Senin, 15 Agustus 2016

SURGA KOK, MAKSA!

Satpol PP merazia warung makan saat puasa. Orang-orang diharapkan berhenti makan di siang hari. Puasa atau tidak mereka harus menahan nafsu makan dan minum.

Untuk apa larangan warung makan beroperasi saat Ramadhan dibuat? Mungkin ada niat baik terselip di sana. Semata-mata untuk memastikan semua rakyat berpuasa, semua rakyat masuk surga.

Lalu ada seorang ibu penjual makanan yang menangis, karena warungnya diobrak-abrik Satpol PP. "Jika itu cara kalian masuk surga, masuklah ke surga kalian sendiri. Jangan maksa-maksa orang lain." Barangkali itulah arti tangisannya.

Orang-orang berempati mendengar suara tangisan. Lalu mereka mengumpulkan donasi untuk menghentikan isakan lirih itu. Luar biasa. Terkumpul Rp 200 juta lebih. "Bu, kami tidak nermaksud mengajak ibu ke surga seperti Satpol PP itu. Kami cuma ingin menghentikan tangisan ibu. Tangisan itu, membuat Ramadhan kami terusik. Sebab, justru saat berpuasa kami diminta untuk menghayati arti tangisan orang yang teraniaya."

Dan Allah, sang pemilik surga berkata. "Carilah Aku diantara orang-orang yang hancur hatinya. Diantara sedu sedan orang miskin. Diantara tangisan kaum papa. Di sela-sela tangisan itu, Aku bersama mereka."

Sayangnya, meski ada dalam aturan Perda tentang larangan membuka gerai makanan siang hari, Satpol PP itu tidak masuk ke mall. Mengobrak-abrik restoran yang buka di siang hari. Mereka tidak menutup gerai mini market yang menjual minuman dingin dalam lemari es. Mereka tidak mengobrak-abrik Mc Donald, KFC, Hokben, Indomaret, Alfamart dan sejenisnya.

Kenapa? Karena mungkin mereka malas mengajak pekerja restoran besar dan owner minimarket itu masuk surga? Toh, mereka semua orang mampu. Pasti bisa jalan sendiri ke surga. Gak perlu diberi petunjuk jalan.

Perda itu tampaknya difokuskan untuk para pedagang kecil. Mereka-mereka ini harus ditolong masuk surga. Kalau perlu dipaksa. Jadi jangan salahkan jika dagangannya diobrak-abrik.

Ibu itu tetap menangis. Satpol PP mengajaknya masuk surga, tapi dengan cara menyeretnya. "Biarkan saya dagang. Biarkan saya mencari nafkah. Jangan rusak warung saya."

Kita berpuasa, sejatinya untuk menghayati arti tangisan-tangisan seperti itu...
Load disqus comments

0 komentar