Kamis, 18 Agustus 2016

MENIKAH DENGAN BIDADARI

Tujuh hari, tujuh malam, dia hanya makan nasi putih. Sehari cuma sekepel. Ditambah air putih yang sebelumnya diembunkan di atas genting. Itu namanya mutih, katanya. Selama 40 hari, 40 malam, dia tidak akan makan makanan yang berwarna lain. Selain nasi putih segenggaman tangan dan air bening. Itu saja.

Dia yakin, jika berhasil dilakukan selama empatpuluh hari tanpa henti, dia bisa menikah dengan bidadari. Saya sih, beryukur setidaknya temanku mengambil jalan damai untuk menikah dengan bidadari impiannya. Memang sih, dia tidak serakah. Cukup dengan satu bidadari. Sementara ada orang yang serakah, maunya menikah dengan 72 bidadari. Apalagi caranya sering membuat repot orang lain. Bom bunuh dirilah. terorislah.
 

"Bidadari impianmu itu. asalnya dari mana?," tanyaku suatu ketika.
 

"Nanti pada hari ke 40, dia datan dari langit. Masuk ke rumahku," jawabnya yakin.
 

"Terus, siapa yang akan menikahkan kamu?," tanyaku lagi, penasaran.
 

"Gampang. Kalau sudah ada calonnya, tinggal panggil penghulu."

Sampai hari ketiga puluh, dia masih konsisten melaksanakan hajatnya. Dibayangannya ada perempuan cantik, menggenakan selendang warna biru, kucluk-kucluk turun dari langit. Masuk ke kamar kontrakannya. Mengajaknya menikah.

"Seperti apa sih, rupa bidadari itu?" tanyaku penasaran. Ini sudah hari ke 34. Kulihat wajahnya kuyu. Pelupuk matanya layu. Tapi tatapannya tetap menandakan keyakinan yang luar biasa.
 

"Paling tidak seperti bintang film," jawabnya sekenanya.
 

"Cantik mana dibanding Raline Syah?," sambungku lagi.
 

"Ohhh...jauhhh."

Pada hari ke 40, temanku itu ditemukan mati di kamar kontrakannya. Wajahnya terhias senyum. Di sebelahnya ada kertas berisi tulisan tangannya. "Aku tidak butuh jasad ini. Bidadariku semalam datang menghampiriku. Dia mengajakku terbang ke surga."

Aku menceritakan tragedi teman itu, pada istriku. Dia yang sedang sibuk nonton TV, tidak berkomentar banyak. Malah seolah tidak terlalu antusias mendengar kisah tragis itu. "Kisahnya gak logis. Ngapain ditanggepin. Jaman sekarang, tkahyul udah gak musim. Sekarang jaman internet," cetusnya datar.


Mendengar jawaban itu, aku diam saja. Memang, sekarang susah mencari orang yang percaya pada kisah-lisah model begini. Orang jaman sekarang, lebih percaya pada teknologi ketimbang mitos berbau klenik begitu.

***

"Ayah, mulai hari ini kita harus hidup sehat. Aku tidak akan masak nasi putih. Bisa beresiko diabetes. Mulai sekarang, kita sekeluarga akan makan nasi dari beras merah," kata istriku, keesokan harinya...
Load disqus comments

0 komentar