Senin, 15 Agustus 2016

LOGIKA AHOK



Menyaksikan acara Mata Najwa semalam, saya beberapa kali tertegun mendengar jawaban Ahok. Utamanya ketika Najwa Shihab menanyakan, "Ada rencana Komisi II DPR untuk merevisi UU Pilkada, Salah satunya menaikan sarat dukungan calon independen sampai 20%. Bagaimana menurut Anda? Itu akan membuat langkah Anda jauh lebih berat?"

"Saya sih, setuju. Gak apa-apa dinaikan. Paling nanti Teman Ahok yang harus bekerja lebih keras," jawab Ahok, santai. "Kalau orang Jakarta mau saya jadi Gubernurnya, mereka harus kumpulkan dukungan. Kalau gak mau, ya gak apa-apa," tuturnya lagi.

Ini logika yang keren. Saya, seperti juga Najwa, menganggap langkah DPR itu sebagai salah satu cara menjegal Ahok. Tapi Ahok malah melihatnya berbeda. Baginya, jika rakyat butuh Gubernur yang baik, kenapa harus pusing dengan banyaknya jumlah sarat dukungan?

Sebelumnya memang para politisi kerap mengemis suara masyarakat. Sebab para calonlah yang ngebet mau jadi Gubernur.

Berbeda dengan Ahok. Baginya yang lebih butuh Gubernur itu, ya rakyat. Mereka harus lebih berkeringat. Sebab merekalah yang akan merasakan hasil kerja Gubernurnya.

Kenapa Ahok berani mengajukan logika yang kesannya kepedean itu? Semata karena keyakinannya bahwa dia selama ini bekerja dengan serius dan menjaga amanah sebisanya. Dia yakin apa yang dilakukannya sudah dirasakan publik Jakarta.

Jangan kaget jika Ahok sering sesumbar. "Kalau memang ada yang lebih baik dari saya, jangan pilih Ahok." Sebab mayarakatlah yang berkepentingan mendapatkan Gubernur yang tepat!

Dengan kata lain, kita lebih butuh Ahok duduk di kursi Gubernur DKI. Ketimbang Ahok yang butuh posisi itu.

Load disqus comments

0 komentar