Rabu, 17 Agustus 2016

SIDANG JESSICA

Seluruh Indonesia sedang diajak main detektif-detektifan, saat TV bolak balik menayangkan siaran langsung sidang pembunuha Mirna.

Orang ikut menganalisa perilaku Jesica. Bagaimana gerakan tangannya. Apa motif menaruh paperbag di atas meja. Kenapa dia garuk-garuk tangannya melulu.

Juga mengaitkan berbagai informasi terserak, misalnya berupa celana Jesica yang dibuang pembantu karena robek. Orang bisa mengaitkan robeknya celana itu karena korosif akibat sianida. Sayang polisi tidak menemukan celana itu.

Yang paling membuat penasaran, adalah wajah tanpa ekspresi Jesica. Wajah yang mengesankan bahwa soal kematian temannya itu adalah soal biasa. Tidak perlu panik berlebihan.

Mungkin jika diberi kesempatan, orang model Jesica ini masih bisa memberi nasehat, justru disaat dia sedang berada di sidang pengadilan pembunuhan. Dia bisa saja tampil seperti orang suci.

Kita tidak tahu ujung cerita ini. Palu hakim nanti bisa saja menjawabnya. Tapi jika penjahatnya adalah Jesica, meski dia lolos dari hukuman karena kecangihan sandiwaranya ada hukum yang lebih tinggi yang berlaku bagi setiap perilaku manusia. Belagak suci tidak lantas membuat seseorang jadi suci.

Kita akan saksikan nanti apakah Jesica ini adalah pembunuh Mirna atau bukan.Jika benar dia adalah pembunuhnya, ketenangannya justru menjadikan dia masuk kategori berdarah dingin. Dia menyaksikan kematian korbannya. Menikmati hasil kerjanya dengan santai.

Atau dia sebetulnya cuma orang baik yang begitu tenang menghadapi masalah. Dia cuma ada dalam situasi dan kondisi yang tidak tepat. Plus tayangan-tanyan TV, berita dan asumsi publik yang sudah terlanjur menudingnya. Artinya jika ini yang terjadi Jesica sendiri adalah korban.


Ingat, seseorang bisa menipu satu orang, sepuluh, seratus, seribu orang lain. Tapi dia tidak mungkin bisa  menipu seluruh dunia. Dia juga tidak akan mampu menipu dirinya sendiri.

Beberapa kali saya sempat nonton persidangan via TV. Saya lebih suka memperhatikan Jesica. Bukan karena ingin menganalisa perilakunya. Bukan itu tujuan saya. Saya cuma melihat, eh, Jesica itu manis juga. Senyum dan tatapan matanya selalu penuh misteri.

Ketika dia bicara, kemampuannya menyusun argumen dengan logika yang kuat menunjukan tingkat kecerdasannya. Bahkan berkali-kali dia aktif memberi masukan kepada pengacara senior. Meskipun dia objek yang disidangkan, ekspresinya itu luar biasa datar dan tenang. Perhatiannya fokus pada keterangan saksi dan jalannya bersidangan. Dia seperti tahu, wajahnya sedang disorot kamera. Itu yang saya nikmati dari siaran langsung sidang Jesica.

Sementara pelajaran bagi para detektif dadakan : seringkali orang terdekatmu justru bisa membunuhmu dengan cara yang dingin.
Load disqus comments

2 komentar