Jumat, 12 Agustus 2016

MERAYAKAN KEMATIAN

Di sepanjang jalan antara Tehran dan Qom, Iran saya melihat banyak poster bergambar foto-foto. Mirip poster saat kampanye Pileg di Indonesia.

Demikian juga di berbagai sudut kota. Poster-poster itu menghiasi. Rupanya mereka adalah para pejuang Iran yang wafat dalam medan tempur. Baik dalam perang Irak-Iran puluhan tahun silam Maupun dalam pertempuran di medan lain.

Sampai saat ini pemerintah Iran masih terus membuka pendaftaran bagi sukarelawan. Biasanya mereka ditempatkan untuk menjaga situs-situs Islam di Suriah. Atau juga makam orang-orang suci di Irak, yang biasanya menjadi sasaran penghancuran pasukan ISIS yang barbar.

Seorang teman mahasiswa Indonesia di Qom bercerita, rekan sejawatnya baru saja gugur sebagai syuhada di Syuriah minggu lalu. Dia berasal dari Afganistan. Memang pemerintah Iran membuka kesempatan pada mahasiswa Afganistan atau Irak yang ingin mendaftar menjadi sukarelawan. Tapi untuk mahasiswa asal Indonesia, pemerintah Iran tidak membolehkan.

Apresiasi masyarakat dan negara Iran bagi para syuhada luar biasa. Anggota masyarakat yang kekuarganya tewas di medan pertempuran akan mendapatkan kehormatan dari para tetangganya. Masyarakat Iran mengangungkan kematian dalam membela kebenaran.

"Sebuah bangsa yang bangga dengan kesyahidan (mati dalam membela kebenaran) adalah bangsa yang tidak mudah dikalahkan," ujar Imam Khomeini, puluhan tahun silam. Proses revolusi di Iran sendiri memakan ribuan nyawa. Dan keluarga-keluarga syuhada itu tidak menyesali kematian keluarganya.

Orang tua mereka bangga dan berharap anaknya nanti menjadi penolong di hadapan Tuhan. Dan para tetangga biasanya berharap diberikan benda-benda yang pernah digunakan para syuhada semasa hidupnya. Untuk bertabaruk.

Sebab mereka percaya. Orang yang wafat dalam membela kebenaran dan keadilan akan dekat di sisi Tuhan. Dan benda-benda itu sebagai pertanda bau surga bagi mereka.

Dalam soal perjuangan menegakkan keadilan rakyat Iran terinspirasi oleh Imam Husein. Bersama 72 orang pengikutnya, cucu Baginda Nabi itu bertempur melawan ribuan tentara musuh. Penguasa yang lalim. Beliau gugur pada 10 Muharam atau Assyura di sebuah padang bernama Karbala, di Irak sekarang.

Dalam proses revolusi Iran, Ali Syariati seorang intelektual ideolog Iran menyerukan, setiap tempat adalah Karbala. Setiap waktu adalah Assyura. Sebuah slogan yang membakar semangat juang.

Imam Khomeini sendiri, tidak menangis pilu saat mendengar putranya wafat dalam perang. Beliau menerimanya dengan tegar. Tapi saat berbicara tentang perjuangan cucu Rasulullah di padang Karbala itu, beliau akan berlinang air mata. Kecintaannya pada keluarga Nabi melebihi kesedihanya karena kehilangan anak tersayang.

Di Iran para syuhada itu dimakamkan dalam taman yang indah. Banyak orang berziarah ke sana. Meskipun bukan keluarganya. Mereka ingin mengucapkan terimakasih dan doa, atas pengorbanan nyawa para pejuang itu.

Iran adalah negara yang merayakan kematian. Negeri yang menganggap kematian dalam membela kebenaran adalah sebuah jalan keagungan. Bukan hanya masyarakat muslim. Bahkan mereka yang beragam lain juga ikut berjuang. Tidak sedikit pemuda-pemuda Nasrani yang berdiri membela tegaknya revolusi yang digagas Imam Khomeini. Sebab, mereka ingin menegakkan keadilan. Kehidupan yang lebih baik. Dan penghargaan negara pada mereka, sama seperti penghargaan pada para syuhada muslim.

Imam Ali Khameini, pemimpin spiritual Iran, misalnya ikut mengunjungi rumah keluarga pejuang yang beragama nasrani. Menyampaikan doa dan penghargaan atas pengorbanan mereka. Memang, menegakkan keadilan adalah perjuangan untuk kemanusiaan. Tujuannya memuliakan manusia. Bukan milik umat satu agama saja.

Ada satu kisah di masa revolusi, orang-orang turun ke jalan berdemostrasi menentang diktator Iran, Syah Reza Pahlevi. Mereka melilitkan kain kafan di tubuhnya. Beberapa ditembaki tentara saat itu. Tapi orang-orang di begian belakang justru merangsek ke depan. Menyongsong peluru. Mereka telah mendedikasikan dirinya sebagai syuhada. Seperti tidak ada kengerian dalam dirinya.

Makanya di Irak, meski ISIS merajalela, mereka tidak berani mendekati Najaf, Samara, Kazimain atau Karbala. Di sana terdapat makam tempat dibaringkan keturunan suci Rasulullah. Para sukarelawan lebih baik mati mempertahankannya ketimbang kaum barbar merusak makam-makam suci itu.

Dunia memang dihiasi kematian-kematian yang indah. Dan Iran adalah salah satu negara yang masyarakatnya meyakini salah satu kematian terindah adalah gugur dalam usaha menegakkan keadilan.
Load disqus comments

0 komentar