Senin, 15 Agustus 2016

KORBAN YANG DICEMOOH

Di Ankara, Turki, sebuah bom bunuh diri meledak. Sebanyak 102 orang tewas. Kebanyakan adalah simpatisan partai sosialis.

Tiga hari setelah tragedi, kebetulan digelar sebuah pertandingan sepak bola. Sebelum dimulai, penonton dimintakan untuk mengheningkan cipta mengenang korban bom bunuh diri.

Alih-alih berkhidmat meresapi kesedihan para korban, di tribun para penonton malah mengeluarkan suara ejekan. Mereka mengejek, sebab ratusan korban itu adalah para simpatisan sosialis. Bukan aktifis Islam.

Di Turki partai berbasis Islam yang berkuasa memang gencar mengkampanyekan 'Islam' sebagai slogan politik. Syariahnisasi terjadi. Simbol-simbol keislaman dikerek sedemikian tinggi. Sementara ruang-ruang pendapat lain diberangus. Pemerintahan Erdogan menghantam suara protes dan mengontrol pers dengan keras.

Erdogan juga seperti memberi angin pada ISIS dengan membiarkan wilayah Turki menjadi jalan keluar masuk para jihadis ke Suriah.

Tapi kini Turki merasakan dampaknya. ISIS mengacau Turki dengan bom bunuh diri. Dan kampanye Islam politik telah mencerabut empati rakyat. Permainan politik Erdogan yang sibuk dengan simbol-simbol Islam telah menyeret Turki seperti Suriah. Rakyat Turki terancam terpecah dalam kubangan kebencian (Kompas, 1/11)

Hilangnya empati pada korban yang berbeda aliran juga kita rasakan saat tragedi Mina kemarin. Jemaah Iran yang menjadi korban paling banyak, justru dicemooh hanya karena mereka Syiah. Kemanusiaan telah tercerabut karena kebencian begitu mengakar. Ada perasaan tidak perlu berempati karena korban bukan "orang kita". Toh, mereka akan masuk neraka.

Padahal ciri paling sederhana yang menandakan kita tetap sebagai manusia normal adalah kemampuan berempati pada korban. Jika rasa empati itu sudah tercerabut, apalagi atas nama agama, kita akan menjadi robot-robot syariah yang haus darah. Perilaku ISIS yang bengis dimulai dari hilangnya empati pada nilai kemanusiaan. Dan bibit-bibitnya muncul di Turki juga di Indonesia.

Kampanye kebencian yang masif terhadap Syiah telah merobek nilai kemanusiaan sebagian dari kita. Untung saja kampanye seperti itu kini di Indonesia lebih banyak dilakukan oleh organ swasta. Meskipun mereka juga agresif untuk mempengaruhi kebijakan. Coba bayangkan jika seperti Turki, dimana negara aktif memompakan semangat kebencian seperti itu.

Sebelumnya pada jaman Surya Dharma Ali, atas nama Menteri Agama pemerintah juga aktif menyebarkan kebencian terhadap Syiah. Juga di Sampang, bupatinya membiarkan rakyatnya terusir dari tanah mereka karena bermazhab Syiah.

Kini baik Surya Dharma Ali maupun mantan Bupati Sampang, sedang sibuk dengan dirinya sendiri di tahanan KPK. Tentu saja kita tidak patut bersyukur atas kejadian itu. Sebab memang tidak ada hubungannya larangan pada sebuah mazhab keagamaan dengan perilaku koruptif mereka.

Yang patut kita syukuri Indonesia tidak punya Presiden seperti Erdogan. Presiden Jokowi lebih memilih nongkrong bersama Suku Anak Dalam ketimbang sibuk kampanye tentang syariah.

Sementara bagi mereka yang menganggap Erdogan adalah idolanya, disarankan sering-seringlah cari informasi dari banyak sumber. Sebab konten PKSpiyungan saja tidak cukup untuk melihat dunia...
Load disqus comments

0 komentar