Senin, 15 Agustus 2016

PUTRIKU TIDAK TERLIBAT KUDETA DI TURKI


Erdogan memang keterlaluan. Setelah penutup ribuan sekolah di Turki, memecat puluhan ribu guru dan dosen, kini dia mengirim permintaan agar pemerintah Indonesia menutup sekolah yang terafiliasi dengan lembaga Pasiad. Pasiad memang salah satu lembaga pendidikan dengan jaringan dunia, yang diprakarsai Fethulah Gulen.

Padahal di Indonesia sekolah bilingual itu menggunakan kurikulum Indonesia. Mengajarkan pendidikan kewarganegaraan Indonesia. Dengan guru sebagian besar orang Indonesia. Jadi tidak ada hubungannya dengan urusan Kudeta di Turki. Tidak ada hubunga dengan kekuasaan Erdogan.

Putri saya bersekolah di Pribadi Bilingual Boarding School, Depok, salah satu lembaga pendidikan jaringan Pasiad. Saya yakin, mana mungkin mahluk manis dan mungil itu mau ikut-ikutan kudeta di Turki. Sepulang sekolah biasanya dia tidur siang, main game di HP, berkuntal dengan bonekanya. Atau paling banter les menari. Dia gak punya waktu untuk ngurus politik Turki. Wong, tidur aja masih minta didongengin kok.

Cerita yang paling disuka tentang mahluk planet yang bisa menembus masa depan. Saat saya ingin cerita soal Jonru --mahluk lucu simpatisan PKS-- dia malah menolak. "Aku gak suka dengan cowok jenggotan," begitu katanya. Nah, kalau kisah soal Jonru saja dia malas mendengarkan, apalagi jika saya bercerita mengenai politik di Turki.

Makanya saya kaget ketika kedutaan Turki secara resmi meminta pemerintah Indonesia menutup sekolah-sekolah itu. Mentang-mentang di Indonesia banyak fansboy Erdogan, lalu Turki merasa punya wewenang mau mengatur-atur Indonesia, gitu? Bagi saya itu keterlakuan.

Sekolah itu berada di Indonesia. Siswanya anak-anak Indonesia. Kalau Erdogan parno karena kekuasaan terganggu, itu derita dia sendiri. Tapi meminta menutup sekolah di Indonesia hanya karena takut kursinya goyah, itu bukan paranoid lagi namanya. Itu kesurupan.

Bukan karena putriku sekolah disitu, saya berharap pemerintah Indonesia tidak mengubris permintaan aneh kedutaan Turki tersebut. Bagi saya, permintaan itu sama saja dengan intervensi pihak asing atas kewenangan Indonesia. Tidak ada lembaga pendidikan di Indonesia bisa ditutup begitu saja, selain lewat pengadilan. Kalau Turki bisa sewenang-wenang menutup ribuan sekolahnya, jangan samakan dengan Indonesia. Ini negeri beradab, Gan!

Tapi mungkin kasus ini jadi pelajaran baik bagi putriku. Setidaknya saya bisa menyelipkan nasihat di tengah dongeng sebekum tidur :

Ingat, saat ini ada jenis manusia Turki yang digadang-gadang sebagai khalifah oleh pasukan sapi bongkrek, hendak merusak sekolahmu. Mereka menuduh kamu dan teman-temanmu berbahaya bagi kekuasaanya. Lawanlah sekuat tenagamu. Sebab itu sekolahmu. Tempat kamu bermain dan belajar. Ini juga negaramu, tempat kamu hidup dan berkarya. Jangam biarkan orang dari negeri yang jauh, meskipun ngaku-ngaku khalifah, mengacau di sekolahmu.

Tidak perlu memukul atau menjambak jika bertemu orang seperti itu. Cukup kamu dan kawan-kawanmu berbaris menjulur-julurkan lidah, dengan kedua tangan melambai di telinga. Arahkan itu ke wajahnya. Dari jauh saja. Itu sudah cukup sebagai tanda perlawananmu.

Nah, jika engkau besar nanti jangan pernah memberikan ruang pada orang-orang seperti itu berkuasa di negerimu. Mereka tidak pernah peduli dengan peradaban. Yang dipedulikan cuma kekuasaan belaka.

Mereka membawa nama Tuhan kemana-mana. Padahal yang digendong di punggungnya cuma hasrat politik. Jika berkuasa mereka akan memberangus siapapun pengkritiknya. Meniru Erdogan, junjungannya. Jika belum berkuasa, mereka suka menyerang orang dengan fitnah keji. Kata Quran, seperti gemar mengunyah bangkai saudaranya sendiri.

Aku, ayahmu, menyaksikannya setiap hari.

Camkanlah itu, cintaku.
Load disqus comments

0 komentar