Jumat, 12 Agustus 2016

NGOBROL CINTA DENGAN HABIBIE

Dalam aktifitas sebagai konsultan komunikasi sebuah LSM sosial, saya berkesempatan berjumpa dengan BJ Habibie di rumahnya. Kami menunggu di ruang perpustakaan yang teduh. Jejeran buku-buku dan kolam ikan Koi di sebelah luar, membuat suasana sore itu terasa akrab. Selama menunggu beberapa teman menyempatkan diri untuk mengambil gambar di rumah mantan orang nomor satu di Indonesia itu. Hasilnya, tentu saja untuk update foto profil pada halaman fesbuk atau twiternya.

Bada Ashar, Pak Habibie muncul. Diiringi dengan sekretaris pribadinya, dia langsung menyapa kami dengan akrab. Meski usianya memasuki 77 tahun, gerakan lelaki berperawakan mungil ini masih tetap energik. Gaya bicaranya seperti Pak Habibie yang selama ini saya lihat di TV, cepat, langsung ke poin, dan tidak banyak basa-basi.

Tapi usia memang tidak dapat dibohongi. Menjumpai Pak Habibie saat itu tetap saja saya melihat seorang lelaki yang telah melewati masa jayanya. Ada rasa lelah dari gerak tubuhnya. Meski dia berusaha terus memompa semangat, tampaknya Habibie yang saya temui sore itu adalah seorang lelaki yang sadar, bahwa sebagai manusia dia sudah memasuki masa-masa istirahat. "Saya lebih suka dipanggil eyang," ujarnya kepada kami. Sebuah refleksi kesadaran tentang usinya yang menuju sepuh.

Kami duduk mengitari meja panjang di ruang perpustakaan tersebut. Obrolan mengalir. Muai dari kondisi rupiah sampai suasana masyarakat Indonesia. Juga sedikit soal teknologi pesawat. Dia bicara dengan gayanya. Tapi tetap saja, saya merasa energinya sudah tidak seperti Habibhie yang dulu. Cahaya pada matanya tidak berbinar terang.

Obrolan kami kemudian menyerempet mengenai Bu Ainun. Mulai dari buku "Habibier & Ainun' yang ditulisnya sampai film yang menguras air mata itu. Saat itulah saya merasakan energi yang berbeda dari Pak Habibie. Sinar matanya tiba-tiba menyala cerah. Senyumnya melebar. Bahasa deras seperti air. Dan gerak tubuhnya lebih bersemangat. Ini seperti lelaki yang sedikit berbeda dibanding beberapa menit yang lalu.

Setiap kali menyebut nama Bu Ainun, entah kenapa saya merasakan ada getaran yang luar biasa dari tekanan suaranya. Setiap kali bercerita tentang masa-masa indah bersama Bu Aiunun saya merasa kisah itu disampaikan dengan kekaguman yang tidak pernah habis. Kekaguman seorang Habibie terhadap istrinya.

Bagi Anda yang pernah membaca buku 'Habibie dan Ainun' atau pernah menyaksikan filmnya, mungkin akan merasakan getaran yang sama. Buku dan film itu, melulu berisi ekspresi cinta seorang lelaki, seoran jenius teknologi pada jamannya, seorang mantan pejabat tinggi negara, dan seorang mantan presiden Indonesia terhadap sosok wanita yang selama 48 tahun mendampingi hidupnya. Tapi begitu mendengar tuturan Pak Habibie secara langsung, getaran itu jelas lebih terasa. Menceritakan kenangan tentang Bu Ainun, saya mendapat kesan bahwa Habibie adalah seorang pecinta sejati. Bahkan hanya dengan menyebut nama Bu Ainun saja energi lelaki itu seperti tumbuh kembali.

Sejak dulu saya kagum dengan Pak Habibie karena kejeniusannya. Bahkan Iwan Fals mengabadikan kecerdasan seorang Habibie dalam lagu Oemar Bakrie. Sebagai ilmuan Habibie sudah berada pada level puncak. Karyanya sampai sekarang tetap menjadi tonggak pengembangan teknologi pesawat terbang.

Saya juga kagum padanya karena berhasil mencapai karir tertinggi dalam politik, sebagai Presiden RI. Tapi sore itu, saya mengagumi Habibie sebagai lelaki. Sejak perjumpaan dengan Bu Ainun puluhan tahun lalu, sampai sekarang --setelah beberapa tahun istrinya wafat-- dia tetap berhasil memelihara api cintanya. Saat menyebut nama Ainun, atau menceritakan penggalan kisah romantisnya, Habibie seperti tenggelam dalam kegagumannya pada sosok mendiang istrinya itu. Sebuah energi cinta seorang lelaki terhadap seorang perempuan.

"Saya sudah 77 tahun. Entah berapa lama lagi saya bisa bertemu ibu Ainun," begitu ucapnya. Enteng. Mungkin diucapkan dengan perasaan rindu yang menggelora...

Tampaknya untuk urusan mencintai pasangan dengan hati yang penuh dan terus hidup --bahkan saat sang istri telah lama wafat-- bisa dikatakan Pak Habibie adalah salah satu juaranya...
Load disqus comments

0 komentar