Jumat, 12 Agustus 2016

PARPOL DULU, PARPOL UPDATE

Kenapa Nasdem buru-buru mendukung Ahok, meskipun jika nantinya Ahok maju via jalur independen? Karena mereka sadar jaman sudah berubah.

Dulu partai sok dibutuhkan sehingga calon kepala daerah mesti bayar mahar agar dapat tiket Pilkada. Ini sudah jadi rahasia umum, dan rakyat makin muak dengan politik transaksional.

Kalau dilihat dari survei, kepercayaan rakyat pada parpol makin menipis. Nah, kalau parpol masih geer mau gaya-gayaan sendiri, mereka akan ditinggal rakyat.

Bagaimana agar kepercayaan rakyat meningkat? Partai perlu terobosan. Salah satunya berani mencalonkan orang yang punya integritas. Ini akan berdampak positif buat mereka, berupa meningkatnya kepercayaan publik.

Tampaknya Megawati menyadari kondisi ini, makanya PDIP banyak mencalonkan orang yang punya integritas untuk maju. Logika politik transaksional pelan-pelan disingkirkan. Kepala daerah yang punya prestasi dan nama baik inilah yang nantinya akan memanen suara dalam pileg.

Lihat saja Risma dan Jokowi yang menjadi salah satu pengail suara buat PDIP. Sebelumnya mungkin mereka tidak dikenal sebagai aktifis partai. Dalam konteks ini partai yang butuh orang berprestasi dan berintegritas untuk dicalonkan, bukan sebaliknya malah minta duit pada mereka.

Nah, Nasdem juga ingin mengail simpati lewat Ahok. Sebagai pendatang baru Nasdem perlu mengangkat citra di mata publik. Sedangkan partai-partai lain masih memakai pola lama, membuat permainan untuk meningkatkan daya tawar.

Kalau PKB nyebut Ahmad Dhani sebagai calon, itu belum tentu beneran mau dicalonkan. Cuma strategi agar PKB juga dihitung dalam momentum Pilkada. Demikian juga jika PAN nyebut nama Eko Patrio dan Desi Ratnasari. Atau PKS yang menyodor-nyodorkan kadernya.

Berbeda dengan PPP yang nyebut nama Lulung. Pasalnya Lulung memang ketua PPP DKI. Jadi hak dia untuk menyebut namanya sendiri.

Yang agak serius mungkin Gerindra. Karena sakit hati, baginya yang penting asal bukan Ahok. Tapi akhirnya Gerindra beresiko terjebak dengan pola lama, merasa partai lebih hebat dari calon.

Mestinya Gerindra gak perlu pakai model seperti konvensi-konvensian dengan melempar nama-nama ke publik. Tentukan saja calon yang dianggap berkualitas, berintegritas dan punya rekam jejak bagus. Tentu faktor popularitas juga perlu dipertimbangkan. Selebihnya partai dan calon bekerja keras untuk menaikan elektabilitas. Jadi kesan politik transaksional dapat dikurangi.

Langkah menyatakan dukungan untuk Ahok, Nasdem memang berharap mendapat panggung politik yang bagus. Sebuah langkah cerdik untuk mengidentifikasi partai tersebut dengan sosok Ahok yang dianggap punya reputasi baik.

Bukan tidak mungkin dukungan Nasdem diikuti oleh partai lain seperti PDIP dan Hanura. Yang akan menarik jika sokongan PDIP tidak berubah meskipun Ahok akhirnya maju via jalur perseorangan. Padahal kursi PDIP cukup untuk mengusung sendiri calonnya.

Jika itu yang terjadi, kita akan melihat pertarungan dua cara berfikir parpol : partai model lama dan partai dengan paradigma baru.
Load disqus comments

0 komentar