Jumat, 12 Agustus 2016

SEBUAH PERTANYAAN CINTA

"Kamu masih cinta aku, kan?," perempuan itu bicara. Dia cuma ingin jawaban dari lelaki yang berbaring di sebelahnya. Walau cuma anggukan kepala. Itu sudah membuatnya senang. Tapi lelaki itu diam saja.

"Mas, tolong. Aku butuh jawabanmu kali ini. Kamu masih cinta aku, kan?," suaranya sedikit meninggi. Mungkin itu pertanyaan ke seratus yang disampaikannya.

Sejak dua hari lalu, dia selalu melontarkan pertanyaan yang sama. Pertanyaan pada lelaki yang berbaring di tempat yang sama. Tapi tidak pernah ada jawaban.

Dia seperti bicara dengan tembok. Lelaki itu tetap saja membisu. Bahkan bergerakpun tidak. Tubuhnya kaku, seperti batang pisang.

"Jadi kamu mau terus diam begitu. Tidak sudi lagi menjawab pertanyaanku? Apakah kamu sudah tuli?"
Apapun yang dikatakan, tidak membuat lelaki itu bereaksi. Dia diam di tempatnya. Tenang.

"Ya, sudah, kalau mas gak mau lagi bicara denganku," perempuan itu beranjak bangun dari ranjang. Tangannya belepotan darah yang mengering. Rambutnya awutawutan. Dia meraih ponselnya. Menghubungi seseorang.

"Hallo. Hallo. Ini ambulans, ya. Bisa minta tolong, pak. Saya butuh ambulans. Iya, malam ini juga. Suami saya meninggal. Dia kecelakaan. Iya, kecelakaan di rumah pak, 2 hari yang lalu kejadiannya... Hmmm, anu. Alat vitalnya terpotong gunting. Iya putus. Sampai putus alat vitalnya, pak. Iya pak, kirim cepat ambulansnya ya. Makasih pak."
Load disqus comments

0 komentar