Jumat, 12 Agustus 2016

LAYAR HITAM PUTIH

Shaddiq Khan, warga London berdarah India-Pakistan, terpilih jadi Walikota London. Dia seorang muslim. Lalu di Indonesia banyak orang membanggakan. Ini muslim pertama yang jadi Walikota di jantung Inggris Raya. Padahal hanya 12% warga di sana beragama Islam.

Tapi kebanggaan itu berubah ragu, ketika tahu Shaddiq Khan adalah politisi partai buruh yang pendukung pernikahan sejenis. Juga kemungkinan besar penganut Islam Ahmadiyah. Bahkan Senator Fahira Idris menghapus twit yang sebelumnya membanggakan Shaddiq Khan.

Kenapa ada kebingungan seperti itu? Sebab mereka menilai Shadiq Khan hanya dari satu sisi saja : dia muslim. Orang lupa bahwa selain muslim dia juga politisi partai buruh dengan pandangan progresif kiri. Dia juga berdarah India-Pakistan yang memungkinkam sebagai penganut aliran Ahmadiyah. Aliran yang di Indonesia disesat-sesatkan.

Makanya mereka yang buru-buru teriak hore ketika mendengar Shaddiq Khan terpilih sebagai Walikota muslim pertama London, tiba-tiba jadi galau.

Banyak orang menilai orang lain hanya dalam kacamata hitam-putih : muslim dan non muslim. Kaumnya dan kaum kafir. Pribumi dan non-pribumi. Mereka tidak sadar bahwa masing-masing orang adakah khas sebagai individu.

Sebagai politisi Partai Buruh yang progresif, pandangan Khan tentang perkawinan sejenis adalah soal biasa. Juga statemennya yang menentang boikot produk Israel, karena memikirkan nasib pekerja.

Makanya mereka yang pandangannya mirip TV jaman dulu -- melulu hitam putih-- jadi kebingungan. Sebagai muslim, haruskah dia bangga atau malah mencibir Khan?

Manusia hidup dalam banyak dimensi. Oleh karena itu, cara memandang orang lain yang melulu hitam putih (muslim dan non-muslim) adalah cara pandang yang ketinggalan jaman. Bukankah kita sudah punya TV layar warna sekarang?

Kebanyakan orang dua dimensi ini aneh cara berfikirnya.

Yang dia tahu hanya A dan min A. Yang dia tahu hanya kami dan di luar kami. Hanya muslim dan non muslim. Yang dia tahu hanya Islam menurutnya dan Islam menurut orang lain dianggap menyimpang. Akhirnya dengan gampang menuding-nuding orang lain kafir, sesat, anti Islam, PKI, komunis, liberal, antek kapitalis.

Misalnya, ketika orang tidak sepakat dengan FPI, lalu dikategorikan anti perjuangan Islam. Ketika orang muak dengan PKS, diartikan sebagai musuh Islam. Padahal orang yang dituding ya, muslim juga. Muslim yang berbeda pandangan politik.

Ketika orang mengukuti Mazhab Jafari yang berbeda dengan kaum Wahabi, dituding sebagai Islam yang menyimpang. Lalu menghardiknya sebagai bukan bagian dari Islam. Seolah agama ini miliknya sendiri.
Bahkan untuk menilai seorang calon Gubernur melulu yang didiskusikan soal apa agamanya. Bukan kemampuannya mensejahterakan rakyat. Sebab di kepalanya, ya cuma ada TV hitam putih itu. Penyakit sesungguhnya ada dalam kornea otaknya.

Jadi betapa bingungnya orang-orang seperti ini menilai Dalai Lama atau Mahatma Gandhi. Apalagi menilai Gubernur seperti Ahok yang jelas-jelas non-muslim. Wong menilai Shaddiq Khan yang muslim aja mereka juga bingung, kok.
Load disqus comments

0 komentar