Senin, 15 Agustus 2016

SENJA DI JAKARTA

"Akok sih bagus kerjanya. Pelayanan publik Jakarta jauh lebih keren, Kali bersih. Tapi dia kristen," kata teman saya. Saya cuma senyum-senyum. Hari ini saya sedang tidak berminat berdebat tentang politik. Apalagi yang bawa-bawa agama. Bagi saya, senja yang luruh di Jakarta jauh lebih menarik untuk diperbincangkan.

Semburat jingga menelusup diantara gedung, Entah kenapa, senja selalu saja membuat saya seperti berada di alam lain. Inilah momen yang paling saya sukai setiap harinya.

"Kalau Ahok mau dipilih, dia harus masuk Islam dulu," katanya ngotot. Saya tterus saja memandangi senja. Suara knalpot kendaraan semakin ramai. Tapi senja itu tetap saja indah. Bertengger tenang di langit Jakarta.

"Ane gak mungkin milih dia. Itu bertentangan dengan keyakinan ane. Ini soal prinsip, bro. Gak bisa dikompromiin," dia terus bicara. "Ente juga harus punya prinsip. Jangan menclak-menclok kayak celepuk."

"Seandainya sepanjang waktu adalah senja, mungkin hidup akan selalu menyenangkan," kataku dalam hati. Saya membayangkan senja di sebuah pelabuhan kecil, seperti dilukiskan Chairil Anwar dalam puisinya. Dengan tiang-tiang perahu dan kepak camar. Bersama gerimis yang mempercepat kelam.

"Bro, kalau bukan kita yang menegakkan aturan agama, lalu siapa lagi?" Dia menyalakan sebatang rokok. Saya juga.

Ketika menciptakan senja, mungkin saat itu Tuhan sedang tersenyum. Makanya Agus Noor berkali-kali terpukau dengan senja. Juga Seno, yang lancang menggunting senja sebesar kartu pos untuk dikirimkan pada pacarnya.

"Ahok memang bagus sebagai Gubernur. Hasil kerjanya keliatan. Dirasain rakyat. Tapi dia kristen. Kalau mau dipilih, dia harus masuk Islam dulu. Ane udah SMS ke dia, nyuruh masuk Islam. Anggap aja ane lagi dakwah sama dia. Barangkali aja dia dapat hidayah."

"Kalau dia gak mau masuk Islam, gimana?"

"Kalau dia gak mau, ya terpaksa..."

"Terpaksa gak milih Ahok?"

"Terpaksa, gue yang masuk kristen!" tawanya pecah. Dia seperti menertawakan leluconnya sendiri. Suaranya mengalahkan bunyi knalpot kendaraan yang tambah riuh.

Senjapun luruh. Adzan magrib mulai bersahutan di ujung senja itu...
Load disqus comments

0 komentar