Senin, 15 Agustus 2016

MAGNET GUBERNUR

Untuk apakah kursi Gubernur DKI Jakarta? Jika pertanyaan itu disampaikan pada Yusril, Ahmad Dhani., Sandiaga Uno, Sanusi atau Ahok, semuanya pasti punya jawaban berbeda.

Bagi Yusril kursi Gubernur adalah anak tangga untuk mencapai jabatan Presiden. Dia ingin mengikuti jejak Jokowi. Ambil dulu kursi Gubernur DKI lalu peluang jadi Presiden terbuka.

Yusril mantan menteri di beberapa kabinet tidak pernah menyelesaikan masa jabatannya karena direshuffle. Kini dia mau jadi Gubernur dan jika terpilih akan me-reshuffle-kan diri. Mengejar jabatan lainnya. Mudah-mudahan ada partai besar yang mau jadi kacung Yusril buat diinjak punggungnya.

Lain lagi Ahmad Dhani. Baginya kekuasaan itu sesuatu yang keren. Seperti juga potongan rambutnya. Gaya sengaknya. Ya, agar keren aja. Jadi dorongan untuk meramaikan bursa Gubernur, bagi Dhani, agar kesannya keren. Itu aja.

Soalnya tidak jelas arah Dhani. Dari gayanya selama ini, asal kelihatan kontroversial dia udah seneng. Isu rasial yang diangkat Dhani, barangkali bukan karena dia rasialis. Begitupun syair tentang toleransi beragama. Tidak ada hubungannya dengan idealisme. Semuanya sekadar kontroversial. Wong, superstar.

Dengan kata lain, pada momen Pilkada ini Dhani cuma butuh pangung buat jingkrak-jingkrak. Lalu orang tepuk tangan basa basi. Sebagian minta ijin ke toilet.

Bagaimana dengan Sandiaga Uno. Orang mengenalnya sebagai pengusaha besar. Salah satu penguasa pasar saham di Indonesia. Sandi memang belum bicara jelas, apa arti kursi Gubernur untuknya.

Melihat gayanya, seperti menonton tingkah orang-orang Wall Street, pelaku bursa saham di AS. Pakaian perlente. Santun. Sarat basa-basi diplomasi. Penuh perhitungan. Meskipun, kabarnya Dewi Persik sempat dibuat meradang karena permintaan seronok Sandi.

Saya teringat salah satu dialog film Wall Street yang diperankan Michael Douglas. "Serakah itu indah," katanya. Sebuah kalimat yang mewakili kesejatian kapitalisme.

Wajar saja jika Obama pernah marah dengan Wall Street karena keserakahan mereka menyeret ekonomi AS dalam pusaran kebangkrutan. Meskipun semua trik itu diatur dengan cermat, terhornat, sesuai hukum, licin.

Sedangkan bagi Sanusi, anggota DPRD DKI, arti kursi Gubernur adalah untuk menegakan syariat Islam. Orang santun ini, didukung oleh habaib dan ulama yang merindukan pemimpin seperti Sanusi di Jakarta.

Tidak terhitung berapa kali nama Allah dan Rasul disebut dalam tabligh dan pertemuan para ulama sebagai bentuk dukungan pada Sanusi. Mungkin atas berkah para pemuka agama itu juga, Sanusi kini bisa mencapai karir tertinggi sebagai politisi model lama : ditangkap KPK.

Dalam kacamata saya saat ini, Sanusi butuh doa yang jauh lebih serius. Semoga dalam sidang nanti dia tidak akan bertemu hakim Artidjo Alkotsar yang menyita seluruh harta Udar Pristiono (koruptor bus tranjakarta). Maksudnya agar tetap ada sisa kenang-kenangan bagi Sanusi sebagai bekas anggota DPRD DKI.

Bagaimana dengan Ahok? Setiap ditanya motivasinya masuk politik, dia selalu menjawab dengan nasehat ayahnya.

"Kalau lu punya duit Rp 1 milyar, lu bagi-bagi ke rakyat. Paling seorang kebagian berapa. Coba lu jadi Gubernur. APBD nilainya triliunan. Berapa banyak rakyat yang bisa lu bikin sejahtera."

Lalu apa arti momentum Pilkada DKI bagi saya, bagi Anda dan bagi kita semua? Sekadar memastikan, magnet pemimpin seperti apa yang telah menarik kita.
Load disqus comments

0 komentar