Senin, 15 Agustus 2016

FATWA MURAH MERIAH

Ada yang bertanya, jika Risma jadi melawan Ahok di Pilkada Jakarta, bagaimana pendapatmu?

Tentu saja saya senang. Sebab, menurut tafsir khas tekstual yang selama ini didengung-dengungkan, dua-duanya jadi tidak lagi sesuai 'syariah'. Ahok tidak layak jadi Gubernur karena bukan muslim dan Risma tidak layak karena perempuan.

Bukankah fatwa-fatwa itu yang digembar-gemborkan oleh mereka dulu? Artinya jika Risma jadi ke Jakarta, fatwa-fatwa tentang haramnya pemimpin perempuan sudah ditip-ex.

Jika fatwa haramnya memilih pemimpin perempuan bisa dihapus dengan enteng, maka fatwa tentang pemimpin non-muslim bisa juga gak berlaku. Kita maklum, tidak ada yang ajeg dalam politik. Soal tafsir Quran saja bisa berubah-ubah, bahkan saling berlawanan.

Kita jadi terbuka otaknya, bahwa selama ini dalil-dalil agama memang cuma jadi slogan kampanye. Ayat Quran dipakai untuk jualan kecap doang. Nah, dengan momentum ini kita bisa mulai membersihkan kitab suci ini dari usaha manipulasi politik.

Jikapun Risma nanti gak jadi ke Jakarta, karena Megawati berkata lain, setidaknya rencana koalisi tujuh parpol yang di dalamnya ada PKS menandakan memang fatwa soal pemimpin perempuan sudah gak laku.

Itu juga positif buat Ahok. Kader-kader PKS gak punya kapasitas moral lagi untuk teriak-teriak haram pemimpon non-muslim. Sebab kita tahu, mereka sedang berpolitik terhadap kitab suci.

Bagi Indonesia ini perkembangan bagus. Politik tidak perlu lagi bawa-bawa agama. Tuhan tidak perlu lagi diajak kampanye. Sebab dalil-dalil yang dulu dihamburkan untuk memghantam lawan politiknya kini ditelan kembali. Seperti memamah muntahannya sendiri.

Jika Risma bagus. Ahok mantap. Betapa enaknya jadi warga Jakarta. Pilkada memberi pilihan menarik bagi mereka. Dan buat warga Surabaya? Gak usah dipikirin, itu derita mereka sendiri. Surabaya akan dipimpin Wisnu. Kalau Risma kalah melawan Ahok di Jakarta, di Surabaya, Wisnu wakil Walikota Surabaya, adalah pemenangnya. Jabatan Walikota didapat dengan mudah.

Kata Risma, jika Tuhan menghendaki dia bertarung di Pilkada Jakarta, dia tidak bisa menolak? Itu semua sudah kehendak Tuhan. Ok, kita sekarang tinggal tunggu kehendak Megawati, untuk memastikan Risma jadi maju ke Jakarta atau tetap di Surabaya.

"Terus antara Risma sama Ahok lu akan pilih yang mana?," teman saya mengajukan pertanyaan lagi.

"Gue pilih tidur. Gue warga Depok, mas bro," jawab saya. "Nanti kalo Ahok kepilih, baru gue pindah lagi ke Jakarta..."
Load disqus comments

0 komentar