Jumat, 12 Agustus 2016

LELAKI DI TV HITAM-PUTIH

Setiap jam 9 malam saya selalu siap di depan TV hitam putih kami. Bersama kakek (saya memanggilnya Babeh) kami menunggu acara Dunia Dalam Berita. Inilah acara berita di TVRI yang menjadi favorit saya. Kadang saya menyiapkan buku untuk mencatat isi berita.

Saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Banyak berita dunia yang saya tidak mengerti sebetulnya. Bagaimana benang merahnya. Apa latar belakangnya. Saat saya tanyakan ke Babeh tentang isi berita, dia hanya menjawab, "Tonton aja. Nanti juga tahu."

Saya ikuti sarannya. Belakangan saya paham, Babeh sama tidak mengertinya dengan saya. Makanya saya putuskan untuk mencatat berita-berita itu agar dapat dibaca ulang besok.

Waktu itu perang Irak-Iran sedang berlangsung. Hampir setiap malam, TVRI menyuguhkan perkembangannya. Saat itulah saya pertama kali melihat sosok Imam Khomeini : orang tua, berjanggut putih, dengan baju berjubah, memimpin sebuah negara yang sedang berperang.

Di mata kecil saya, pembawaan Khomeini tenang. Jika bicara, banyak huruf e yang terlontar (itu adalah bahasa parsi). Meski saya tidak mengerti bahasanya, saya selalu menikmati gaya bicaranya. Apalagi ketika dia pidato di hadapan massa. Ribuan orang tersihir dengan auranya. Mendengar pidatonya tidak sedikit orang menangis.

Perang Irak-Iran terjadi setelah rakyat Iran yang dipimpin Imam Khomeini berhasil menggulingkan diktator Syah Reza Pahlevi. Baru saja mereka selesai revolusi yang penuh darah dan keringat, saat infrastruktur negara mau dibenahi, Irak menyerbu Iran. Tanpa alasan yang jelas. Saddam bernafsu menumbangkan sistem pemerintahan Islam baru yang digagas Imam Khomeini. Dia mengira, dalam kondisi pascarevolusi, tentu Iran jauh melemah. Gampang diluluhlantakan.

Imam Khomeini memimpin Iran dalam kondisi tersebut. Memimpin perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsanya. Di dalam negeri, belum semua kekuatan politik menyokongnya. Maklum masih masa transisi kekuasaan.

Dari luar negeri AS, Israel, Saudi dan negara-negara Arab sudah membencinya sejak awal. Mereka lebih menyukai Syah Iran, meskipun diktator dan hidup berbewahan di tengah rakyat yang tercekik, tapi pemerintahan Syah Iran mau berposisi jadi anjing penjaga kepentingan AS. Mau menjadi kawan berfoya-foya emir-emir Arab.

Saya ingat, ada satu ucapan Imam tentang Saddam Husein dan negara-negara Arab. Katanya, "Hari ini Saddam menyerang Iran. Disokong oleh negara-negara Arab dan AS. Suatu saat nanti Saddam akan menggigit mereka. Dan dengan kemarahan mereka akan memukuli Saddam."

Jauh setelah perang 8 tahun Irak-Iran selesai dan Imam Khomeini wafat, nubuat beliau terbukti. Ketika SMU saya mengikuti berita tentang Irak yang menginvasi Kuwait. Kuwait adalah salah satu negara yang menyokong Irak saat menyerang Iran.

Dan beberapa tahun lalu, AS dipimpin oleh Bush menyerang Irak. Menemukan Saddam dalam gorong-gorong persembunyian. Membawanya ke pengadilan dengan tangan terantai. Lalu menembak mati. Ucapan lelaki tua bersurban, yang disampaikan puluhan tahun silam, ternyata terbukti. Dan saya menjadi salah satu orang yang mengikuti beritanya.

Saat awal mahasiswa saya mulai mengenal lebih dekat sosok Imam Khomeini. Saya mencari-cari informasi. Kebetuan buku-buku beliau sudah banyak beredar.

