Selasa, 09 Agustus 2016

MONSTER

Dua puluh bungkusan jenazah itu diturunkan ke dalam tanah, di Dusun Sidorejo, Desa Umbulharjo, Sleman, Jawa Tengah. Orang-orang yang berdiri di pinggir lubang sepanjang 22 meter itu tertunduk. Mereka memanjatkan doa buat para korban letusan Merapi. Sementara di Mentawai, bau busuk masih tercium karena banyaknya jenazah yang belum di evakuasi.

Kita yang jauh, mungkin juga sedang berdoa, sebisanya, untuk mereka. Juga berdoa untuk para korban gempa di Wasior, atau Sumbar dan wilayah lain. Dalam catatan PBB, selama 1980-2009 di Indonesia tercatat lebih dari 191.000 korban tewas akibat bencana alam. Dari televisi, kita menyaksikan semacam potongan kepedihan. Rumah dan fasilitas kehidupan yang hancur, pohon bertumbangan, tubuh-tubuh yang kaku dan wajah yang kehilangan ekspresi. Juga air mata.

Diam-diam, kita juga berdoa untuk diri sendiri. Menghadapi ganasnya alam, manusia memang pantas merasa ciut. Pengharapan paling ampuh adalah berdoa – sebagai pengakuan bahwa kita hanya setitik debu di hadapan Tuhan Semesta Alam. Kita memohon perlindungan-Nya dari bencana. Memohon perlindungan dari kemarahan alam.

Dunia mencatat berbagai bencana alam besar yang memakan korban luar biasa. Luapan Sungai Kuning di Cina pada 1931 menelan korban mencapai 4 juta orang. Pada tahun 1887 bencana serupa juga terjadi di sana. Muntahan air laut dan hujan deras merendam 50.000 mil persegi daratan pertanian di sepanjang Sungai Kuning. Juga merendam lebih dari sejuta manusia dan harta bendanya.

Pada 11 November 1970, badai siklon mengganas di Pakistan Timur (Bangladesh). Angin berkecepatan 118 km/jam menerpa lautan, membuat air bah yang mengalir ke daratan. Dalam dunia modern ini merupakan bencana terbesar yang menewaskan 500 ribu orang.

Dalam matematika korban manusia sejarah juga menampilkan catatan lainnya. Pada abad 13 Jenghis Khan melakukan penaklukan dunia. Dari pegunungan Mongol lelaki ini memimpin pasukan berkuda untuk menghancurkan Tiongkok, Rusia, mencaplok Polandia dan Hongaria, serta meluluh-lantahkan Baghdad. Berbeda dengan para penakluk sebelumnya, Jenghis Khan tidak datang untuk menguasai. Dia datang untuk menjarah dan menghancurkan. Membakar kota, menculik perempuan muda, dan membunuh semua warga. Selama satu dasawarsa pasukan Jenghis Khan membinasakan lebih dari dua juta orang.

Pada 28 Juli 1914, diawali dengan terbunuhnya Pangeran Franz Ferdinand dari Asutria perang dunia I dikobarkan. Selama empat tahun perang ini memakan korban 40 juta orang tewas. Dinasti-dinasti besar Eropa seperti Habsburg, Romanov, Ottoman dan Hohenzollern runtuh. Seluruh wilayah Eropa terbakar. Ego para kaisar dan pemimpin dunia untuk saling menghancurkan membuat masyarakat menderita depresi ekonomi berkepanjangan pada 1929.

Rupanya kehidupan selalu menghadirkan orang-orang yang punya semangat membunuh luar biasa. Jerman melahirkan Hitler yang ambisius dan pemarah. Lalu dunia dilanda perang berkepanjangan. Di tangan Hitler 5,9 juta Yahudi (jumlah sesungguhnya masih jadi perdebatan), dua juta pasukan Rusia, ratusan ribu orang catat dan kaum homoseksual dibunuh. Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Jepang, memberangus dua kota dan isinya. Total korban meninggal pada perang dunia II mencapai 50 juta orang!

Di Perancis ada Napoleon Bonaparte. Lelaki gemuk pendek ini memimpin Perancis dari 1799 hingga 1815 melalui kudeta berdarah. Dia berusaha meluaskan kekuasaanya ke seluruh Eropa. Kekuasaannya berakhir ketika berhadapan dengan Inggris dan Rusia melalui pertempuran Waterloo. Selama kekuasaanya, perang yang dikobarkan Napoleon telah membunuh 6 juta manusia.

Kejadian paling mengharu biru dunia adalah peristiwa di perang saudara di Konggo. 15 ribu perempuan diperkosa dan 5,4 juta nyawa dibunuh. Kekejian yang hampir sama juga terjadi dalam perang di Rwanda antara suku Julu dan Tutsi. Sungai-sungai di Afrika dipenuhi mayat bergelimpangan. Genangan darah dimana-mana. Sementara di Asia, kekuasaan Pol Pot di Kamboja menewaskan 2 juta rakyat.

Jika kita menilik sejarah Indonesia kengerian juga terpancar. Pasca hura-hara politik 1965, sejuta orang pengikut PKI dibantai. Di Bali saja, menurut catatat Soe Hok Gie, korban pengikut PKI berjumlah 80 ribu orang. Sungai di Jawa dipenuhi darah dan mayat. Tanah-tanah menjadi kuburan masal.

Kita memang ngeri dengan bencana alam. Dan kita berdoa kepada Tuhan agar dilindungi dari alam yang murka. Tapi, sepatutnya kita juga berdoa agar dilindungi dari Monster Ganas yang bersemayam dalam diri kita sendiri! Kita berdoa untuk dilindungi dari mahluk yang lebih ganas dari gempa, tsunami dan Merapi!
Load disqus comments

0 komentar