Jumat, 12 Agustus 2016

GURUKU TOLE

Tubuhnya sedikit lebih tinggi dibanding saya. Wajahnya oval berambut lurus. Kulit cenderung gelap dengan pakaian khas celana pendek berbahan katun. Jika berjalan kepalanya selalu ditekuk ke bahu kanan dengan sorot mata yang selalu was-was. Namanya Tole. Atau begitulah dia dipanggil. Saya tidak tahu siapa nama sebenarnya.

Waktu kecil dia adalah teman saya menghabiskan keceriaan. Setiap kali bermain, saya yang selalu ke rumahnya. Dia tidak pernah jauh dari ibunya. Keterbatasan kognitifnya sering kali menjadi bahan ejekan teman-teman. Karena itu dia tidak berani melangkah jauh dari rumahnya. Kalau saya datang Tole selalu menyambut dengan cengiran khasnya.

Tole tumbuh dengan perkembangan kognitif kurang maksimal. Meski kontur wajahnya tidak mengindikasikan dia menderita down syndrome, namun kemampuan berpikirnya jauh di bawah rata-rata. Setahu saya, sejak kecil, dia tidak pernah merasakan bangku sekolah. Ketergantungan pada ibunya mungkin karena dunia luar tidak bersahabat dengannya.

Tapi bagi saya Tole adalah teman yang baik. Dia selalu sabar mendengar saya bercerita. Kisah yang saya sampaikan ke Tole tidak harus selalu benar. Asyiknya dia tidak pernah mempertanyakan. Sebab bagi Tole benar dan salah sebuah cerita tidak begitu penting.

Kepada Tole saya bisa berkisah tentang apapun. Dia percaya saya pernah terbang bersama Batman dan mampir ke goa kalelawar. Atau sepulang sekolah saya bertemu Si Buta Dari Goa Hantu berpakaian kulit ular yang berjalan dengan tongkat bersama monyet di punggungnya. Tole juga percaya bahwa kalau kita belajar serius di sekolah, lama-lama kita bisa memahami bahasa ayam.

“Aku belum bisa Le. Itu belajarnya harus kuliah dulu. Masih lama,” jawab saya ketika Tole minta saya mengajarkan cara ngobrol dengan anak ayam.

"Kalau kamu kuliah, ajarin Tole ngobrol sama ayam, ya," pintanya. Aku cuma mengangguk.

Dengan Tole, saya tidak pernah takut berkayal. Dia selalu siap mendengarkan. Tole menyiapkan kupingnya kapan saja saya butuhkan. Hampir setiap hari, saya membawa ribuan kisah yang sudah dimodifikasi dengan saya sebagai tokoh di dalamnya.

Ketika kisah itu terbawa ke suasana tegang, saya menangkap secercah ketegangan di wajahnya. Saat kisah berubah menjadi gembira, saya juga menangkap seulas senyum di bibirnya.

Boleh dibilang, Tolelah pendengar kisah khayal pertama yang saya ceritakan secara sadar. Tolelah yang mengajarkan saya mengembangkan imajinasi. Mungkin karena Tolelah, akhirnya saya percaya diri untuk menulis apa saja. Dia adalah sahabat kecil yang menemani saya berdamai dengan khayalan.

Ketika sore itu kami bertemu, saya melihat cengirannya yang khas. Pakaiannya juga masih sama : celana pendek berbahan katun. Di depannya ada dua ekor anak ayam. Mereka sedang asyik ngobrol.
Load disqus comments

0 komentar