Selasa, 09 Agustus 2016

KOTBAH JUMAT AGUNG

Pada Jumat Agung ini, Alhamdulillah, saya bisa Jumatan di mesjid sekitar rumah.  Maklum libur Paskah. Mengenakan kain sarung, kopiah, dan menyelempangkan sajadah di pundak. Saya menikmati udara siang diantara jemaah yang saling membagi senyum. Para tetangga yang jarang bertemu muka, karena masing-masing sibuk sendiri.

Khatib yang berkotbah masih muda. Suaranya pelan tapi mantap, Saya tentu berharap mendapat sedikit siraman ruhani Jumat ini. Setidaknya memberikan kesejukan pada siang hari yang agak mendung. Khatib berkotbah mengenai berbagai hukum Islam, tentu menurut telaahannya. Sampai pada sebuah kesimpulan : musik dan alat musik haram dalam Islam. Siapa saja yang menggunakan barang haram, hukumannya adalah neraka.



Sang Khatib melanjutkan kotbahnya. Foto dan melukis gambar, haram dalam Islam. Siapa saja yang menggantungkan foto atau gambar, apalagi membuatnya, akan terkena hukum Tuhan. Saya yang sedari tadi mengharapkan kesejukan, mulai mengernyitkan dahi. Lalu berfikir, apa yang disebutkan sang khatib, mirip dengan apa yang diharamkan penguasa Taliban di Afganistan.

Di tengah-tengah khotbah itu, saya jadi teringat Film Kandahar yang pernah saya saksikan. Film itu menceritakan mengenai kehidupan kaum perempuan Afganistan pada jaman Taliban berkuasa. Mereka hidup seperti dalam penjara. Pakaiannya adalah penjara. Rumahnya adalah penjara. Atau Film Osama, tentang seorang gadis yang terpaksa menyamar jadi lelaki agar hidupnya tidak terkekang. Dia menyamar justru agar bisa membantu menjaga toko untuk mendapatkan segenggam roti bagi keluarganya. Tergambar dalam film itu, bagaimana suramnya suasana. Tidak terdengar suara musik. Foto dan lukisan diberangus. Tukang cukur kehilangan pelanggan, karena mencukur kumis dan jenggot juga diharamkan. Dengan kata lain semua keindahan diberangus.

Saya juga pernah membaca novel judulnya The Kite Runner, tentang seorang anak Afganistan yang kemudian migrasi ke AS.  Kebetulan pernah juga menyaksikan film-nya. Selain musik, foto dan lukisan, dan cukur jenggot penguasa Taliban juga mengharamkan permainan layang-layang. Untung saja sang khatib Jumat tidak sampai pada kesimpulan, bermain layang-layang hukumnya adalah haram.

Tentu, saya bukan ahli agama. Saya tidak punya hujjah yang kuat untuk menolak haramnya musik, foto dan lukisan seperti yang di kotbahkan itu. Tapi, jika benar demikian, betapa sunyinya orang yang akan khusyuk beragama. Betapa muramnya kehidupan yang ditawarkan sang khatib. Bagaimana dengan Jalaluddin Rumi, ulama besar, ahli tarekat, yang mencintai musik dan puisi itu? Atau pelukis Danarto yang juga mengikuti jalan sufi itu?

Saya menatap lagi ustad muda di depan mimbar Jumat itu. Saya berfikir sudah sejauh mana pandangan seperti ini masuk dalam pemahaman orang? Apakah memang kita harus hidup sunyi dan sepi untuk berada di jalan lurus? Apakah beragama secara serius akan berkonsekuensi jadi begitu muram? Pelan-pelan saya melipat sajadah. Dan bergeser ke luar masjid. Untung saja, di depan komplek perumahan ada Mesjid lain. Saya berharap kutbah khatibnya jauh lebih menyegarkan.

Mungkin saya salah dengan pergi meninggalkan mesjid di tengah kutbah berlangsung, dan menuju mesjid lain untuk menuntaskan ibadah Jumat ini. Tapi, apakah saya tidak bisa memilih kutbah yang membuat saya lebih adem? Hingga saya tidak terbayang-bayang hidup seperti di Afganistan pada jaman Taliban?

Ya Allah, maafkanlah, saya masih suka mendengar Garry Moore, Evie Tamala, Gigi, Bethoven atau Michael Frank. Kadang menikmati Linking Park dan Kitaro. Saya masih suka mendatangi pameran lukisan. Atau senang memandang hasil jepretan foto-foto indah. Tapi, saya tidak lantas pulang, kan? Saya masih mencari mesjid lain untuk tetap sholat Jumat dengan materi kotbah yang berbeda...
Load disqus comments

1 komentar: