Rabu, 10 Agustus 2016

BUMI DATAR, PALA LU JUGA!

Kegoblokkan baru (maaf, saya tidak punya kata lainnya) sedang diperkenalkan di Indonesia. Disodorkan oleh seorang ustad Wahabi, Ahmad Sahiq bin Abdul Lathief Abu Jusuf. Dengan sok mengutip ayat Al Quran dia ingin membantah teori alam yang sudah terbukti. Bukunya bicara tentang Matahari Mengelilingi Bumi beredar di masyarakat.

Di Saudi, ada kegilaan yang juga menggelikan. Pada 1993 otoritas religius tertinggi Saudi, Sheik Abdel-Aziz ibn Baaz, mengeluarkan fatwa, menyatakan bahwa bumi adalah datar. Jika engkau berjalan terus ke ujung bumi, di suatu titik nanti kau akan kejeblos, katanya. Siapapun yang menolak fatwa ini dianggap tidak percaya Allah dan harus dihukum

Jika cara pandang bodoh seperti ini yang diintrodusir terus-menerus di kalangan umat Islam, jangan salahkan anak-anak SD dengan pikiran yang sehat dan mempelajari ilmu alam di sekolahnya akan melecehkan agama mereka.

Perdebatan tentang geosentris dan heliocentris pernah terjadi di abad pertengahan. Waktu itu doktrin Gereja Katolik lebih mempercayai konsep goesentris ketimbang heliosentris. Seorang ilmuan bernama Copernicus salah satu yang lebih mempercayai bukti ilmiah ketimbang doktrin gereja.

Pendapat Copernicus diyakini juga oleh Galileo Galille. Ilmuan ini membuktikan sistem tata surya bahwa bumilah yang mengellingi matahari (heliosentris), bukan sebaliknya (geosentris). Dengan pendapatnya itu, Galileo Galille sempat dijatuhi hukuman pensesatan oleh Gereja. Putri Galileo adalah seorang biarawati yang sedih mendengar putusan itu.

Saya membaca sebuah buku yang ditulis berdasarkan surat-surat Galileo kepada putrinya itu. Tentang pergulatan iman dan akal sehat. Untung saja dalam kekuasaan gereja waktu itu banyak sahabat Galileo yang melindunginya. Dia hanya diminta untuk membuat surat permohonan maaf, seraya dikucilkan dari masyarakat.

Menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, pihak gereja katolik sadar bahwa tafsir mereka terhadap kitab suci keliru. Tudingan sesat pada Galileo akhirnya dicabut jauh setelah kematiannya.
Jika gereja Katolik saja menyadari kekeliruannya dan mau rendah hati mengakui kebenaran ilmu pengetahuan, kini umat Islam disuguhi kebodohan yang sama lagi melalui buku ini.

Dan kita semua, yang masih memiliki akal sehat, tidak takut untuk tetap menyakini pendapat Galileo Galille. Agar tidak kembali pada kesalahan yang sama di abad pertengahan...
Load disqus comments

0 komentar