Jumat, 12 Agustus 2016

RAMBUT



"Jangan sampai terlihat rambutmu. Rambut adalah aurat perempuan," begitu nasihat bu guru kelas empat.

"Meskipun di luar sholat?"

"Iya. Di manapun. Perempuan harus menyembunyikan rambutnya. Itu wajib hukumnya."

"Jika masih terlhat, bu?"

"Balasannya neraka. Rambut dan kulit kepalamu akan digarang di atas api. Panasnya bisa mendidihkan otak manusia."

Puteriku memang bergaya tomboy. Geraknya lincah seperti bola bekel. Itulah yang membuat jilbabnya ---seragam resmi sekolah-- sering terlihat awut-awutan.

Tapi kini keriangan seperti memudar dari wajahnya.

Sore hari itu dia lama sekali di kamar mandi. Entah apa yang dilakukannya.

Selesai mandi dia langsung mendatangiku. Aku masih memegang buku. Dia memakai kimono dan kepalanya terbungkus handuk, seperti habis keramas.

"Ayah aku takut dengan api neraka," katanya. "Tapi aku juga ingin tetap bisa main basket." Entah kenapa aku merasa wajahhya jadi lebih ceria. Mungkin karena habis mandi, pikirku.

Lalu dia membuka handuk yang melilit kepalanya.

Aku tertegun memandangi kepalanya yang kini plontos...
Load disqus comments

0 komentar