Jumat, 05 Agustus 2016

TEMAN YANG MENCINTAI KUNTILANAK


"Mencintai adalah hak semua orang. Apa sudah hilang kebebasan di negara ini, jika mencintai saja perlu diatur-atur?," katanya menjelaskan. Saya diam. Bingung.

"Tapi, kamu mencintai kuntilanak. Itu aneh," jawab saya.

"Apa salahnya mencintai kuntilanak," timpalnya lagi. "Toh, tidak ada orang yang aku sakiti. Katanya cinta universal. Masa dibatas-batasi begitu sih..."

"Iya. Tapi ini kuntilanak. Beda dong," ujar saya tidak mau kalah.

"Kamu tahu, cinta tidak memandang status sosial. Tidak memandang ras. Tidak membedakan asal-usul."

"Tidak membedakan juga antara manusia dan dedemit?"

"Yups. Itulah universalitas cinta."

Sejak saat itu, setiap sabtu malam teman saya menenggak ciu. Kira-kira menjelang tengah malam dia berjalan sempoyongan menuju pohon jamblang. Di bawah pohon itulah, dia tertidur sampai pagi. Katanya, saat tertidur di bawah pengaruh ciu, dia merasakan pacarnya hadir. Membelai wajahnya. Menaburinya dengan cinta. Dia tergila-gila dengan Kuntilanak.

"Rupanya kamu serius dengan kuntilanak itu?" tanya saya suatu hari. Soalnya frekuensi dia tidur di bawah pohon jamblang makin lama makin sering. Rupanya cinta sudah membutakan hatinya.

"Iya. Mungkin dia sudah jodohku," jawabnya ringan. Teman saya memang jomblo awet. Usianya hampir kepala empat, tapi hidupnya masih lontang-lantung sendirian.

"Kamu ada rencana menikah?." tentu aku penasaran, sampai dimana ujung pencarian dia.

"Itulah yang aku pusing," wajahnya terlihat sendu. "Kedua orangtuaku tidak setuju aku menikah dengan dia."

"Ya, jelas gak setujulah. Dia kan, kuntilanak."

"Bukan itu masalahnya," jawabnya cepat. "Masalahnya, karena kami beda agama."
Load disqus comments

0 komentar