Jumat, 12 Agustus 2016

HUKUM PAKSA

400 pengacara disiapkan mengeroyok Ahok dalam kasus RS Sumber Waras. Barisan orang-orang picik mau melakukan demo mendesak penegak hukum menangkap Ahok.

Demikian juga serangan di media sosial. Hastag ‪#‎penjarakanahok‬ beredar luas di dunia maya.

Inilah kebuasan politik. Ratusan pengacara itu ingin memaksakan tuduhan. Seolah KPK dan Kejaksaan begitu lemah dan bodohnya melihat kasus ini, hingga perlu bantuan mereka segala.

Demo atas nama umat, seperti ingin unjuk kekuatan bahwa hukum bisa ditekan-tekan semaunya. Bahwa jika sudah ada yang demo, fakta hukum jadi tidak penting lagi. Seseorang sudah pantas jadi tersangka atas desakan demonstran.

Begitupun serangan masif di dunia maya. Menjadi alat penekan untuk urusan teknis hukum. Sekaligus juga penyebar fitnah.

Kita ingat dulu waktu Jokowi didapuk jadi Capres. Segala jenis fitnah beredar. Mulai yang halus sampai yang paling biadab.

Dan Ahok tetap dengan prinsipnya. "Mati dalam menegakan kebenaran adalah keuntungan," begitu yang selalu dikatakannya.

Dia telah mewakafkan dirinya untuk idealismenya. Ahok seperti sedang menggemakan arti jihad sesungguhnya. "Dipanggil Tuhan saja saya siap. Apalagi cuma dipanggil KPK."

Ahok bukan orang yang berani mati. Justru dia berani menegakkan kehidupan. Sebab hidup yang tidak lagi punya nilai, tidak ada bedanya dengan kematian.

Bagi saya yang muslim membela orang yang dizalimi adalah kewajiban. Membela pemimpin yang adil dan amanah adalah perintah Agama. Dan Ahok adalah salah satu ladang untuk menegakan kewajiban kemanusiaan dan perintah agama itu.
Load disqus comments

0 komentar