Rabu, 31 Agustus 2016

PEREMPUAN SENDU DI LAYAR TV

"Diam-diam aku mencintanya," kata temanku. Sejak kasus pembuhunan seorang perempuan dengan racun siandina di gelas kopinya mencuat, dia memang tidak pernah absen mengikuti beritanya. Apalagi ketika persidangannya di gelar live di televisi. Matanya cuma fokus menatap wajah seorang tersangka. Seorang perempuan dengan tatapan misterius.

"Wajahnya teduh. Tatapannya penuh misteri. Yang saya suka ketika dia memainkan matanya sambil mendengarkan kesaksian para ahli. Dia seperti sadar sedang jadi objek yang ditelanjangi. Tapi dia begitu tenang, seperti air danau tanpa riak," katanya lagi. Saya mendengarkan ocehannya malam itu. Secangkir double expresso hampir tandas diiringi suara Michael Franks mengalun lembut di kafe itu.

...And the Lady wants to know
She wants to know the reason
Got to know the reason why...

"Kini ada satu yang saya takutkan, persidangan itu cepat selesai. Apapun hasilnya, saya tidak akan dapat menikmati lagi wajahnya di layar TV."

Saya tidak tahu, adakah cinta jadi begitu misterius. Kenapa orang seperti teman saya ini bisa jatuh hati pada sosok yang jauh. Sosok yang hanya dilihatnya dari layar TV. Lagipula ini adalah seorang tersangka pembunuhan sadis. Jaksa menuduhnya dengan pembunuhan berencana. Hukumannya bisa seumur hidup.

"Dia tersangka pembunuhan, kan?," kataku.

"Siapapun bisa jadi tersangka. Mungkin dia ada di satu tempat dan waktu yang tidak tepat. Dengan segala teori perilaku dari para pakar itu, dengan segudang analisis dan asumsi dari para ahli, akhirnya semua orang bisa menarik-narik kesimpulannya sendiri."

...But what she doesn't know
Is there really is no reason
There really is no reason why...

"Aku sudah berkirim surat lewat kantor pengacaranya. Aku ingin membesuknya di tahanan. Aku harap pengacaranya mau memberikan suratku kepadanya. Agar dia tahu, di tengah cemoohan orang yang menganggap dia sebagai pembunuh, ada lelaki yang tulus mengaguminya. Benar-benar tulus..."

Saya sungguh tidak menyangka, ternyata dijaman ini masih ada orang yang melankolis seperti itu. Entah apa yang terjadi dengan teman saya itu.

Seminggu kemudian dia mendapat telepon dari kantor pengacara. Katanya ada balasan surat yang ditulis tangan sendiri oleh perempuan idamannya itu.

"Terimakasih atas atensi kamu. Ini sungguh berarti buatku, apalagi dalam kondisi sekarang. Sayangnya, kamu belum bisa menjengukku di tahanan. Doakan, agar aku segera bebas. Setelah itu kita bisa ngobrol sambil ngopi. Kamu suka Vietnam Coffee, gak?"
Load disqus comments

0 komentar