Selasa, 09 Agustus 2016

SENYUM MERAH JAMBU

Janji meeting pagi-pagi memang selalu bikin ribet. Pagi adalah waktu semua orang keluar rumah untuk beraktifitas. Otomatis jalanan macet. Rasanya saya lebih sering menginjak rem ketimbang menggenjot gas kendaraan. Tapi, kita harus tetap bersyukur. Kata orang kecelakaan lalu-lintas disebabkan karena keterampilan kita menginjak rem jauh dibawah kemampuan kita menggenjot pedal gas. Untuk yang satu ini saya setuju. Makanya saya menikmati kemacetan sambil membayangkan kemacetan ini adalah latihan terus menerus untuk terhindar dari kecelakaan.

Untung saja pagi ini dibuka dengan senyum manis petugas tol --suatu keindahan yang jarang saya dapatkan. Saya tahu tugas mereka memang hanya membagikan selembar kartu pada setiap pengendara. Tidak ada interaksi lebih dari itu. Saya yang setiap pagi melewatinya, juga hanya seorang dari ribuan pengendara lainnya. Yang dibutuhkan hanya kartu tol itu pindah dari tangannya ke tangan saya.  Tapi, tidak salah kan, jika saya berharap mendapat lebih? Baerharap mendapat senyuman untuk membuka aktifitas setiap pagi.

Saya sering membayangkan bagaimana rasanya bekerja di sebuah kotak kecil seukuran pos ronda. Duduk berjam-jam dengan suasana yang sama. Melakukan aktifitas yang monoton berulang-ulang. Sesekali dari ruang kecil itu terdengar suara ocehan penyiar radio yang berusaha membangkitkan semangat pendengarnya di pagi hari. Dengan humor yang sekena-kenanya. Dengan kuis berhadiah voucher makan. Atau dengan informasi yang dicuplik dari situs internet dan koran.

Pekerjaan itu sepertinya yang hanya memfungsikan satu tangan --menjulur ke keluar membagikan tiket tol. Diantara mereka mungkin ada yang lulusan sarjana atau diploma. Bagaimana teori-teori di bangku kuliah berguna untuk melancarkan pekerjaan membagikan kartu tol itu? Saya tidak tahu. Apakah tingkat pendidikan mereka juga berpengaruh pada kecapakan dalam membagikan kartu tol, saya juga tidak paham. Setiap pagi, saya hanya berharap mendapat senyuman dari mereka. Harapan mendapatkan senyum dari petugas tol di pagi hari, memang seperti menebak angka kupon berhadiah. Saya lebih sering gagal ketimbang berhasil. Tapi hal itu tidak menyurutkan saya untuk terus berharap.

Saya tahu, tidak gampang memberikan senyum, di tengah pekerjaan yang melulu repetitif dan membosankan itu. Sekali-dua kali mungkin mereka bisa tersenyum, tetapi melayani ribuan pengendara yang hanya berhenti sebentar untuk mengambil tiket tol, apa gunanya senyum itu? Toh, mereka bukan petugas marketing yang harus memasang muka ramah kepada calon pembeli. Tugas mereka hanya membagikan tiket tol, titik! Siapa pula yang peduli pada senyum mereka, kecuali saya. Bukan berarti saya meminta pelayanan yang lebih. Bukan itu intinya. Saya hanya suka melihat senyuman. Entah dari mana asalnya. Dan senyuman yang diberikan seorang petugas pintu tol, dipagi hari, tentu memiliki nilai lebih bagi saya. Setidaknya tetap mengingatkan saya, bahwa di sekeliling kita masih banyak keindahan terhampar, justru hanya dari hal-hal sepele dan ringan seperti itu.

Tapi, saya mungkin tidak bisa lagi dengan keasyikan seperti itu. Di berbagai pintu tol kini berdiri kotak-kotak ajaib yang dapat menyembulkan kartu tol kepada setiap pengendara yang lewat. Itu akan menggantikan peran para petugas tol tersebut. Artinya saya akan kehilangan harapan mendapat senyum manis petugasnya. Sebuah harapan yang selalu terbersit di kepala saya setiap pagi. Meski saya lebih sering gagal mendapatkannya --karena paling-paling hanya sekian detik saja berinteraksi-- tetapi selalu menjadi ritual yang saya nantikan. Sebuah kegiatan yang entah kenapa, jadi begitu mengasyikan.

Ah, nantinya saya hanya akan mendapati wajah plat besi yang dingin. Tanpa senyum. Tanpa seringai. Siapakah yang akan membuka senyum dipagi hari, di tengah suara klakson yang menyalak? Dan para pengemudi, yang awalnya meninggalkan rumah dengan senyum –mungkin didahului mencium kening istri atau anaknya-- kini menjadi sedikit beringas menyodok kanan-kiri?

Syukurlah matahari begitu indahnya pagi ini..
Load disqus comments

0 komentar