Jumat, 12 Agustus 2016

MANDIRI DALAM EMBARGO

Ternyata embargo AS dan sekutunya tidak membuat Iran takluk. Ekonomi negara kaum mullah ini malah mandiri. Berbeda dengan Kuba atau Korea Utara yang rakyatnya sampai kelaparan.

Yang membuat Iran bisa berdiri kokoh dalam kesendirian adalah budaya intelektual dan kemampuan dagang rakyatnya. Makanya meskipun dikepung embargo, justru Iran akhirnya mampu membangun industri dengan teknologi sendiri.

Jangan kaget jika Iran adalah satu negara yang menguasai nanoteknologi dan mampu melakukan pengolahan nuklir sampai tahap akhir.

Di Iran, kita dengan gampang menemui mobil merk lokal seperti Saipa atau Samad. Mereka punya industri otomotif berkapasitas besar dan semua komponennya diproduksi dalam negeri. Tahun lalu Saipa berhasil memproduksi 1,1 juta unit.

Bahkan kini Peugoet total diproduksi Iran untuk konsumsi lokalnya. Memang sih, ada beberapa merk seperti KIA, Toyota atau Audi. Tapi jumlahya bisa dihitung jari.

Meski di embargo, pertumbuhan ekonomi Iran mencapai 6%, sedikit lebih tinggi dari Indonesia yang hanya mampu menembus 5,4% saja.

Bisa dibayangkan jika embargo dilepaskan, plus dana-dana Iran yang ditahan di berbagai lembaga keuangan dunia cair. Republik Islam ini dipastikan akan jadi pemain penting ekonomi dunia.

Yang juga menarik, disparitas ekonomi mereka tidak melebar. Memang tidak banyak gedung mewah, tapi juga tidak ada pemukiman kumuh. Tidak ada gelandangan yang saya temui seperti layaknya di Jakarta.
Mulanya saya bertemu orang-orang yang tidur di taman kota. Berselimut tebal. Saya kira mereka gelandangan. Nyatanya begitu selesai subuh, mereka merapihkan selimut tidurnya, masuk ke mobil yang di parkir di pinggir taman. Lalu pergi.

Rupanya salah satu kebiasaan orang Iran tidur di luar rumah saat libur. Bukan di hotel atau penginapan, tapi di taman-taman. Pasangan dengan anak kecil main di taman, menggelar selimut lalu menginap. Bahkan di kompleks mesjid makam Imam Khomeini berjajar tenda-tenda yang jadi penginapan masyarakat.

Di Iran jarang ada supermarket besar. Tapi pedagang kaki lima juga tidak banyak. Rata-rata pedagang menengah berada di kios-kios. Ekonomi tidak terakumulasi di tangan segelintir golongan. Bahkan harga mobil termurah setara dengan 9 bulan UMR di sana. Untuk menjamin kesejahteraan sosial negara mensubsidi setara Rp 300 ribu per kepala. Untuk semua golongan.

Inilah negeri para mullah, sebuah Republik Islam Iran. Jangan membayangkan suasana muram, seperti negara Taliban atau kaum perempuannya terbelenggu, seperti Saudi yang bahkan diharamkan nyetir mobil sendiri dan hak politiknya tidak diakui. Kaum perempuan Iran bebas berkarir, mengemudi kendaraan dan memiliki hak politik sama dengan lelaki.

Transportasi umum di Iran relatif murah. Naik bus mirip transjakarta ongkosnya cuma Rp 1.200 sekali jalan. Naik komuter line, cuma Rp 2.500 satu trip.

Yang menarik, meski resminya bernama Republik Islam Iran, keberadaan gereja dan sinagog dilindungi pemerintah. Bahkan pemeliharaannya mendapat subsidi dari negara. Tidak pernah terdengar ada rakyat yang demonstrasi menentang pembangunan gereja atau sinagog.

Tidak ada satupun gereja yang digusur. Bahkan saat perayaan Natal, Imam Ali Khamenei bertamu ke rumah orang yang beragama kristen. Ikut mencicipi jamuan natal. Mengucapkan selamat Natal, dan memberikan doa untuk mereka.

Kantor Rahbar (yang sekarang dijabat Imam Ali Khamenei), pemimpin spritual tertinggi di Iran, saat Natal juga dihiasi oleh pohon terang. Sebagai simbol penghargaan pada para pemeluk kristiani.

Dari sisi ekonomi Iran seperti membalikan logika ketergantungan pada asing. Mereka makin kreatif justru karena kepepet. AS dan sekutunya bisa saja menggencet negeri ini. Tapi pemerintahan dan kepemimpinan yang adil adalah modal kesejahteraan rakyatnya.

Meskipun kepemimpinan di dominasi ulama, pemegang pemerintahan Iran belum tentu dari golongan agama. Ahmadinejad, misalnya, bukan dari golongan agawaman. Yang oenting mampu berbuat adil untuk masyarakat. Sementara kita, masih sibuk mengurus apa agama seorang Gubernur. Bukan diukur dari kemampuannya mensejahterakan rakyat...
Load disqus comments

0 komentar