Rabu, 10 Agustus 2016

MENAKLUKAN GURAME

Mengisi hari libur, saya memutuskan untuk memancing ikan bersama Raya. Kami memilih sebuah lokasi pemancingan tidak terlalu jauh dari rumah. Di lokasi itu, selain tempat pemancingan dengan beberapa pilihan kolam juga terdapat semacam warung nasi yang dapat diminta tolong untuk mengolah hasil pancingan menjadi lauk makan siang yang lumayan enak.

Saya sebetulnya tidak terlalu hobi memancing ikan. Saya rasa, Raya juga demikian. Anak usia TK seperti Raya tentu lebih suka memilih kegiatan yang atraktif ketimbang duduk berlama-lama memandaingi riak air, dengan mata fokus ke pelampung kecil. Namun kami sudah mutuskan untuk memancing, hari ini.

Untuk membuat suasana lebih asyik, kami membuat kesepakatan bahwa untuk makan siang nanti, kami hanya akan menyantap ikan yang kami dapat. Tidak ada lauk lain kecuali nasi dan ikan hasil tanggkapan kami sendiri. Saya fikir ini bukan kesepatakan sulit. Toh, kami pernah juga ke lokasi pemancingan itu. Dan waktu itu betapa mudahnya mendapat ikan. Baru saja umpan ditaruh, sudah disambar Bawal atau Ikan Mas.

Kami mulai memancing pukul sepuluh. Rencananya, maksimal jam 12 nanti kami sudah bisa menikmati santapan untuk makan siang. Kebetulan pagi tadi saya hanya sempat sarapan sedikit. Sementara Raya, seperti biasanya, mengisi perut agak penuh sebelum beraktifitas. Saya sudah membayangkan nasi panas dan ikan goreng yang nikmat. Tentu dengan sambel kecapnya.

Di awal-awal rasa percaya diri bahwa kami akan mendapat ikan secara cepat masih membuncah. Saya dan Raya santai-santai saja. Sementara pengunjung lain sudah beberapa kali mengangkat kailnya dengan suara senang, dengan ikan Mas, Bawal atau Gurame menggelepar di ujung. Saya tersenyum sambil menunggu kapan giliran kami. Tetapi nasib baik tidak kunjung datang. Entah kenapa, sepertinya ikan-ikan di kolam ini malas mengunyah umpan kami. Sementara pengunjung-pengunjung lain setiap beberapa menit sekali menarik hasil tangkapan.

Ketika waktu memasuki pukul satu lebih, Raya mulai gelisah. Saya juga merasakan hal yang sama. Masalahnya, saya tahu, kami  mulai lapar. Tatapan matanya yang biasanya penuh energi, mulai agak layu. Tapi sepertinya dia tidak mau melanggar kesepakatan untuk memesan makanan dengan lauk dari rumah makan itu. Saya meliriknya sesekali. Memandangi Raya yang menempelkan dagunya di dengkul sambil memain-mainkan umpan pancing.

Memasuki pukul dua siang nasib baik belum juga datang. Raya tampak agak kehilangan semangat. Dia tidak fokus lagi memancing. Pandangannya bolak-balik tertuju pada hasil tangkapan orang yang disampirkan dengan keranjang berjaring di pinggir-pinggir kolam dan warung makan kecil yang posisinya agak jauh ke atas. Perut saya juga sudah mulai berontak. Sempat terlintas dalam benak saya untuk membatalkan kesepakatan kami dan langsung saja menuju warung makan itu. Tapi, saya gengsi. Kalaupun kesepatakan itu dibatalkan, saya ingin itu keluar dari mulut Raya. Masa saya kalah sama anak TK? Tapi saya rasa fikiran yang sama juga ada pada Raya. Dia ingin pembatalan kesepakatan keluar dari mulut saya.  Dan kami memang dua lelaki yang keras kepala...

Siang itu, dalam rasa lapar yang mulai mendera, saya kembali melemparkan kail ke kolam. Entah kenapa, kali ini ketika saya melemparkan kail itu, saya  berdoa dalam hati. Saya berdoa agar ada ikan yang memakan kail saya untuk lauk makan siang hari ini. Saya mungkin berdoa karena saya lapar. Juga tidak tahan melihat Raya yang mulai layu. Saya tahu perutnya sudah berontak seperti juga perut saya.

Dalam suasana seperti itu saya berfikir berapa banyakkah orang di luar sana yang untuk makan pada hari itu, bersandar dari hasil usahanya saat itu juga? Bagaimana jika hari itu mereka tidak seberuntung hari sebelumnya? Apa yang mereka lakukan, padahal kebutuhan hari ini tidak bisa ditunda? Seberapa banyakkah orang, di jaman ini, yang hidupnya benar-benar bergantung pada alam? Sementara, sebagian besar kita, memiliki sedikit keberuntungan untuk bisa menerka-nerka apa yang akan kita makan bahkan pada seminggu ke depan. Mungkin kita memiliki kecukupan rezeki untuk sekadar mengantisipasi kebutuhan beberapa bulan ke depan. Syukur-syukur untuk kebutuhan beberapa tahun. Atau, mungkin ada yang kebutuhan sepuluh tahun lagi sudah disiapkan dari sekarang.

Alhamdulillah, beberapa saat setelah itu, kail di tangan sahabat saya itu menyentak. Raya kaget, lantas  berteriak meminta pertolongan saya. Saya membantunya untuk bertempur dengan pemangsa di ujung kail. Hmmm, seekor Gurame dengan berat kira-kira lebih dari setengah kilogram. Energi kami seperti memuncak ketika kami berhasil mengangkat Gurame itu ke darat. Itu adalah ikan satu-satunya yang menjadi lauk makan siang kami hari ini, bersama nasi yang masih mengepul dan sambal kecap.

Dalam perjalanan pulang saya menatap wajah Raya yang tertidur pulas dalam mobil. Dalam lelapnya, saya seperti melihat dia tersenyum dan seolah berkata. “Hari ini aku bisa menaklukan rasa lapar dan seekor Gurame. Mungkin nanti aku akan menaklukan dunia…”

Wuihhh, geer…
Load disqus comments

0 komentar