Jumat, 12 Agustus 2016

DILARANG MEMBUNUH BUNGA-BUNGA

Setelah Jokowi memanggil Ridwan Kamil ke istana, lalu isu tentang RK mau maju sebagai pesaing Ahok di Jakarta mengendur. RK bahkan membuat pernyataan pers tentang keengganannya maju di Pilkada DKI.

Hal serupa juga terjadi, ketika nama Risma tiba-tiba mencuat. Jokowi meminta Ahok dan Risma datang. Diajak ngobrol. Sambil cengegesan. Lalu hilanglah isu Risma di DKI Jakarta. Dia kembali lagi ke habitatnya di Surabaya.

Saya sih, melihatnya, ada rencana besar di kepala Jokowi ini untuk membangun Indonesia. Membangun Indonesia memang tidak bisa dilakukan Presiden sendiri. Indonesia itu luas, dengan jumlah penduduk hampir 300 juta. Terdiri dari 500 lebih Kabupaten Kota plus 34 propinsi. Program dengan semangat besar yang dilakukan pemerintah pusat, misalnya, akan kecil dampaknya jika Pemda-pemdanya tidak memiliki visi yang sama.

Apalagi dengan Gubernur, Walikota atau Bupati yang hobi korupsi. Jangan harap Indonesia bisa lepas dari cengraman kebodohan dan kemiskinan. Makanya, jika di sebuah wilayah mulai muncul pemimpin yang memiliki komitmen kepada rakyatnya, itu harus diapresiasi. Harus didorong dan didukung. Agar memacu bermunculan orang-orang serupa di wilayah lain.

Kita cukup gembira. Kini sudah mulai bermunculan para pemimpin potensial di berbagai daerah. Seperti bunga-bunga indah yang bermekaran. Mereka orang-orang cerdas, punya integritas dan komitmen kerakyatan. Mereka punya visi untuk membangun wilayahnya dan mau melayani rakyat.

Berbeda dengan 10 tahun lalu, misalnya. Meski lahir dari rahim reformasi, tetap saja kita saksikan masih banyak kepala daerah yang hobinya jadi maling duit APBD untuk diri sendiri. Dulu mencari seorang pemimpin daerah yang anti korupsi saja susahnya minta ampun. Apalagi punya visi pembangunan yang bagus.

Jika sekarang mulai bermunculan pemimpin-pemimpin cakap dan berintegritas di berbagai daerah, itu adalah rahmat Tuhan yang luar biasa. Kita seperti sedang meniti karpet merah menuju kemajuan. Lebih modern dan beradab. Jangan heran jika banyak analis internasional meramalkan 10-20 tahun mendatang, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi paling berpengaruh di Asia.

Bayangkan. Secara politik Indonesia adalah negara paling demokratis dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia. Bahkan kini demokrasi di Indonesia tergolong paling liberal. Rakyat bisa teriak apa saja, mengkritik bahkan memaki pemerintah. Alam yang demokratis, sebetulnya subur bagi lahirnya kemerdekaan berfikir, dan merangsang gagasan-gagasan baru. Ini yang tidak dimiliki RRC, Singapura atau Malaysia.

Nah, merawat pemimpin-pemimpin cakap dan berintegritas di berbagai level adalah salah satu cara untuk membuka gerbang kemakmuran di masa datang. Jika seorang pemimpin cakap ini gugur, karena dipaksa saling bertanding, yang akan menangis adalah rakyat Indonesia. Itu yang tampaknya sedang dihindari Jokowi.

Jadi, wajar saja jika Jokowi ikut sumbang saran dengan memanggil Bu Risma dan Pak Ahok, ketika mendengar keduanya didorong-dorong untuk bertarung. Hal yang sama dilakukan kepada Ridwal Kamil. Dengan kata lain Jokowi seperti sedang merawat bunga-bunga yang bermekaran di berbagai daerah. Dan memastikan mereka tidak saling jadi predator.

Lalu kenapa Jokowi tidak memanggil Yusril, Lulung, Wanita Emas atau Ahmad Dhani, padahal mereka semua juga ngebet mau melawan Ahok di Pilkada DKI Jakarta.

Kita tahu jawabannya. Presiden itu orang sibuk. Dia memang suka mengurus bunga. Tapi, mana punya waktu ikut menyapu rumput kering...
Load disqus comments

0 komentar