Selasa, 09 Agustus 2016

SURATI

Surati adalah legenda perlawanan yang diam. Dia salah satu tokoh dalam novel tetralogi Pulau Buru karangan Pramudya Ananta Toer. Dengan setting ketika kekuasaan ekonomi kolonial menyatu dengan keserakahan penguasa lokal. Ayah Surati, Paiman alias Satrowongso alias Sastro Kassier menjabat sebagai juru bayar di sebuah pabrik gula di daerah Tulangan, Jawa Tengah. Pejabat tertinggi pabrik gula itu bernama Frits Homerus Vlekkenbaaij alias Plikemboh, seorang Belanda totok yang serakah dan memandang rakyat di tanah Jawa sebagai sapi perahan.

Plikemboh bukan hanya menghisap kehidupan ekonomi rakyat, dia juga merasa punya hak atas semua orang. Dengan kekuasaannya, Plikemboh meminta Surati pada Sastro Kassier. Dia ingin menjadikan Surati sebagai nyai, sebagai gundik, sebagai partner saat birahi. Plikemboh akan memposisikan Surati hanya sebagai boneka penyalur hasrat. Sastro Kassier tahu permintaan ini lebih mirip perintah. Taruhannya adalah jabatannya, sumber pemasukan ekonominya, bahkan juga mungkin kelangsungan hidupnya.

Dengan berat hati disampaikanlah niat itu pada anaknya. Surati hanya diam, seperti gadis Jawa pada umumnya. Tapi semua tahu gadis ini menolak. Selain sebagai gadis Jawa yang lemah, Surati adalah seorang manusia. Mahluk yang diciptakan Tuhan memiliki rasa, harapan, dan harga diri. Mungkin dia terbiasa melihat keserakahan kolonial, menghisap ekonomi dan merendahkan derajat sosial masyarakat. Dan kini yang ingin dirampas adalah tubuhnya, harga dirinya, juga nilainya sebagai perempuan. Yang ingin dirampas adalah bagian terpenting, sesuatu yang membuat dia tetap merasa sebagai manusia.

Tapi Surati hanya seorang anak. Dalam ekosistem kekuasaan pabrik gula di Jawa pada jaman itu, dia menempati posisi paling bawah. Surati adalah rakyat biasa, anak dari seorang juru bayar lokal, dan perempuan! Berhadapan dengan kekuasaan Tuan Besar Kuasa Administratur, dia seperti membenturkan kepalanya ditembok tebal.

Malam itu, sehari sebelum diserahkan kepada Plikemboh, gadis Jawa itu memohon kepada ayahnya untuk pergi sendirian. Dia berjalan menusuri kegelapan malam. Dia tiba di sebuah perkampungan. Suram tanpa kehidupan. Surati memasuki kampung itu. Dia tahu pemerintah kolonial mengisolir dusun itu karena wabah cacar yang mendera. Di jaman itu cacar adalah bencana. Sementara obat dan alat kesehatan adalah kemewahan. Langkah yang diambil pemerintah kolonial adalah, menutup kampung itu, membiarkan penduduknya tumpas dan mati pelan-pelan lalu untuk membatasi menyebarnya wabah, mereka akan membakar kampung beserta seluruh isinya. Semua penduduk yang sudah mati ataupun setengah hidup, akan dimusnahkah seperti tikus!

Berjalan menusuri kegelapan, Surati mendapati sebuah gubuk. Di dalamnya tergeletak mayat lelaki dan perempuan dengan kondisi pengenaskan. Kemiskinan dan cacar telah menyiksa mereka. Di samping mayat perempuan, ada seorang bayi yang tergolek lemah. Masih hidup, dengan nafas satu-satu dan suhu tubuh tinggi. Malam itu, Surati menggendong bayi itu, mendekapnya sambil menyenandungkan tembang. Dia memeluknya dengan tangisan tertahan. Bayi itu mati di pangkuan Surati.

Esoknya Surati kembali ke kampungnya. Dari suhu tubuhnya cacar telah merasuki sel-sel darahnya. Sastro Kassier kemudian menyerahkan anak gadisnya itu ke rumah Plikemboh. Kita tahu kejadian selanjutnya. Surati bukan hanya menjadi teman birahi lelaki Belanda itu. Pada saat yang bersamaan, dia juga menempelkan virus cacar. Plikemboh mati. Sementara Surati berhasil diselamatkan meski harus hidup dengan wajah penuh bopeng dan sempal. Namun, jauh di dalam dirinya, Surati sadar, dia telah menyelamatkan hidupnya agar tetap menjadi manusia.

Di jaman yang lain kita menyaksikan banyak Surati modern. Perempuan-perempuan yang dijual ke luar negeri, dipekerjakan sebagai wanita penghibur. Sebagian mereka pasrah, sebagian menikmati. Tapi ada sebagian yang seperti Surati. Melawan, meski pada akhirnya kalah...

Surati adalah legenda perlawanan yang diam. Perlawanan seorang perempuan!
Load disqus comments

0 komentar