Senin, 15 Agustus 2016

JOKOWI MARAH

"Saya enggak apa-apa dikatakan Presiden gila, Presiden sarap, Presiden koppig, nggak apa-apa. Tapi kalau sudah menyangkut wibawa, mencatut, meminta saham 11 persen, itu yang saya tidak mau. Nggak bisa!" tegas Jokowi kepada wartawan sore ini.

"Ini masalah kepatutan, masalah kepantasan, masalah etika, masalah moralitas, dan itu masalah wibawa Negara," tambahnya. Bahasa tubuh Jokowi jelas memendam kejengkelan. Bibirnya bergetar. Emosinya tertahan.

Kenapa Pak Jokowi kali ini marah besar? Padahal sejak jaman kampanye Pilpres berbagai meme, ejekan kurang ajar, berita fitnah telah menyerang dirinya dari segala penjuru angin. Toh, Jokowi santai saja. Tanggapannya enteng. Kepada orang yang mengganti foto cabul, dengan foto dirinya saja, Jokowi malah memaafkan. Bahkan sempat memberi sangu segala.

Semantara papa minta saham ini adalah kasus yang sangat berbeda.

Sebab dalam kasus ini yang sedang dinodai bukan diri Jokowi secara pribadi. Rekaman papa minta saham itu, jelas-jelas mencoreng nama Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Presiden sebagai simbol sebuah negara. Jadi yang dicederai oleh mereka adalah nama baik sebuah bangsa beradab. Bukan orang per orang.

Coba bayangkan. Freeport adalah perusahaan publik. Sahamnya diperdagangkan di bursa dunia. Jika kisah papa minta saham ini tidak terkuak dan kasak-kusuk dalam rekaman itu dianggap benar, lantas bagaimana kita bisa mengangkat muka di arena pergaulan internasional? Bagaimana AS mau menghargai kita, jika mereka anggap presiden Indonesia celamitan? Inilah yang membuat Pak Jokowi marah.

Mungkin cara marah Pak Jokowi ini mengikuti cara kanjeng Nabi. Ketika ada orang badui membenci dirinya sebagai pribadi, dan tiap hari dia melempar kotoran unta ke kepala Rasul, Nabi yang mulia ini tidak membalas dengan kemarahan. Bahkan saat suatu hari tidak dilihatnya orang tersebut melempari kotoran, Rasul malah menanyakan kabarnya. Begitu diberitahu arab badui yang membencinya itu sakit, Nabi datang menjenguk. Nabi memperlakukan orang yang membencinya karena ketidaktahuan dengan ramah.

Tapi berbeda perlakuan Nabi terhadap Abu Lahab dan Abu Jahal. Saat mereka menginjak-injak keadilan, Rasul dengan lantang memerintahkan pengikutnya untuk berperang. Keadilan adalah tulangpunggung agama, yang tidak bisa ditawar. Rasul tidak memerangi orang karena beda agama. Sebab beliau pasti sangat paham makna ayat, "tidak ada paksaan dalam agama". Rasul memerangi orang yang berlaku dzalim.

Kebencian pada personal biasanya dilakukan karena kebodohan. Sementara menginjak-injak keadilan seringkali dilakukan oleh mereka yang sadar. Mereka yang mampu memanipulasi kebenaran untuk keuntungan dirinya.

Jadi, jika Jokowi terlihat marah sore tadi, kita bisa maklumi. Dia marah bukan karena dirinya dilukai. Dia marah karena yang dicoreng itu wajah Indonesia. Wajah kita sebagai bangsa. Jokowi marah mewakili kemarahan Indonesia.

Bukankah kemarahan itu juga kita rasakan? Kita marah saat pertanyaan-pertanyaan konyol dan memojokan dalam sidang MKD dilontarkan para yang mulia, justru kepada pengadu. Kita marah ketika agenda pembelaan secara telanjang dipertontonkan oleh beberapa anggota mahkamah. Kita juga marah, ketika siang ini ternyata MKD membuat sidang tertutup. Padahal publik mau tahu, apa yang akan disampaikan Setya Novanto untuk membela dirinya.

Wajar kalao kita kecewa berat dengan kelakuan Novanto. Sebab, sama seperti Pak Jokowi, kita juga sangat mencintai Indonesia...
Load disqus comments

0 komentar