Begitu membaca karya-karya Imam, saya tidak mendapatkannya sebagai seorang pemimpin revolusi. Sebagai pemimpin rakyat dalam peperangan. Saya justru mendapatkan Imam sebagai seorang pejalan ruhani. Buku 40 hadis yang dikupasnya, bahkan menukil sampai inti terdalam kesadaran spiritual manusia.

Membaca buku-buku Imam, saya seperti ditempeleng kesadaran. Tulisannya menusuk dalam pemahaman beragama dan berkehidupan. Imam menyadarkan, bahwa amal yang manusia lakuan amat sangat sedikit. Jadi jangan pernah mengandalkan amal baik untuk berhadapan dengan Tuhan kelak. Sehebat apapun ibadah kita, kata Imam, itu tidak cukup. Kita membutuhkan selimut kasih sayang Allah. Kita membutuhkan syafaat Nabi sebagai penyelamat.

Pada bukunya Imam tampil sebagai seorang irfan, seorang ahli tasauf, seorang pesuluk jalan ruhani. Jalan sepi dan sunyi. Sementara dia juga pemimpin negara baru yang diinvasi tetanganya. Dia harus menjadi pemimpin perang. Dia juga harus melalui jalan politik yang riuh, berliku dan penuh gegap retorika.

Sebagai pribadi Imam Khomeini adalah teladan. Dia hampir tidak pernah menyuruh istrinya untuk melakukan sesuatu untuk dirinya. Khabarnya, dalam keseharian Imam mencuci piring bekas makannya sendiri.

Imam Khomeini seperti menggemakan kepribadian Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib RA. Lelaki yang paling setia dan mencintai Rasul ini, di medan perang bagai singa yang marah. Di majlis-majlis Imam Ali seorang guru yang arif dan setelah wafatnya Rasulullah dia menjadi rujukan hukum. Dalam kesendiriannya, beliau adalah lelaki lembut yang sering menangis, meratap, bersujud kepada Tuhannya. Dan di rumah beliau adalah suami yang mengagungkan Fatimah, istrinya.

Imam Khomeini adalah sosok pribadi besar manusia jaman ini. Perjuangannya menumbangkan Syah Iran sungguh perjalanan yang luar biasa. Dan yang fenomenal adalah ijtihad politiknya untuk membuat sebuah Republik Islam Iran. Sebuah campuran sistem demokrasi den teokrasi. Iran adalah negara yang saat Pilpres punya pendaftar calon Presiden paling banyak di dunia. Siapa saja bisa mendaftar. Rakyatnya memiliki partisipasi politik lumayan tinggi saat Pemilu.

Sebagai pemimpin Islam, Khomeini tidak pernah membenci orang yang beragama lain. Ketika dalam pengasingam di Perancis, sebelum revolusi Iran, Imam selalu mengirimkan kue-kue ke tetangga-tetangganya yang merayakan Natal. Sebuah refleksi kehangatan hubungan antar agama.

Makanya di Iran saat ini, meskipun bernama negara Islam, keberadaan gereja dan sinagog tidak pernah terganggu. Khomeini telah meletakan pondasi kokoh bagi rakyatnya. Juga perlindungan yang adil untuk mereka yang minoritas.

Saat di kota Qom, saya sempat mengunjungi kediaman Imam Khomeini. Rumah yang sederhana, yang menjadi pusat gerakan revolusi di jantung Persia. Rumah ini sudah direnovasi, tapi tidak mengubah bentuk dan model bangunan. Saya mendapatkan kesejukan disana, dalam bangunan yang jauh dari kemewahan.

Agak keluar kota Tehran, ada masjid komplek makam tempat Imam Khomeini dibaringkan. Saya sempatkan diri berziarah. Bertamu kepada beliau. Mengenang lelaki hebat itu.

Di dekat makamnya saya mengucapkan salam, berdoa dan mengirimkan fatehah untuk penghuninya. Saya juga mengirimkan fatehah buat Babeh, kakek saya, yang setiap malam menemani saya nonton acara Dunia Dalam Berita. Acara yang memperkanalkan saya pertama kali dengan manusia luar biasa ini.

Ya Allah sayangilah keduanya...
Ya Rasulullah berikanlah syafaatmu untuk mereka...
Load disqus comments

0 komentar