Jumat, 12 Agustus 2016

PERLAWANAN FAHRI

Ini adalah tradisi baru yang terjadi di PKS. Partai ini biasanya tertib. Maksudnya, tradisi internalnya berjalan adem. Bisa dikatakan hampir tidak pernah terdengar gejolak internal perebutan kekuasaan di tubuh partai dakwah ini.

Keberhasilan meredam konflik kekuasaan di internal PKS selama ini, sebetulnya berhasil memberi image positif. Orang-orang di dalamnya seolah mengikuti adagium, bahwa jabatan itu adalah amanah dan bukan untuk diperebutkan. Juga menjaga tradisi bahwa sistem komando di partai ini berjalan baik.

Meskipun, kita tahu, konflik besar juga tidak lepas dari partai ini. Mantan Menkue Sri Mulyani, misalnya pernah berkomentar, ada faksi keadilan dan faksi sejahtera di PKS. Terbukti dengan terpentalnya Ustad Yusuf Supendi, salah satu tokoh utama partai ini.

Kini Fahri Hamzah tampaknya mulai membuka tradisi perlawanan di internal partai. Desakan mundur kepada Fahri dari jabatan publiknya direspon dengan membuka persoalan ke media. Kini kita bisa menikmati romansa saling tuding dan saling cakar di PKS, mirip yang terjadi di partai-partai lain.

Desakan ini bermula dari kesadaran PKS untuk mengubah image partai yang terlanjur dicap sebagai partai nyinyir dan tukang fitnah. Sepak terjang situs PKSpiyungan dan Jonru, misalnya, menjadi salah satu indikasinya. Tapi karena keduanya tidak terkait secara langsung dengan struktur partai, DPP tidak bisa berbuat banyak.

Bukan hanya mengubah image, PKS juga sedang getol mendekati Presiden Jokowi untuk minta dicatatkan sebagai partai yang tidak melulu dicap berseberangan. Syukur-syukur bisa ikut menikmati kue kekuasaan.

Dalam pencapaian target besarnya itu, Fahri Hamzah dianggap sebagai batu sandungan. Meskipun tidak lagi masuk dalam jajaran DPP, tapi posisinya sebagai wakil ketua DPR mau tidak mau dipersepsikan publik mewakili kebijakan PKS. Komentarnya ya g sering nyinyir kepada pemerintahan Jokowi dianggap mengurangu jilatan lidah PKS ke Jokowi.

Yang paling parah adalah pembelaannya yang luar biasa pada Setya Novanto.

Apa yang dilakukan Fahri dengan membawa isu internal ke luar, adalah tradisi bagus. Publik bisa memahami bahwa PKS sejatinya adalah sebuah partai dan bukan lembaga agama. Yang namanya partai, kekuasaan tetaplah menjadi tujuan utamanya, baik sebagai organisasi maupun individu di dalamnya.

PKS tentu berbeda dengan lembaga agama yang tujuannya untuk memperbaiki perilaku dan ahlak. Dengan kata lain, memilih atau menolak PKS tidak ada hubungannya dengan doktrin agama. Tidak ada hubungannya dengan surga dan neraka.

Sama seperti ketika kita menolak dan memilih Golkar atau PKI. Itu hanya pilihan politik. Sedangkan soal agama berjalan di jalur yang lain lagi.

Perlawanan Fahri membuka mata kita bahwa di Indonesia agama memang semestinya terpisah dari politik. Ketika dicapuradukan yang terjadi cuma manipulasi politik atas nama agama.
Load disqus comments

0 komentar