Senin, 15 Agustus 2016

DILARANG MELARANG TAWURAN REMAJA SHOLEH

Dua kelompok remaja sholeh yang melaksanakan takbir keliling, rupanya punya energi meluap. Mereka bukan hanya menyerukan kebesaran nama Allah. Tapi juga menunjukkan kebesaran egonya.

Untuk bersiap-siap takbir keliling mereka tidak lupa membawa sebatang besi kelewang, gergaji besi es balok dan stik golf. Saat di daerah Pinagsia, Tamansari bertemu dengan kelompok remaja sholeh lainnya, mereka saling ejek. Lalu tawuran.

Suasana rusuh. Batu berterbangan. Korbannya sebuah bus dan sebiji sedan Mercy hancur terkena lemparan. Remaja-remaja itu benar-benar menunjukan keimanannya di jalanan. Polisipun terpaksa megamanka 39 remaja pelantun takbir tersebut.

Tentu kita marah ketika Ahok menyarankan masyarakat tidak perlu takbir keliling. Kemana lagi para remaja sholeh itu mau mengekspresikan keimanannya jika tidak boleh takbir keliling? Bagaimana syiar agama bisa diteriakan?

Pak Sutiyoso dan Fauzi Bowo juga melarang takbir keliling. Tapi ingat, larangan itu harus dibaca sebagai nasihat seorang muslim kepada muslim lainnya. Begitupun jika kepala daerah lain melarang takbir keliling di wilayahnya. Kita harus melihatnya sebagai upaya seorang pemimpin menghindari mudarat di kotanya.

Tapi, lain soal kalau Ahok yang melarang. Ingat, Gubernur ini keturunan Tionghoa dan kristen. Kalau dia menghimbau agar masyarakat tertib berlalu lintas, walaupun malam takbiran, harus dibaca sebagai usaha memojokkan Islam. Umat wajib mencacinya.

Polisi yang menangkap para remaja sholeh itu juga kaki tangan Ahok. Apa haknya menangkap para remaja itu, padahal kesalahannya cuma menghancurkan dua mobil dan saling melempar batu di jalan. Kesalahan seperti itu hitungannya tidak seberapa dibanding syiar yang diteriakan anak-anak muda itu dari atas kap Metromini.

So, koh Ahok. Jangan suka melarang-larang, deh. Kerusakan sebuah bus dan sedan mewah milik warga tidak ada artinya. Luka-luka orang yang terkena lempara batu, itu cuma hal kecil. Dibanding konvoi takbir yang megah itu, dengan suara motor dan soundsystem berarakan. Itulah syiar agama yang sesungguhnya.

Setidaknya mereka masih lebih baik karena merusak dan tawuran atas nama agamanya. Coba bandingkan dengan Jakmania yang membuat kerusuhan atas nama klub sepakbola. Selain merugikan, juga tidak ada makna syiarnya sama sekali. Itu adalah jenis kerusuhan yang tergolong mubazir. Tidak ada pahalanya...
Load disqus comments

0 komentar