Senin, 15 Agustus 2016

INTIM



"Semua ibadah untuk manusia, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya," kata Allah dalam sebuah hadist Qudsy.

Ah, Allah membuka jalan agar manusia bisa bermesra-mesra dengan-Nya. Begitu intim. Begitu personal. Bukan kemesraan yang diumbar-umbar seperti status ibu-ibu muda di medsos. Tapi kemesraan yang diam, yang syahdu, yang rahasia.

Puasa memang ibadah yang rahasia. Orang bisa saja ngaku puasa, tapi sebetulnya tidak. Orang bisa saja tidak makan, minum atau berhubungan seks, belum tentu dia puasa. Pada tahap tertentu puasa atau tidaknya seseorang hanya dia dan Allah yang tahu. Bermakna atau tidak puasanya, hanya dia dan Allah yang tahu.

Saat puasa, tapi dia mencuri hak orang, apakah puasanya batal? Hanya dia dan Allah yang tahu. Ketika dia menyebar kebencian dan fitnah, apakah puasanya batal? Hanya dia dan Allah yang tahu. Ketika berlaku jahat dan curang, apakah puasanya gagal? Hanya dia dan Allah yang tahu.

Puasa adaah ibadah yang rahasia. Bahkan, kata guru saya, saat menjalankan puasa sunah, lebih baik meminum air yang disuguhkan orang untuk menghormatinya, ketimbang memberitahu bahwa kita sedang puasa.

"Saat puasa, kita memegang sebuah rahasia kemesraan. Kemesraan seorang hamba dengan Tuhannya," begitu nasihatnya. Ada komunikasi yang hanya mereka bedua (Allah dan hamba yang puasa) yang paham maknanya. Mirip kode-kode pasangan suami istri.

Tapi tidak semua orang pandai menyimpan rahasia kemesraannya. Ada orang yang saat puasa justru dia berteriak-teriak, meminta semua warung makan ditutup. Agar seluruh dunia tahu dia sedang berpuasa. Kelakuannya mirip pasangan suami istri, yang hendak masuk kamar tidur, lalu berkata kepada anaknya.

"Nak, jangan ganggu papa dan mama, ya. Kami mau berhubungan intim..."
Load disqus comments

0 komentar