Selasa, 09 Agustus 2016

DOA GAK MUNGKIN NYASAR

Menjelang Ramadhan, tanah pemakaman umum yang tidak jauh dari rumah saya waktu kecil pasti penuh. Orang-orang ingin bersilaturahmi dengan keluarga yang sudah meninggal. Puncaknya adalah pada saat sehari sebelum puasa. Biasanya tanah makam yang cukup luas itu, yang mungkin berisi ribuan kuburan, juga dijejali ribuan peziarah.

Bagi warga yang tinggalnya di sekitar pekuburan, momen ini seperti layaknya hari panen.

Para peziarah itu, yang kebanyakan datang setahun sekali, biasanya akan berusaha memberikan yang terbaik pada makam orang disayanginya. Mereka membeli bunga, air mawar, atau sekadar bersih-bersih makam. Gundukan tanah ditempeli rumput pada sisi-sisinya. Bunga-bunga ditabur di atas makam. Ada juga yang menanam pohon kecil agar sebuah makam tampak seperti taman mungil.

Jadi saat-saat itu akan banyak bermunculan tukang kembang dadakan yang menjajakan dagangannya dibungkus daun pisang. Wewangian bertabur. Orang ramai juga menarik para pedagang asongan untuk menggelar daganganya di dalam wilayah makam. Begitupun areal di sekitar pekuburan akan berubah menjadi lahan parkir.

Warga lainnya mencari pendapatan dengan membantu para peziarah membersihkan makam. Mereka membawa cangkul, sapu lidi, atau alat perkebunan lainnya. Meski diupah alakadarnya, namun karena tumpleknya peziarah, hasil akhirnya lumayan juga.

Tanah makam memang cukup subur. Ditinggal beberapa bulam saja, ilalang akan tumbuh menjulang. Akibatnya banyak makam yang tertutup rumpun liar. Nisan yang hilang akan merepotkan orang menentukan dimana makam kerabat atau saudaranya. Jadi tidak heran, dalam hari-hari itu, ada saja orang yang lupa dimana letak persis makam yang hendak mereka ziarahi.

Nah, untuk soal mencari makam ini, ada orang yang cukup ahli. Sebut saja namanya Kuro. Jika ada orang kelihatan bingung atau ragu dimana makam kerabat yang dimaksud, tinggal panggil saja Kuro. Mulanya Kuro akan meminta informasi nama orang yang dimakamkan, bin atau binti, dan dari wilayah mana berasal. Tidak sampai beberapa menit, Kuro dengan pasti menunjuk sebidang tanah yang diyakini itu makam yang dimaksud. Lalu sebagai tanda terimakasih, lelaki kurus itu akan dengan senang hati menerima upah alakadarnya.

Saya kadang takjub dengan hafalan Kuro. Bayangkan, hampir seluruh pelosok kuburan yang jumlahnya ribuan itu, dia bisa memastikan si A dimakamkan di mana, dan si B dikuburkan di sebelah mana. Ketika dia menunjukan sebuah lokasi, orang-orang seperti mengamini saja arah tunjukannya. Lalu mereka akan membantu menimbun tanah menjadi gundukan. Pada bagian ujung, ditanam sebatang kayu alakadarnya sebagai pengganti nisan.

”Emang benar bang, itu makamnya,” tanya saya suatu ketika kepada Kuro. Sebelumnya saya lihat dia begitu yakin menunjukan tanah yang agak datar sebagai makam seseorang.

”Mudah-mudahan benar,” jawabnya enteng.

”Jadi abang nggak hafal dimana letak makam itu sebenarnya?”

”Busyet. Disini ada ribuan kuburan. Siapa yang bisa ngapalin semuanya. Waktu sekolah saja ane males menghapal, apalagi ngapalin nisan kuburan,” jawabnya singkat. ”Tapi yang ziarah kan datang dari jauh. Dia berdoa untuk keluarga yang sudah meninggal. Meskipun makamnya salah tempat, doa yang dikirimkan tidak mungkin salah alamat kan?,” cetus Kuro sambil mengepulkan asap rokoknya.

Saya hanya tersenyum. Setuju, bang. Doa memang tidak pernah salah alamat!
Load disqus comments

0 komentar