Rabu, 10 Agustus 2016

MEMILIH KONFLIK DAN KEBERPIHAKAN

Sambil nunggu antrian di konter pelayanan operator seluler, saya tiba-tiba teringat buku Murtadha Mutahari, Manusia dan Agama.

Kata ulama besar itu, setiap manusia memiliki daya tarik dan daya tolak. Kedua daya itu saling berlawanan. Karakter manusia juga ditentukan oleh kedua daya ini.

Ada orang yang daya tariknya rendah, daya tolaknya juga rendah. Ini manusia paling malang. Kehadirannya tidak melengkapi, kehilangannya tidak mengurangi.

Dia tidak punya warna sendiri. Jika lingkungan biru, dia berubah menjadi biru. Jika lingkungan putih, dia ikut-ikutan putih. Manusia jenis ini sering tidak direken oleh sekitarnya.

Ada yang daya tolaknya kuat, daya tariknya rendah. Ini juga manusia malang. Kehadiranya merupakan kesialan bagi orang lain. Tidak banyak yang menyukainya, tapi banyak yang membencinya. Sifat-sifat negatif seperti melekat dalam dirinya. Egois dan kehilangan empati terhadap orang lain.

Selebihnya ada yang daya tariknya kuat, daya tolaknya rendah. Dia bisa jadi sangat menyenangkan. Membuat semua orang nyaman. Tapi akhirnya terlihat tidak punya sikap. Dia akan ambigu pada perbenturan. Cenderung memilih aman daripada menyatakan pikiran otentiknya.

Orang cepat kecewa padanya karena, saat harus mengambil keputusan yang dipertimbangkan adalah persepsi orang atasnya. Biasanya suka baper.

Yang terakhir yang punya daya tarik kuat, juga punya daya tolak yang kuat. Mutahhari mencontohkan Imam Ali RA. Ada orang yang rela mati membela hak beliau. Ada orang lain yang rela mati agar bisa membunuhnya. Baik pembela dan pembencinya, mengaku sama-sama muslim.

Semua kepribadian besar memiliki daya tarik yang sangat kuat, juga daya tolak yang tidak kalah kuatnya. Sebab mereka menjalani misinya sendiri. Mereka mengubah masyarakat berdasarkan api yang ditularkannya.

Demikian juga pribadi besar pemimpin jalan ruhani. Bedanya mereka punya ukuran-ukuran sendiri untuk menarik dan menolak seseorang. Siapapun yang tidak memiliki sifat keagungan, akan menolaknya. Siapapun yang mencari kesempurnaan, akan tertarik dengan kepribadian luar biasa ini.

Dalam mensikapi manusia, mereka membelah manusia seperti Musa membelah lautan. Di tangannya manusia jelas dibedakan dalam dua kelompok besar. Seperti gelap dan terang.

Dua kelompok besar itu bukan berdasarkan simbol. Bukan berdasarkan ras. Tapi membedakan manusia atas tindakannya, atas orientasi kehidupannya.

Jikapun berkonflik atau perang, konflik yang dimasukinya bukan konflik simbolis. Baik simbol agama maupun rasial. Bukan konflik antara muslim dan non-muslim. Bukan konflik antara Arab dan non-arab. Tapi konflik abadi antara kebaikan dan keburukan. Antara kezaliman dan keadilan.

Tidak ada Nabi yang terlibat konflik simbolik. Rasulullah ditentang bukan karena beliau membawa agama baru. Kaum Quraiys melawan Rasul karena keadilan yang ingin ditegakkan Nabi membahayakan kepentingan mereka.

Bagi saya pesan buku itu sangat jelas. Jikapun kita harus mengusung konflik, bukan konflik simbolis. Tidak ada artinya konflik muslim-non muslim. Pribumi-non pribumi. Cuma membuat kehancuran. Konflik yang harus kita ciptakan adalah antara keadilan dan kezaliman. Antara yang bersih dan yang korup. Antara yang amanah dan khianat. Konflik yang berorientasi pada tindakan. Bukan memusuhi orang karena agama dan rasnya.

Dan di tengah-tengah konflik itu, kita bisa menentukan berdiri di pihak yang mana.

Load disqus comments

0 komentar