahala.

Mungkin saja nasihatnya memang bagus. Tapi, tentu saja nasihat bagus belum tentu bisa diterima dengan enak dalam suasana yang kurang pas. Orang bukan sebel dengan isi nasihatnya, tapi bisa muak dengan suasananya.

Makin kesini, kok rasa-rasanya kita jadi keranjingan agama yang simbolis, sih? Usulan Kang Emil untuk menempatkan penceramah agama di bus kota saya rasa agak aneh. Selain suasana dalam bus kota tidak kondusif, penumpangnya kan, heterogen. Bisa dari agama apa saja. Ceramah agama kepada penumpang yang agamanya berbeda, alih-alih memberikan nilai positif, bisa jadi malah kontraproduktif.

Jika memang mau memberi keteduhan, coba saja putarkan musik rileksasi di bus-bus itu. Ada banyak pilihan musik mulai dari gaya avan garde seperti Mozart sampai tarling yang melodius itu. Paling risikonya akan banyak orang ketiduran di bus, saking rileksnya.

Sesekali putarkan juga morotal Al Quran, dengan langgam indah. Boleh langgam Jawa atau Pesisir. Atau putar lagu-lagu rohani. Gak perlulah seorang penceramah naik mimbar di tengah himpitan penumpang, untuk menyampaikan nasihat. Bukan nasihatnya yang jelek. Tapi suasanaya kurang pas.

Jangan sampai agama dijejalkan sampai overdosis. Akibatnya bukan menyembuhkan, malah jadi keracunan...
Load disqus comments

2 komentar