Jumat, 12 Agustus 2016

KRITIK BERARTI DOSA

Kenapa kita takut dengan PKI atau komunis? Padahal komunisme dibangun dengan pondasi pemikiran Karl Marx, dibantu temannya Friedrich Engels. Buku karangannya Manifesto Komunis dan Das Kapital dijadikan rujukan. Untungnya, karena buku itu ditulis oleh seorang filosof, bukan orang suci, kitapun bisa melakukan kritik habis-habisan. Ruang dialog terbuka.

Kita bisa menelanjangi pandangan komunis sampai ke tulang sumsum. Menunjukan kesalahannya. Atau menyetujui kerangka berfikirnya, untuk membantu menajamkan pisau analisa di kepala kita. Ali Syariati atau Hasan Hanafi, misalnya, menggunakan pendekatan Marxian untuk menjelaskan tentang Islam.

Ada ribuan buku yang bisa diakses yang menguliti pemikiran komunis. Bahkan banyak buku yang mengkritik teori Marx dengan cara berfikir yang dibangun Marx sendiri. Dan kita bisa berbantahan tentang pikiran Marx tanpa takut dosa.

Sebetulnya yang jauh lebih berbahaya adalah ideologi politik yang justru menutup kritik. Orang menyebutnya ekstrem kanan. Ini adalah ideologi politik yang, katanya, didasarkan pada kitab suci. Politik yang membawa-bawa agama cuma sebagai kemasan.

Dalam kondisi kekinian di Indonesia, orang yang ngotot mau dirikan pemerintahan ala khilafah, misalnya, merasa pandangannya itu mewakili Al Quran, mewakili Islam. Mereka dengan enteng ngomong nasionalisme itu haram. Hormat bendera tu musyrik. Demokrasi itu sistem kafir. Dan semuanya dilegitimasi dengan ayat Quran yang ditafsirkannya sendiri.

Coba saja kritik mereka, kamu akan dituding melawan Al Quran dan memusuhi Islam. Padahal yang kita kritik adalah pemahamannya tentang Al Quran, bukan Al Quran sebagaimana adanya. Sebab, toh, kita punya pemahaman sendiri tentang kitab suci itu.

Ini jelas jauh lebih berbahaya. Bukan ap-apa. Mereka selalu membawa-bawa kitab suci untuk melegitimasi tujuan politiknya. Juga untuk memberangus para pengkritik dengan tuduhan anti agama. Saya sering mengalami hal itu.

Yang sangat berbahaya adalah, ketika tujuan bersama, dijalankan tanpa terbuka sedikitpun ruang untuk koreksi. Kita dijadikan bebek yang harus mengikuti. Kalau gak mau ikut, dipenggal lehernya.

Seperti bebek angsa, yang dimasak di kuali. Adakah nona yang mau minta dansa? Tralalalalalala...
Load disqus comments

0 komentar