Jumat, 19 Agustus 2016

KAMBING TERBANG

Di ruang Muhammad Syafii, anggota parlemen dari Gerindra, terpajang foto Pak Prabowo dengan gagah. Memakai jas dan kopiah hitam, dengan bendera merah putih yang jadi latar belakangnya.

Di bawah foto itu ada tulisan, My President. Syafii adalah anggota parlemen. Dia pejabat negara. Boleh saja saat Pilpres dulu mendukung jagoannya sebagai capres. Tapi ini negara demokrasi. Rakyat telah memilih orang lain sebagai Presiden Indonesia.

Apa yang dipajang Syafii sama dengan yang dipajang M. Taufik, wakil ketua DPRD DKI Jakarta. Di ruangannya juga terpampang foto Prabowo yang bergaya mirip Presiden.

Dalam alam Demokrasi, berbeda pandangan itu biasa. Ada partai pendukung pemerintah, ada partai oposisi. Justru dengan begitu kekuatan korektif berjalan maksimal. Jika semua Parpol merapat ke pemerintah, tidak sehat bagi demokrasi.

Tapi oposisi berbeda dengan menolak kenyataan. Ketika Gerindra memposisikan dirinya sebagai oposisi, pijakannya harus dimulai dari pengakuan terhadap hasil Pilpres. Jika pijakannya menolak hasil Pilpres, itu sama saja mereka tidak mengakui seluruh mekanisme demokrasi yang justru sudah menempatkan dirinya duduk di kursinya sekarang.

Membaca berita tentang kedua orang ini, saya jadi ingat kisah yang diceritakan seorang senior di suatu acara.

Ada dua orang Arab di gurun. Mereka melihat sebuah titik hitam di kejauhan. Satunya menebak, itu adalah kambing. Sementara yang lainnya yakin, titik hitam itu seekor burung.

Karena penasaran keduanya berjalan mendekati titik hitam itu. Saat semakin dekat, tiba-tiba terlihat benda hitam itu terbang.

"Tuh, kan. Apa ane bilang. Itu adalah burung. Buktinya dia terbang."

"Siapa bilang," kata temannya gak mau kalah. "Meskipun dia terbang, itu tetap kambing, bodoh!"

Nah, saya rasa, M Syafii dan M Taufik termasuk orang yang berkeyakinan bahwa kambing bisa terbang.
Load disqus comments

0 komentar