Jumat, 12 Agustus 2016

KUE-KUE DI HARI RAYA

Waktu kecil, di salah-satu perkampungan Betawi, saya menikmati suasana hari raya yang begitu hidup. Kebetulan kakek-nenek saya termasuk orang yang dituakan di kampung, jadi pas lebaran, rumah kami menjadi salah satu pusat silaturahmi.

Seperti perkampungan-perkampungan lain, tetangga kami juga beragam. Ada Pak Acong, berdarah Tionghoa penganut Budha, yang setiap kali lebaran bersama anak dan keluarganya pasti datang ke rumah kami untuk sekadar mengucapkan selamat lebaran. Menikmati kue dan ketupat buatan kami, sambil melepas basa-basi.

Ada juga Pak Putu, beragama Hindu Bali. Sama seperti Pak Acong, beliau sekeluarga juga pasti mampi ke rumah kami untuk ikut menikmati lebaran. Atau Om Sinaga, yang Kristen, yang paling doyan kue tape-uli buatan nenek. Jadi setiap mampir di saat lebaran, nenek saya sudah menyiapkan bungkusan tape-uli untuk oleh-oleh Om Sinaga.

Saat Imlek, meski kakek-nenek saya tidak datang ke rumah Pak Acong untuk ikut merayakan, tapi di rumah kami selalu mendapat kiriman kue keranjang, ikan bandeng atau jeruk. Biasanya saya yang disuruh membalas antaran dengan masakan nenek yang ala kadarnya. Sebagai sebuah tata krama bertetangga. Sekaligus menyampaikan salam dari kakek, untuk mengucapkan selamat Imlek.

Begitupun saat Natal. Saya ingat, biasanya lepas isya, bersama teman-teman remaja seusia saya dengan masih menggunakan sarung, ikut duduk-duduk di rumah Om Sinaga menikmati kue-kue natal yang enak. Pulang dari mesjid, kami bisa dengan enteng ikut menikmati syahdunya malam natal.

Ketika Om Sinaga dan kekuarha melakukan kebaktian di dalam rumahnya, kami tetap duduk-duduk saja di bagian teras, dan terus saja menyantap makanan yang disediakan.

Kami juga sering mendapat kiriman kue dan makanan dari Pak Putu. Mungkin saat itu hari Galungan, tapi saya tidak ingat persis. Artinya, hari raya agama apapun, rumah kakek-nenek saya pasti ada kiriman makanan yang lumayan enak. Saya tentu saja menikmati semua kiriman itu, dengan selera seorang anak yang baru tumbuh remaja.

Saat menjelang SMA sampai kuliah, saya tidak terlalu aktif lagi di lingkungan rumah. Saya hanya pulang sesekali. Tapi suatu saat saya dikejutkan berita, beberapa teman-teman saya, yang aktif di mesjid tiba-tiba memprotes keras keberadaan rumah tetangga kami yang kadang digunakan untuk acara kebaktian.
Saya ingat, Om Sinaga dan keluarganya yang taat juga menjadi jemaah rutin di tempat itu. Saya kaget, bukankah yang protes ini adalah teman-teman saya yang beberapa tahun lalu, duduk bersama-sama saya di teras Om Sinaga untuk menikmati sajian natal?

Rupanya tanpa saya sadari, ada yang berubah pada pemahaman keagamaan di lingkungan kecil saya. Yang tadinya begitu toleran, kini telah berubah penuh kecurigaan. Yang tadinya kita bisa dengan santai menikmati sajian natal, sehabis pulang dari mesjid, bahkan ketika tuan rumah mengadakan kebaktian, kini menjadi benci dengan bentuk peribadatan agama lain.

Mereka protes ketika di sebuah rumah digunakan untuk melakukan kebaktian. Padahal, rumah kakek-nenek saya juga sering digunakan untuk pengajian, tetapi tidak pernah ada yang protes.

Kalau ada orang mengadakan kebaktian di rumahnya sendiri, kenapa jadi ribet? "Ini demi syiar," jawab teman saya yang kini jenggotan. Saya tentu bingung, syiar seperti apa yang ingin diwujudkan dengan mempersoalkan keyakinan orang yang beragama lain?

Saat malam natal, teman-teman saya juga sudah tidak ada lagi yang duduk di teras rumah Om Sinaga. Ketika saya tanyakan, mereka mengutip sebuah fatwa, yang mengharamkan ikut perayaan agama lain.

"Ah, apakah mereka tidak ingat, betapa enaknya kue tart bikinan tante Sinaga?," keluh saya dalam hati. Bukankah selama ini iman kami juga tidak terganggu, hanya karena kita ikut menghormati tetangga yang Imlek, Galungan atau Natalan?

Saya memang bukan ahli agama. Tidak pandai mengutip-ngutip fatwa. Tapi, malam natal nanti, saya tetap akan berkunjung ke rumah Om Sinaga, untuk menikmati kue tart natal yang enak itu.

Ketika lebaran, saya juga berharap Om Sinaga sekeluarga masih bisa menikmati tape-uli kegemarannya...
Load disqus comments

0 komentar