Senin, 15 Agustus 2016

FATWA GAK LAKU

Saiful Mujani Research Consulting (SMRC) baru saja merilis hasil survei tentang Pilkada DKI Jakarta. Seperti sudah diduga Ahok punya tingkat elektabilitas (keterpilihan) paling tinggi. Ada 52% pemilih akan memilih Ahok dalam Pilkada, jika pertanyaan diajukan dengan berbagai pilihan kandidat.

Soal elektabilitas Ahok yang tinggi, saya mah biasa-biasa saja. Anak orok juga tahu, memang susah ngalahin elektabilitas Ahok di Jakarta. Kinerja dan hasil kerjanya sudah dirasakan publik.

Tapi ada hasil survei yang bikin saya bersorak gembira. Ternyata hanya 1,9% saja pemilih yang menetapkan pilihannya karena alasan Cagub seagama atau seiman. Jadi kampanye tentang 'pilihlah pemimpin seiman', bagi publik Jakarta cuma dianggap slogan basi.

Isu agama memang sering dijadikan alas kaki untuk kepentingan politik. Padahal di Jakarta isu seperti itu tidak laku dijual. Ingat waktu Pilkada beberapa waktu lalu? Saat itu bertempur Adang Darajatun (PKS) dan Fauzi Bowo (Multi Partai).

Sebagaimana tabiatnya, PKS kemana-mana berjualan isu agama dalam kampanyenya. Foke dipersepsikan tidak mewakili Islam. Alhamdulillah, ternyata Foke yang menang. Atau pada Pilkada berikutnya, dimana pada putaran kedua mempertemukan Foke vs Jokowi.

Kali ini kebalik. Justru tim Foke yang giliran memainkan isu agama. Bahkan karena wakil Jokowi adalah Ahok, isu rasial juga diangkat. Saat itu sampai ada fatwa mengharamkan memilih pasangan Jokowi-Ahok. Dan Alhamdulillah lagi, umat Islam di Jakarta sebagai mayoritas pemilih menunjukan tingkat keagamaannya. Mereka memilih Jokowi-Ahok.

Sekarang ketika Ahok sebagai bakal Cagub, rupanya tidak banyak yang berubah dengan kecerdasan umat Islam di Jakarta. Mereka sangat mencintai agamanya dan muak jika agama mereka dijadikan bahan mainan politik melulu. Makanya dalam survei kemarin hanya 1,9% responden yang akan memilih pemimpin karena alasan seiman.

Kebanyakan mereka memilih pemimpin karena kinerjanya. Karena hasil kerjanya sudah dirasakan. Karena anti korupsi. Karena tegas dan mampu melayani. Bukan karena apa agamanya.

Lantas bagaimana nasib orang yang terus-terusan teriak, 'haram hukumnya memilih pemimpin yang tidak seiman', itu? Lha, mereka itu kan sudah ada tempatnya tersendiri. FPI dulu sudah melantik seorang Gubernur KW2 buat menyenangkan hati orang-orang seperti ini.

Sebab mereka memang cuma mau main gubernur-gubernuran doang, kok. Jika nanti mereka sudah mendownload Pokemon Go pada HP-nya saya yakin mereka juga akan lupa dengan Gubernur KW2-nya itu. Mungkin juga lupa dengan fatwa politik tersebut.

Jadi biarkan saja mereka bermain-main dengan anak seusianya. Jangan diganggu...
Load disqus comments

0 komentar