Jumat, 12 Agustus 2016

HAMID DI REPUBLIK SAMARINDA

Abdul Hamid (62 tahun) rupanya mengira Samarinda masih bagian dari Indonesia.

Di Indonesia rakyat bebas mengkritik Presidennya. Jangankan kritik yang baik atau keluhan, omongan yang kurang ajar saja kadang-kadang juga terlontar. Bahkan banyak caci maki kotor ikut ditumpahkan. Presidennya santai, kok. Orang-orang yang mendengar atau membacanya hanya maklum. "Paling dia simpatisan partai itu. Wajar kalau mulutnya kotor.."

Di Jakarta, sebagai ibukota Indonesia, Gubernurnya malah sering dituding kafir dan ungkapan rasis. Orang cuma sebel mendengar hujatan barbar itu. Tapi mereka terpaksa memaklumi. "Ohhh simpatisan partai itu. Pantes..."

Tapi jangan sekali-kali warga Jakarta mengeluh banjir. Tidak perlu menunggu waktu lama, pasukan berseragam orange akan datang. Menghalau sampah, nembersihan saluran air. atau memberi bantuan secepatnya.

Nah, Hamid ini salah menduga. Saat Samarinda kebanjiran dia santai saja mengirim SMS yang isinya keluhan. Ditujukan kepada Syaharie Jaang Walikota Samarinda. Dia berharap, seperti di Jakarta. Pemda akan mengirim pasukan orange yang akan membantu rakyat. Apalagi ini adaah jabatan Walikota periode kedua. "Masa sih, gak mau juga nolongin rakyatnya..."

Tapi hamid kaget ketika yang datang malah pasukan berseragam cokelat. Bukan untuk membantu mengatasi banjir, tapi untuk membawanya ke kantor polisi. Rupanya Walikota Samarinda merasa nama baiknya tercemar. Pertama dia tercemar oleh Tuhan, yang menurunkan hujan hingga Samarinda kebanjiran. Tapi, mana berani dia melaporkan Tuhan ke polisi.

Kedua, dia merasa nama baiknya tercemar oleh warganya yang benama Hamid yang mengirim kritiknya tentang banjir di Samarinda. Banjir ya, banjir. Rumah-rumah tenggelam. Rakyat susah. Mampus. Biarin. Lalu, apa hubungannya banjir di Samarinda dengan Walikotamya?

Hamid pikir, Walikota itu orang yang mengurus rakyat. Atau salah satu fungsi Walikota itu ngurusin agar kotanya tidak banjir. Hamid salah. Ini Wakikota Samarinda, mas bro. Jangan disamain derajatnya dengan Gubernur DKI Jakarta yang bermental pembantu itu, bisanya cuma melayani rakyat doang. Gak level.
Makanya Hamid dianggap mencemarkan nama baik Walikota. Banjir boleh saja terjadi, tetapi membicarakan perihal banjir secara terbuka adalah pelanggaran. Lelaki malang itu diperiksa polisi dan dikenakan pasal UU ITE. Dia mendekam di tahanan sekarang.

Saya rasa kesalahan Hamid cuma satu. Dia mengira Samarinda itu masih menjadi bagian dari Indonesia...
Load disqus comments

0 komentar