Senin, 29 Agustus 2016

TAMU NUMPANG JOGET

Pagi ini adalah waktunya Mansyur S. Lagu Air Tuba sengaja saya  putar sedikit keras. Lumayan untuk mengaliri semangat di waktu libur.

Tiba-tiba ada suara orang teriak di luar. "Lamlekum...."

Saya beranjak. Seorang lelaki berdiri di balik pagar halaman. Wajahnya bersih. Dia masih menggenakan jaket, motornya diparkr tidak jauh.

"Kum salam...." Mungkin dia sedang cari alamat, pikirku. Atau sales produk yang ingin nawarkan sesuatu. Tapi matanya terlihat begitu berbinar.

"Maaf, ji. Tadi ane kebetulan lewat. Terus denger Mansyur S. Boleh numpang joget?"

Saya kaget dengan permintaanya. "Ohh, silahkan pak." Saya bermaksud membuka pagar halaman.

"Gak usah di dalam. Disini aja. Di bawah pohon jambu," jawabnya. Tanpa menunggu lama, diapun bergoyang menikmati lagu Air Tuba. Saya kembali masuk ke dalam. Meski ada rasa penasaran ingin melihat goyangan lelaki itu.

Saya cuma berani mengintip dari balik pintu yang dibiarkan terbuka. Sungguh. Ini adalah joget paling penuh penghayatan yang pernah saya saksikan. Jempolnya. Goyangan pinggulnya di bawah pohon jambu itu. Juga wajahnya yang setengah merem, setengah melek. 


Lelaki berjaket itu bergerak ritmis. Menyesuaikan dengan irama Mansyur S yang mendayu-dayu. Dangdut, di jaman Mansyur S. adalah sebuah rintihan kaum pinggiran. Pilihan syairnya selalu memgenai manusia yang tersisih, yang berada di pinggiran sejarah. 

Sehabis Air Tuba, Mansyur S melanjutkan dengan Jubaidah. Jubaidahhhhh....aaaaaa, sayangku. Sesaat jeda lagu, dia menghapus peluh di dahinya. Ada senyum tipis di wajahnya.

Tuntas dua lagu, diapun pamit. "Terimakasih ya, ji. Ane terusin jalan lagi." Dia menyalakan motornya, dan menghilang di tikungan. Bahagia memang sangat sederhana, kataku dalam hati.

Saya buru-buru beranjak. Mengganti Mansyur S dengan Evi Tamala. Mengunci pintu. "Ini lebih cocok," bathin saya.

Dan sayapun bergoyang sendiri ditemani lagu Aku Rindu Padamu dari Evi Tamala. Kali ini versi akustik..
Load disqus comments

0 komentar